Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label wisdom

Waktu Semakin Berkurang. Jendela Kesempatan Mulai Menutup.

Jadi siang ini aku membaca ada orang yang beropini di Twitter tentang standarisasi jenis profesi di Indonesia yang perlu segera diterapkan karena memang dibutuhkan stratifikasi kemampuan profesional. Aku setuju saja tetapi berhubung aku belum mulai sama sekali, kalau kata orang belum one foot inside  sama sekali maka sebenarnya waktu semakin menipis dan akan semakin tertinggal diriku. Ketika orang lain bisa bergerak cepat, lincah, dan meraih kesempatan yang ada, sedangkan aku hanya bisa melihat, saat-saat seperti itu dapat memicu kondisi mental memaki diri sendiri. Tidak sehat dan berbahaya bagi kesehatan mental. Namun pada intinya aku perlu mempercepat proses pengembangan diri dan menambah kemampuan baru yang relevan. Persaingan dunia kerja semakin sengit, tidak boleh menyerah dalam kompetisi dan lalu terlempar keluar dunia kompetisi ini. Semangat!

Compound Interest, Dalam Social Networking

Social networking sangat berguna bila dikerjakan dengan tepat. Dikerjakan dalam arti dipergunakan dengan optimal, melakukan analisis dan evaluasi penggunaan termasuk interaksi dan pertumbuhan clout  yang diharapkan nantinya dapat dimonetisasikan. Terdengar aneh mungkin bagi casual user  tetapi di masa kini siapa yang tak ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari aktivitas di kala senggangnya? Saya juga mau! Tetapi tentu saja tidak mudah untuk mencapat tingkatan tertentu yang memungkinkan kehadiran kita dalam sebuah jejaring sosial ada dampaknya. Berinteraksi antar pengguna dan teman / kenalan / teman dari teman juga butuh waktu dan usaha untuk menumbuhkembangkannya. Dilakukan dengan tepat, social network yang dibina untuk tumbuh akan makin berlipat ganda hasilnya. Memperluas jejaring perkenalan dan pertemanan secara bertahap dan terus-menerus memang pada akhirnya butuh strategi yang komprehensif agar tidak menyiakan waktu, uang, tenaga, dan pikiran. Semuanya itu b...

Pengelolaan Emosi Dan Menjadi Dewasa

Dalam dunia profesional, kemampuan untuk mengelola emosi adalah perlu. Dalam bentuk dasar adalah tersenyum dan berkata, "Siap, Pak!" padahal dalam hati tidak menyukai instruksi yang diterima atau dalam kepala memikirkan bahwa tidak mungkin ide atasan tersebut -- yang dianggapnya cemerlang -- dapat diwujudkan seperti yang diinginkan beliau. Dalam dunia kerja, tantangan seperti mewujudkan permintaan dari atasan adalah cara untuk menaiki jenjang karir yang tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Sesuai pengalaman pribadi, pada akhirnya adalah bukan seberapa banyak hal yang dapat dirimu deliver  sesuai dengan schedule  yang ada tetapi seberapa dekat dirimu dengan atasanmu. Sungguh ironis karena itu berarti orang-orang yang bekerja keras dan memberikan hasil pada bagian awal, lalu "kehabisan amunisi" di bagian setengah akhir, akan dianggap tidak berhasil demi untuk menyelamatkan orang yang lebih "dekat". Memang dunia tidak adil tapi seperti itul...

berbuat dan berbuah - bagian 2 : pendalaman

Sekitar dua minggu yang lalu, sudah kujelaskan konsep awal berbuat dan berbuah  yang kupahami dan kucoba praktekkan. Jadi sebagai kelanjutannya aku bahas singkat di sini. Berbuat adalah melakukan tindakan yang tepat dan terbaik berdasarkan informasi yang tersedia saat itu. Pertimbangan yang dilakukan adalah semacam WWJD -- What Would Jesus Do? -- atau patokan ke figur baik sesuai kepercayaan dan pemahaman saat itu. Paling baik dan paling benar yang bisa dilakukan saat itu perlu penekanan karena evaluasi  much later down the road  tidaklah tepat bila ada tuding-menuding kesalahan. Ingat, hindsight bias  itu nyata adanya dan tidaklah benar jadi patokan menghukum. Misalnya saya membeli barang pada harga X dan sebulan kemudian harganya menjadi X minus 10 poin, apakah saya salah? Bisa iya, bila pada saat mengambil keputusan membeli tidak didasari analisis memadai. Bisa tidak, bila dasar pengambilan keputusan sudah memadai dan perlu diingat, tak seorangpun yang be...

