Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label self-evaluation

Memahami Kebutuhan Aktualisasi Diri

 Tidak Pernah Padam Malam ini aku teringat pada peristiwa beberapa tahun yang lalu saat aku berjanji akan tetap memprioritaskan diri sendiri (kesehatan fisik, mental, dan finansial) dalam segala hal. Keputusan yang diambil, arah yang dilalui, apa yang dilakukan -- dan yang tidak dilakukan -- untuk sebaik-baiknya diri sendiri dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Yang luput dari pengamatanku saat itu adalah tidak selalu kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang itu selaras. Misalnya aku sangat lapar, tetapi saat itu sedang dalam perjalanan di wilayah pelosok Indonesia. Kebutuhan jangka pendek adalah makan untuk mengatasi rasa lapar. Lalu setelah beberapa kilometer, kutemukan warung yang hanya menyediakan pilihan terbatas. Makan mie instan padahal baru sehari sebelumnya makan menu yang sama, jelas tidak sehat bagi tubuh. Tetapi aku harus makan sesuatu agar tidak sampai jatuh sakit! Kontradiktif, dilematis, pusing. Kembali ke pembicaraan awal, setelah teringat hal itu tentu...

Mencegah Kehilangan

Ketika bekerja dalam kondisi wabah seperti ini tentunya penting untuk menjaga kesehatan. Tetapi kebanyakan orang mudah lupa bahwa yang perlu dijaga itu bukan hanya kesehatan fisik saja, melainkan juga kesehatan mental. Dalam keadaan mengisolasi diri sendiri atau menjaga jarak dengan orang lain, bisa saja mengganggu kesehatan mental karena seakan hidup mendadak menjadi sepi tanpa teman. Kenalan dan relasi serta aktivitas sosial terpaksa dilakukan melalui layar persegi video streaming yang kebanyakan hanya menampilkan wajah. Keterbatasan menyaksikan gerak-gerik tubuh, keterlambatan sinkronisasi gambar dan suara (karena beban pada jaringan), atau orang-orang yang memilih untuk mematikan kamera video, membuat terasa tidak lengkap saat interaksi dilakukan. Mungkin lebih mudah bila hanya menonton rekaman ucapan orang. Setidaknya kita bisa mengatakan pada diri sendiri bahwa ini hanya sebentuk komunikasi satu arah. Tidak tinggi ekspektasinya. Melakukan aktivitas sosialisasi berharap aga...

menjalin kebersamaan

Menjalin persatuan dan kesatuan... Kata orang-orang itu seperti sebuah lagu yang tak lagi berkumandang, mungkin karena aku sudah tak lagi menonton televisi. Mau bagaimana lagi? Buat apa menghabiskan waktu menonton televisi sedangkan ada banyak informasi lainnya tersedia di banyak tempat dari berbagai kanal yang lebih banyak (lebih padat?) data dalam waktu konsumsi yang sama. Seperti menonton serial, kamu mau menonton gratis siaran tapi diberi iklan, atau mau menonton tanpa dikenakan iklan tapi membayar lebih? Sesederhana itu: punya uang yang cukup agar bisa punya opsi yang lebih banyak. Hidup lebih mudah bila lebih banyak pilihan. Untuk bisa lebih banyak pilihan, perlu lebih mampu (lebih beruang). Sesederhana itu.

Integrasi Kemampuan Personal - Delapan Bulan Kemudian

Delapan bulan yang lalu, aku tuliskan di sini , tentang keinginanku yang sederhana: Meng- upgrade skill diri sendiri.  Caranya adalah dengan bersemangat untuk diri sendiri. Tidak usah menunggu ada teman. Biarkan sendirian mencari jalan. Lingkunganku saat ini di kantor semua orang bekerja sesedikit mungkin dan sisanya cukup dengan, "Saya tidak tahu," atau, "Itu bukan bagian saya." Hidup gampang dan gampangan karena punya privilege berupa safe cushion karena berasal dari keluarga yang masih memberikan support . Enaknya. Jadi aku memang membeli beberapa kursus online, berlangganan produk dan jasa pengajaran untuk peningkatan kemampuan. Itulah yang perlu kulakukan. Tinggal mencari kemauan dan waktu. Ini penting dan aku sebenarnya bersyukur sekali punya partner yang mau memberikan dukungan sampai pada tahapan tertentu. Intinya sih, aku tahu apa yang aku butuhkan, tapi aku belum memulainya, bahkan setelah lewat delapan bulan.

Mengulang Bertanya Kepada Diri Sendiri

Sebelumnya pernah kutulis di sini tentang pertanyaan yang diajukan ke diri sendiri sebagai bentuk keraguan dan rasa tak percaya diri. Sebentuk evaluasi diri dan upaya meningkatkan rasa percaya diri. Jadi semuanya karena pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan memuaskan, sejauh dan sedalam apapun pertanyaan ini diarahkan. Mungkin karena aku tak punya teman yang bisa diajak berdiskusi dalam hal ini tentang jatidiri.

