Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label competition

Pengelolaan Emosi Dan Menjadi Dewasa

Dalam dunia profesional, kemampuan untuk mengelola emosi adalah perlu. Dalam bentuk dasar adalah tersenyum dan berkata, "Siap, Pak!" padahal dalam hati tidak menyukai instruksi yang diterima atau dalam kepala memikirkan bahwa tidak mungkin ide atasan tersebut -- yang dianggapnya cemerlang -- dapat diwujudkan seperti yang diinginkan beliau. Dalam dunia kerja, tantangan seperti mewujudkan permintaan dari atasan adalah cara untuk menaiki jenjang karir yang tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Sesuai pengalaman pribadi, pada akhirnya adalah bukan seberapa banyak hal yang dapat dirimu deliver  sesuai dengan schedule  yang ada tetapi seberapa dekat dirimu dengan atasanmu. Sungguh ironis karena itu berarti orang-orang yang bekerja keras dan memberikan hasil pada bagian awal, lalu "kehabisan amunisi" di bagian setengah akhir, akan dianggap tidak berhasil demi untuk menyelamatkan orang yang lebih "dekat". Memang dunia tidak adil tapi seperti itul...

Rushing Into Things. Not Good.

You know what I just did? I rushed into things I know I shouldn't do. Now I paid more than what I should, if I just kept my head level and be calm. Yes, stable and fast internet connection would be nice to keep me balanced and clear headed. I was afraid my window of opportunity would vanish therefore I rushed into things I know I shouldn't have. That is one thing I learned today, in heat of competition, I lost control just because some glitch. That made me wonder how good I am at deciding things. Not good, apparently. Time to evaluate myself.

Sekilas Pembicaraan Ringan

Jadi sore itu aku dan dia sedang menunggu tamu yang seharusnya tiba sekitar setengah enam sore. Entah kenapa pembicaraan kami mengarah ke aktivitas berbelanja di online shop , sebuah kegiatan yang makin banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kami membahas beberapa marketplace yang aplikasinya tersedia di Google Play Store dan dapat diunduh ke ponsel pintar berbasis Android yang kami pakai. Ini seperti membahas cabang dari tulisanku yang pernah kutampilkan di sini . Dalam berbelanja yang mana penjual dan pembeli tidak saling bertemu dan bertatap muka, di sebuah pasar virtual  yang terbangun dalam aplikasi ponsel pintar, yang bisa jadi baik penjual dan pembeli sama-sama tidak kenal reputasi pihak yang dihadapi, aturan dan sistem yang diterapkan si marketplace  menjadi sangat penting. Pembahasan kami lebih kepada bahwa ada marketplace  yang karena begitu banyaknya penjual di tempatnya, apa saja barang-barang yang dijual tak lagi diregulasi. Alasannya simpel, penjual t...

Menyudut, Menghindari

Ada banyak hal yang bisa dikerjakan dan harus dilakukan karena sebagai karyawan yang menerima gaji tiap tanggal 25 setiap bulannya, target perusahaan harus diurus. Tentunya ada korelasi antara keberhasilan delivery  perusahaan ke customer  dengan keberlangsungan hidup sebagai seorang pegawai. Kalau tingkat delivery  rendah, bagaimana mungkin bisa tetap dapat penghasilan dari orderan customer ? Tidak mungkin kita bekerja asal-asalan tapi menuntut perusahaan membayar gaji tepat waktu, memberikan THR tidak terlambat, menaikkan gaji dan memberikan bonus tiap tahun?

Selamat Tahun Baru(?)

Mungkin sudah saatnya aku mengucapkan: SELAMAT TAHUN BARU! Dengan penuh semangat dan optimisme, kita sambut pergantian tahun 2015 ke 2016 ini bersama-sama. Ada banyak hal yang baik dan kurang baik yang sudah dialami sepanjang tahun 2015. Jadikan pengalaman itu sebagai guru yang personal, yang mengajarkan agar makin dewasa. Masih ada banyak petualangan yang bisa dialami di 2016. Semuanya tergantung ke diri sendiri. Upaya apa yang dilakukan, pilihan apa yang diambil, keputusan apa yang dibuat. Seperti Anak Anjing, Mari Bermain Dan Berpetualang! Pada tahun 2014 hendak berganti ke 2015, aku punya niat mulia, project yang ingin dilakukan, daftar hal yang ingin bisa dikuasai. Well, setahun berlalu dan masih banyak hal yang menjadi utang yang harus dibayarkan agar aku bisa berdamai dengan diri sendiri.

"Where Do You Go, When There's No Place For You Here Anymore?"

Pernah tidak terpikir bahwa akan ada masanya ketika dirimu menjadi obsolete  alias tak lagi punya manfaat di tempatmu yang sekarang? Bahwa masamu "telah lewat"? Aku pernah. Terlebih beberapa bulan terakhir ini. Aku punya skill  yang tidak bermanfaat di tempatku bekerja, begitu bagian ini selesai dikerjakan. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Sekarang saja peranku makin berkurang karena atasan mendatangkan orang lain ke dalam organisasi. Aku tahu tanda-tandanya dan sebagian dariku berpendapat bahwa bila sudah waktunya pergi, why not ? Tetapi tentu saja, fear of the unknown  membuatku terlalu takut untuk melakukan analisis terhadap posisi dan kondisi saat ini. Bahkan seperti kaku, tak bisa berpikir, tak tahu mau melakukan antisipasi seperti apalagi. "Ke mana kau akan pergi, saat tak ada lagi tempatmu di sini?" Aku membaca kalimat itu dalam pengantar sebuah video yang diunggah di Vimeo dan terasa seperti ditonjok di ulu hati. Karena jawabannya adal...

Persaingan!