The Agony of Not Knowing

Merasakan ketidaktahuan dan tertinggal -- or being left out -- sungguh perasaan yang tidak mengenakkan. Semua orang tertawa atas sesuatu hal yang mungkin lucu tapi kita tidak paham. Lirikan bermakna yang kita tidak tahu sebagai kode apa. Senyum yang diberikan ke orang di sebelahmu tapi tidak untuk kamu. Aku tahu posisiku yang tidak tepat dan cenderung tidak menguntungkan.  Itulah sebabnya perlu reposisi untuk menghadapi keadaan dinamis yang bekerja seakan-akan against my own interest.  Antisipasi, aksi, evaluasi, reposisi, antisipasi lagi, ulangi. Seperti siklus yang tak selesai selama masih hidup, siklus yang dimulai sejak rasa sakit karena ketidaktahuan dan pertanyaan pada diri sendiri: "Apakah aku dimanfaatkan secara tidak adil atau apa?" Tidak melupakan bahwa identitas yang kubawa sejak lahir dan diterjemahkan secara bebas di sini u ntuk mengkategorikan orang -orang secara gampang tanpa perlu mempertimbangkan aspek keadilan, kemanusiaan, atau kesamarataan. Den...

Instead Of Reading, Writing

I know that I should be reading stuff that expand my knowledge base in each and every time I have spare time. The "me time" should be to be as informed as possible. A lot of topics I need to know and to dive deeper. A not easy task but achieveable. Just be determined enough with it. Keep up with everything. Also therefore I am restraining myself from spending time on warung kopi  somewhere, spending more and more. Remember each money I spend on consumables or fashion products I don't need, is money I can't take back and invest on. Pretty bad for my future.

Menjaga Perasaan

Ada hal yang tak bisa diungkapkan dengan jujur, terbuka, dan langsung karena "keharusan" untuk menjaga perasaan . Tidak mudah memang. Makin lama makin menggerogoti perasaan diri sendiri yang terbiasa untuk jujur. Menghendaki segalanya berjalan baik namum ada ketidakcocokan yang perlu diselaraskan. Mendiamkan itu semua membuat keadaan tidak stabil, tidak juga menjadi lebih baik. Keinginan yang ada yang harus diredam. Sesuaikan kemauan dengan kemampuan.

Keluar Dan Buatlah Kisahmu Sendiri

Daripada hidup mengikuti rencana dan skenario orang lain, kenapa tidak pergi keluar sana, jalani hidup dengan tangan terbuka yang siap menampung apapun yang terjadi, dan buat kisahmu sendiri? Aku hidup pertama-tama untuk diri sendiri. Lalu aku hidup untuk orang-orang terdekatku. Itulah urutannya. Dan karena aku butuh orang-orang terdekat untuk bisa tetap menjalani hidup, aku akan menggabungkan hidup kami menjadi kesatuan prioritas dengan variasi dan kombinasi yang berubah sesuai dengan berjalannya waktu.  Formulasi di atas rasanya masih belum tepat secara matematis tapi mungkin dengan pencarian lebih lanjut aku akan berhasil merumuskan ulang secara dengan sederhana dan elegan. Sesuatu yang akan membuatku tersenyum bersama mereka, nanti. Biarkan aku pergi mencari dan mungkinkan aku menuliskan kisahku -- biarpun pembacanya hanyalah aku sendiri.

Shame

Many times I feel ashamed of not being able to contribute more to the society. Not giving back when I have so many. Not that I don't want to, because I really do. I just don't know where to channel my abundance or surplus without someone else pilfered it for own personal gain. I distrust the nature of many people because I've seen so many charities misdirected or being used not for the initial purpose. It's like many people now seemed entitled to take some part of the money (or stuffs) that they supposed to use for benefit of community and unashamedly confiscate and use personally. And this type of behaviour is making myself sick.

There Could Be No FREE Debit Card

Should be more careful with your own expectations, that's why I thought after reading the User Guide from the e-toll card mandiri prabayar. mandiri prabayar e-toll card It was a couple of days ago when this guy hawked the card before Tomang toll gate and waving the Rp. 50,000.- signage. I rolled down the window and asked him how much is in the card. He said that the card's price is fifty thousand rupiahs and the card was preloaded with fifty thousand rupiahs too.