Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label communication

"We don't feel that connected."

Dalam banyak hal yang dilakukan rutin, berkali-kali merasakan dorongan untuk memberikan yang terbaik dan paling tepat sesuai kondisi dan waktu yang ada. Dengan mempertimbangkan semua limitasi yang ada, memilih rangkaian tindakan yang diharapkan memberikan hasil paling optimal, lalu mengeksekusi setepatnya, dan kemudian bertanggung jawab atas apa pun hasilnya (atau dampak dari keputusan dan tindakan yang diambil. Setelah menjalankan dan mengalami langsung, seseorang sebaiknya belajar menerima bahwa setelah segala daya upaya terbaik yang dikerahkan, pihak yang satunya tidak akan menerima atau merasa berkebutuhan untuk mengapresiasi pada tingkatan yang diharapkan. "We don't feel that connected," katanya. Seperti itulah realitas. Kembali ke diri sendiri bagaimana menghadapi dan menyikapi respon seperti itu, yang jelas tidak diharapkan. Nah, apa yang kita katakan, lakukan, setelah menerima respons seperti itulah menentukan akan jadi apa hubungan yang ada kelak di kemudian hari...

Meluangkan Waktu Bersama Pasangan

aku harus mengoreksi keengganan meluangkan waktu bersama dengan pasangan biarpun hanya berupa aktivitas menemaninya berbelanja. memang melelahkan atau menjengkelkan berjalan melewati, melihat, lalu bisa saja balik lagi ke toko sebelumnya karena ada yang belum dibeli atau berubah pikiran. menyenangkan tiap melihat senyumannya atau tertawanya ketika menemukan sesuatu yang membuatnya senang. sinar matanya itu, membuatku ketagihan, ingin merekam dalam ingatan sebanyak mungkin, selama mungkin.

Pengakuan dan "Impostor Syndrome"

Seperti bersaing dengan mahluk gaib tak terlihat. Itulah yang kurasakan sebagai investor ritel kecil-kecilan dalam pasar saham Indonesia. Jadi memang tidak mudah untuk sambil belajar sambil praktek dalam skala kecil, namun dalam saat yang sama tetap harus melakukan pekerjaan biasa 9-to-5 (yang dalam hal di Indonesia menjadi 08:30-17:30 WIB). Jadi kalau ditanyakan soal analisis fundamental dan analisis teknikal, aku yakin kalau aku hanya bisa tersenyum dan tidak menjawab apa-apa karena memang seringnya justru otakku sudah terlalu lelah untuk berpikir dan mengingat teori apapun. Tentu saja ini berbahaya karena bila aku melakukan aksi pembelian atau penjualan saham padahal tidak melakukan analisis sebelumnya, hampir pasti aku hanya akan mendapatkan kerugian belaka. Sejujurnya, sudah pernah terjadi dan sepertinya akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Padahal orang-orang yang tidak tahu apa itu pasar saham Indonesia tetapi tahu aku melakukan aksi jual beli saham akan menganggap a...

Compound Interest, In Savings

A few days ago I wrote here about compound interest in studying,especially while doing self-study. The word I was looking for was right there: commitment. I lack the commitment to do everything I can to improve myself. I know this is a HUGE problem but I just can't do other thing that I really need. Now about compound interest, I'm sure you can easily find anything and everything about this topic in the internet, particularly related to economic and financial website, be it articles, blogs, vlog, books (e- or physical), etc. I have to help myself by burying my head + mind + energy + focus to this improvement plan. Read, study, execute, evaluate result, revise, repeat. Because after doing improvement steps needed, I would experience the compounding interest effect that I needed. So how about the saving money topic? Yes, it's easy to understand, provided you know your math.

Belajar Dari Yang Kualitas Biasa

Jadi seperti kebanyakan pemuda millenial yang berkeliaran di muka bumi Indonesia saat ini, aku juga belajar menikmati kopi. Terutama bila kopinya bersumber dari tanah air Nusantara. Karena aku cinta Indonesia, aku cinta Rupiah. Sebenarnya aku cinta uang, mau Rupiah, mau Dolar, mau Ringgit ataupun Riyal. Yang penting UANG. Melenceng sedikit, sekarang balik ke topik kopi. Tentu saja karena kopi  yang baik tidak pernah murah. Kenapa begitu? Ya tentu saja porsi petani harus baik. Namanya juga apresiasi terhadap kerja. Sama kalau saya jadi karyawan terus bekerja dengan baik (setidaknya menurut saya dan atasan saya), tapi oleh HRD hanya diberikan upah di batas bawah rerata industri. Ya emosi dong. Tidak rela. Atau kalau saya jadi pengusaha, bekerja dengan totalitas dan dengan sebaik-baiknya tetapi oleh pasar semua tidak bersedia bayar harga wajar yang berakibat saya nombok biaya produksi terus. Ya boncos . Makanya untuk kopi, aku bisa menikmati -- dan belajar menikmati -- kop...

Melibatkan Diri Dalam Permasalahan Yang Ada - (Bag. 3 - Penunjukan)

Seperti yang telah kujelaskan di sini dan di sini , untuk dapat terlibat dan tetap murni  itu tidaklah mudah karena adalah lumrah bagi kita menemukan orang yang bersedia terlibat karena dorongan kebutuhan personal atau kepentingan pribadi/kelompok. Ada opportunity  yang muncul maka melakukan reaksi melibatkan diri.  Untuk itulah dalam setiap kejadian, dalam niat membantu mencarikan solusi, tetap berpikiran jernih dan sigap menganalisis dinamika yang terjadi. Siapa saja para pemain yang terlibat dan apa kira-kira tujuan masing-masing mereka. Mengajukan diri untuk menyelesaikan masalah, menerima penunjukan atasan, atau memang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah, apapun itu, tetaplah berpikir dan sadar. "Cerdik seperti ular tetapi tulus seperti merpati," kata-kata yang pernah kubaca, kudengar, dan diajarkan -- meski tidak lengkap -- menjadi acuan dalam bertindak. Tidak semua orang mau percaya kalau dijelaskan dan akupun juga. Tetapi memang dalam masalah ya...

Rushing Into Things. Not Good.

You know what I just did? I rushed into things I know I shouldn't do. Now I paid more than what I should, if I just kept my head level and be calm. Yes, stable and fast internet connection would be nice to keep me balanced and clear headed. I was afraid my window of opportunity would vanish therefore I rushed into things I know I shouldn't have. That is one thing I learned today, in heat of competition, I lost control just because some glitch. That made me wonder how good I am at deciding things. Not good, apparently. Time to evaluate myself.

Keep In Touch

Thanks to social medias that I use, updating information from my friends are a lot easier. Just now I'm surprised to find that a friend is in her third month living in Dusseldorf when all this time I thought she was in Jakarta. And I know that two friends, after their marriage in Jakarta last year, went back to Melbourne to continue with their personal lives. Then another friend brought his family to accompany him to Dubai because he have work there. Imagine that fifteen years ago, I would have to spend a lot of effort (time, energy, money) just to know where and what are my friends doing. Keeping in touch now is very easy, you have to find a very logical reason not to. And even then people would still think you not normal if you intentionally not keep in touch with friends and relatives.