Mengatur Prioritas Hidup (Part 3)

(Lihat tulisan sebelumnya di sini  dan di sini ) Menjadikan diri sendiri sebagai prioritas kadang terlewatkan olehku. Mungkin terlewatkan olehmu juga. Menjadikan diri sendiri prioritas ini maksudnya dengan memperhatikan kebutuhan fisik dan psikis diri sendiri: makan teratur dengan menu yang sehat, olahraga teratur, istirahat cukup, dan lainnya. Tidak banyak yang sadar bahwa aset paling penting dalam menjalani hidup, terutama di Jakarta yang keras ini, adalah diri sendiri. Kita bisa saja menganggap hidup tahan banting  itu sebagai sebuah badge of honor , sebagai sesuatu yang layak dibanggakan. Padahal kita semua salah bila memperlakukan diri sendiri bagai sansak. Tubuh dan pikiran memang perlu dilatih dan diberikan ujian tetapi bukan berarti menyiksa diri tanpa ada masa perawatan dan pemulihan, atau bahkan masa memanjakan diri sendiri (secara terbatas tentunya). Ketika menyusun prioritas hidup, kita membuatkan daftar hal-hal yang tangible  untuk diraih: Keluarga. A...

Integrasi Kemampuan Personal - Sebuah Upaya Peningkatan Skill

Akhirnya berbagai macam software yang biasanya aku hanya sekedar tahu atau pernah lihat mulai berkelindan yang berarti aku harus bisa membuat sebuah workflow yang seamless dengan berpindah antar program dan aplikasi yang berbeda. Kebutuhan monitoring and reporting yang melibatkan berbagai macam departemen berbeda divisi tentu tidak mudah. Menyatukannya dalam sebentuk laporan yang mudah dipahami user  itulah tantangannya. Aku harus mengolah data progress pekerjaan, pengecekan terhadap kondisi rencana lapangan dan gambar rencana, membuat analisis dan summary disajikan secara berkala itulah yang perlu aku pelajari. Ada aplikasi peta seperti QGIS dan Google Earth Pro yang gratis, progress  kerja yang disimpan dalam spreadsheet Microsoft Excel, organization chart  di Microsoft Visio, surat tugas kerja dan lainnya di Microsoft Word, tampilan report dalam presentation slide Microsoft Powerpoint. Oh ya tentu saja untuk pekerjaan yang kompleks, membuatnya dalam sebuah monitori...

Mengatur Prioritas Hidup (Part 2)

Sebelumnya aku pernah bercerita tentang prioritas hidupku yang tidak jelas karena ketika orang-orang lain berangkat untuk hobi, aku masih tetap ada di kantor untuk bekerja. Tidak enak melihat ketika rombongan teman-teman berjalan keluar kantor untuk menjalankan aktivitas bukan kerja, aku masih tertahan di kantor. Sekarang di tahun 2019 ini aku berniat untuk mengubah itu semua! Tidak bisa lagi hanya berkutat dengan pekerjaan lalu pulang dari kantor dalam keadaan lelah tidak bertenaga untuk mengerjakan hobi atau belajar hal baru. Aku harus menentukan prioritas dalam hidupku demi kebaikan dan pengembangan diri. Menjadi orang yang lebih baik dan lebih kaya, sepertinya enak. Dengan lebih kaya, aku punya kemampuan membayar biaya jasa orang lain agar aku lebih banyak waktu luang untuk melakukan aktivitas peningkatan diri. Tapi sekaya apa yang aku mau dan incar? Sama seperti doa, membuat target juga harus spesifik dan breakable dalam detail yang achieveable. Semakin diperhatikan ...

berbuat dan berbuah - bagian 1: pada awalnya...

tidak mudah untuk melakukan kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan, tetapi seperti itulah yang diminta oleh tokoh yang pernah berjalan di muka bumi ini sekitar dua milenia yang lalu. awalnya aku berpikir untuk menjadikan update blog ini sebuah renungan rohani tetapi untuk kebaikan diriku sendiri sebaiknya tidak usah berbicara soal religiusitas diriku sendiri. aku tidak merasa sebagai orang beriman yang baik dan taat pada aturan dalam agama jadi berbicara tentang ini terasa tidak tepat. jadi aku ubah konteks "berbuat dan berbuah" menjadi sebuah refleksi diri untuk perbaikan yang tidak terkait dengan religiusitas manusia atau hubungan dengan suatu higher being  sama sekali.  berbuat semasa hidup tak mungkin tidak berbuat apapun. melakukan tindakan yang ada konsekuensinya. memilih yang ada. kalkulasi lalu mengambil keputusan yang berimplikasi pada masa depan. semuanya bisa terasa acak namun ketika melihat ke belakang beberapa waktu kemudian mungkin terpikirkan, ...