Dalam pekerjaan, bahkan dalam satu tim, pastinya ada kompetisi. Biarpun bekerja bersama-sama, duduk di meja yang sama, tapi persaingan pasti ada. Seperti itulah yang kurasakan saat ini. Persaingan. Kompetisi. Bahkan sepertinya ada pengelompokan "anak baru" dan "orang lama". Tidak kentara, hampir tidak terasa, tapi ada. Yang membuatku kuatir adalah bahwa gap  seperti ini hanya akan berujung pada tidak tercapainya target. Ujungnya? Ada yang akan menjadi korban. Tebak, siapa yang kemungkinan akan menjadi korbannya? Seharusnya bukan aku. Itulah sebabnya aku harus bekerja lebih keras lagi dibandingkan orang-orang lain. Berusaha lebih baik, bekerja lebih taktis dan efisien. Usaha yang dilakukan harus efektif. Aku seharusnya bisa lebih baik lagi.

Quote From: "Future Babble"

Future Babble  by Dan Gardner We really  like babies. ... In evolutionary terms, nothing is more important than reproducing. Among our ancestors, parents who didn't particularly care if their babies were well-fed, healthy, happy, and safe were much less likely to see those babies become adults with children of their own. So that attitude was going nowhere. But those who felt a surge of pleasure, compassion, and concern at the very sight of their darling little ones would take better care of them and be more likely to bounce grandchildren on their knees. Thus the automatic emotional response every normal person feels at the sight of a baby became hardwired, not only among humans but in every species that raises its young to maturity. Maka yang aku pikirkan adalah wajar aku suka tersenyum melihat bayi orang lain yang terlihat lucu, kenyang, tidur dengan nyaman, tersenyum atau tertawa, apalagi yang sedang bermain dengan bahagia. Dorongan alami yang sangat sulit diabaikan untuk pu...

Prewedding Photography, From My Own Perspective...

I have a lot of friends whose earning are through photography, so I can guess what would they think of me for writing this.   One of the most lucrative subcategory of photography business is Prewedding Photography. Everybody seemed to be doing this because the demand is quite high. There are a lot of couples want to have some series of photos to display at their reception. Many photographers are offering this service.   I see there can be pressure to the couple to match -- or even out-do -- the photographs displayed at their friends' or relatives' wedding ceremonies. From as low as a couple of millions (in some regions are even lower!), to the big numbers for big customers. From simple outdoor or studio session to trip to other continent, the offer as various as the customers' ability to pay. There are the competition among the photographers for the services offered. There are competitions -- albeit no one would admit --- among the would-be married couples.   A few years ...

Business Model, Busted!

Itulah yang pertama kali terpikirkan dalam kepalaku saat aku tahu keputusan Linda soal draft business model yang aku kirim. Intinya, aku tak yakin dia akan submit  tepat waktu sebelum batas waktu penyerahan ditutup. Jujur saja, aku sedih dan kecewa. Tapi harus mengingatkan diri sendiri kalau ini adalah kompetisi yang Linda mau ikuti dan sebenarnya dia juga tidak eksplisit meminta tolong kepadaku. Mungkin aku saja yang terlalu bersemangat ingin terlibat sekaligus dorongan terpendam (bawah sadar) untuk pamer pengetahuanku yang sebenarnya belum seberapa. Aku terlalu bersemangat untuk sesuatu yang sebenarnya insignificant . Yah, sudahlah. Sepertinya ini adalah posting terakhir soal business model yang "gagal" sebelum terbentuk konsepnya.

Konsep Awal Dikirimkan!

Jadi dari tadi aku berusaha membuat konsep yang bisa mendeskripsikan business model  yang kumaksudkan pada tulisan sebelumnya. Konsep dari awal sampai akhir - yang memang jauh dari matang - berisi alternatif-alternatif  Game Model, sumber pendapatan atau revenue stream- nya, gimmick  atau insentifnya, premis dasar alias pitching- nya, dan beberapa hal lainnya. Sekarang tinggal memikirkan cara membuat mock-up  model dari website dan tentu saja: NAMA YANG TEPAT! Setelah itu tentu menganalisis kemungkinan atau variasi dari Game Model yang kumaksud dan seberapa mungkin target konsumen itu tertarik untuk bermain? Soalnya tadi aku asal memilih akronim yang menohok tetapi sebenarnya tidak menggambarkan isi layanan malah berpotensi membuat orang untuk tidak memainkan aplikasi tersebut. Tentu saja hal seperti ini salah. Untuk itulah hal seperti itu kuserahkan kepada Linda agar dia yang memikirkannya. Aku tadinya mau membuat mock-up website tersebut tetapi sepertinya...

Business Model. Huh?

Linda menceritakan hal yang menarik kemarin. Di kantornya diadakan semacam kontes kecil-kecilan dengan tema penggunaan jaringan mobile broadband untuk mengeruk keuntungan bagi korporasi penyelenggara sambungan internet tersebut. Hei, memang ini pragmatis. Semua orang senang dengan monetizing apapun yang bisa diuangkan. Aku juga tertarik. Jadi aku memutuskan pitch  ide kasar ke Linda yang mana memang membuatnya tertarik. Ya aku tahu memang masih berupa sesuatu yang sangat kasar biarpun revenue stream  dan   target base consumers  yang lumayan cukup jelas. Sekalian promosi dan melibatkan industri lainnya yang jelas-jelas saat ini membutuhkan segala bantuan yang bisa mereka dapatkan. Ide model usaha ini menggunakan jaringan internet bergerak pita lebar (baca: mobile broadband ), unsur permainan, insentif kecil yang diharapkan membuat ketagihan ( return customers? repeat order? ), insentif besar yang menarik dan sesuai dengan kelompok konsumen yang dituju, dan...