Evaluasi Beberapa Hari Setelahnya

Jadi seperti yang pernah kutulis di sini sebelumnya, ketika aku mulai menulis lagi di blog ini, orang-orang sudah tidak lagi mengunjungi situs blog seperti ini. Tulisan opini sudah tidak lagi menarik untuk digarap. Persaingannya besar untuk dapat attention  tetapi pembaca sudah sedikit. Terlalu banyak orang yang berpindah platform  ke media sosial yang berat di foto dan video (dengan beberapa merk yang tak perlu disebutkan namanya sudah "menguasai" pasaran). Kita ini manusia yang condong di stimulasi visual berupa gambar diam dan gambar bergerak. Lebih memuaskan indera dan otak manusia. Membaca simbol seperti susunan karakter (tulisan seperti ini misalnya), dirasa tidak menarik atau tidak bermanfaat. Setidaknya itu pembacaanku  atas tren masa kini. Aku tidak punya cukup sumber daya untuk meriset sendiri. Yang kupikirkan memang di mana-mana aku makin jarang melihat orang membaca sumber tulisan seperti buku atau setidaknya koran dan majalah yang memasukkan foto sebag...

Perencanaan Dan Pemeliharaan

Dalam tulisan sebelumnya di sini , sudah kujelaskan betapa aku melakukan banyak kesalahan dengan mengabaikan perawatan kendaraan secara berkala. Kesalahan yang membuatku harus mengeluarkan dana lebih banyak dalam waktu berdekatan karena tak punya rencana sama sekali terhadap hal seperti ini sehingga saat terjadi kerusakaan (karena usia parts  dan sebab normal lainnya) dalam waktu yang berdekatan, aku menjadi kalang-kabut. Sudah kujelaskan juga pada bulan Maret tahun ini tentang keenggananku untuk memulai proses yang aku rasa akan memberatkan diri sendiri. Jadi pada saat terjadi kerusakan beberapa kendaraan di beberapa bagian yang berbeda, sungguh mempelajari beberapa hal baru dalam waktu bersamaan itu tidaklah gampang. Ini jugalah yang membuatku tidak kunjung melanjutkan lagi sekolah karena sepertinya otakku sudah terbiasa tidak dipakai untuk memecahkan masalah yang baru dan jauh dari hal yang biasa kuhadapi sehari-hari: electronic business process for project delivery.

Perjalan Yang Panjang

Ada masa di mana aku menganggap kalau diriku adalah seorang petualang yang melakukan perjalanan untuk mencari jati diri. Aku pikir masa itu buku-buku yang kubaca sangat mempengaruhi bagaimana caraku memandang peran dan posisi diri di dunia ini. Setidaknya, apa yang aku mau dari diriku sendiri. Sekarang tidak lagi. Aku tahu saat ini peranku hampir tak terasa. Bukan rendah diri. Ini adalah reposisi terhadap kehidupan manusia di sekelilingku, baik yang aku berinteraksi secara langsung in real life , yang tak berinteraksi langsung kecuali lewat media, atau yang tak menyadari bahwa ada aku di dunia. Perjalanan yang panjang ini adalah milikku sendiri. Tak perlu dicarikan alasan. Tak butuhkan tujuan. Hidup untuk diri sendiri. Berjalan. Berhenti. Evaluasi. Lanjutkan perjalanan lagi. Begitu terus sampai tiba saatnya berhenti terakhir kali.

Masih Belum Juga Dimulai

Sebelumnya, aku menulis soal keenggananku untuk memulai suatu pekerjaan yang sebenarnya cukup mudah. Tinggal melakukan pencarian secara intens di internet bila aku mentok. Yamg perlu kulakukan adalah mengajukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang straight to the point. Aku perlu berkomitmen pada kebutuhanku sendiri. Pada keinginanku untuk maju. Pada kebutuhanku memperbaiki diri dan meningkatkan kesejahteraan. Belajar dan berkembang. Terdengar gampang tetapi pelaksanaannya tidak seperti itu. Perhatianku gampang teralihkan dan minatku tersebar cukup luas dalam banyak hal. Sebenarnya aku tahu kalau kemampuanku masih bisa ditingkatkan. Sadar bahwa potensiku belum tergali sepenuhnya. Seandainya saja tantangan yang datang membuatku mau tak mau menjalani perubahan. Tentu saja suatu proses perubahan itu akan membuat diriku menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Masih Belum Dimulai?

Jadi beberapa waktu yang lalu aku menuliskan niat untuk belajar upgrade laptop Lenovo-ku. Sayangnya, sampai hari ini belum juga benar-benar bisa mengalokasikan waktu untuk mengerjakannya. Kalau diingat lagi, aku melakukan kesalahan karena membayar langganan Office 365 per bulan tetapi tidak dipakai. Pemborosan. Dengan tetap belum memulai, aku melakukan pemborosan, sekalian terlihat jelas bahwa konsentrasi dan prioritasku terletak di hal lain. Sesuatu yang perlu segera diperbaiki karena ada biaya di sini, jumlahnya tidak sedikit pula. Segera diperbaiki sifat ini.