Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label working skill

memecah kesatuan dalam unit yang lebih mudah dicerna

intinya dalam mencapai target yang dimaui diri sendiri adalah aku perlu memecah-mecah ke dalam unit-unit yang lebih kecil suatu pekerjaan besar dan target skill yang ingin kukuasai. tidak mudah dan tidak gampang karena standar kemampuan cerna tiap orang berbeda-beda. seperti yang kutulis di sini dan makin lama semakin singkat, hanya maksimal dua sampai tiga paragraf saja sedangkan lima tahun lalu aku bisa menuliskan entah apa rambling atau rant dalam sekian paragraf! sesuatu yang harus dilakukan dan dicarikan solusinya karena sungguh tak sangka aku makin merasa menghabiskan waktu sia-sia saja selama masa pandemi ini. padahal jauh lebih banyak waktu luang karena misalkan saja ada tambahan waktu minimal satu jam per hari diperoleh dari tidak melakukan commuting. marilah kita mulai!

membaca, belajar, namun tidak mempraktekkan

kali ini biarkan aku menulis sesuka hati tanpa memperhatikan kaidah. terlalu lelah pikiran untuk mengoreksi tulisan sendiri sebelum menampilkannya di dunia maya untuk dibaca semua orang. kesulitanku memuncak karena kelemahanku dalam mempraktekkan apa yang aku pelajari. bayangkan bahwa ada banyak masukan dan bahan ajar yang menarik, bermanfaat bila digunakan, dan memang kubutuhkan untuk menyelesaikan masalah sehari-hariku. misalnya dengan breaking down work to the smallest task . secara teori aku pelajari bahwa metode ini akan sangat berguna buatku. aku butuh menyelesaikan banyak tugas yang sebenarnya kutunda-tunda sampai hari ini. beberapa tugas penting dan perlu. beberapa penting tapi tidak perlu segera. menyedihkan kalau diingat. menjadi sumber stress juga dalam hidup sehari-hari. tidak mudah membuang tabiat buruk menunda atau hanya belajar tanpa praktek. makanya seperti stagnan hidup ini. mengesalkan, bukan?

Waktu Semakin Berkurang. Jendela Kesempatan Mulai Menutup.

Jadi siang ini aku membaca ada orang yang beropini di Twitter tentang standarisasi jenis profesi di Indonesia yang perlu segera diterapkan karena memang dibutuhkan stratifikasi kemampuan profesional. Aku setuju saja tetapi berhubung aku belum mulai sama sekali, kalau kata orang belum one foot inside  sama sekali maka sebenarnya waktu semakin menipis dan akan semakin tertinggal diriku. Ketika orang lain bisa bergerak cepat, lincah, dan meraih kesempatan yang ada, sedangkan aku hanya bisa melihat, saat-saat seperti itu dapat memicu kondisi mental memaki diri sendiri. Tidak sehat dan berbahaya bagi kesehatan mental. Namun pada intinya aku perlu mempercepat proses pengembangan diri dan menambah kemampuan baru yang relevan. Persaingan dunia kerja semakin sengit, tidak boleh menyerah dalam kompetisi dan lalu terlempar keluar dunia kompetisi ini. Semangat!

Tidak Mudah Untuk Jadi Disiplin

Dalam menjalani proses kehidupan dan menyadari ada banyak hal yang perlu diperbaiki, kulakukan rencana dan target pencapaian personal yang akan dievaluasi secara berkala. Semua ini karena aku paham bahwa hanya akulah yang bisa kuharapkan untuk menyelamatkan diri sendiri dari hidup masa tua yang kondisinya menyedihkan. Jadi tentu saja semua rencana dimulai dari angan-angan dan imajinasi, dianalisis dengan pragmatis dan dihadapkan pada realitas keterbatasan pribadi. Semua rencana yang disusun itu perlu diperhatikan dan diingat bahwa tak akan berhasil tercapai bila tidak disiplin dalam bekerja dan berkomitmen. Jadi semua yang diharapkan bisa dicapai itu sudah dibuat serealistis mungkin tetapi tentu saja kebiasaan lama yaitu sikap yang tak bisa disiplin inilah yang membuatku tak bisa mencapai bahkan seperempat dari target personal yang dibuatkan itu. Masalahnya sederhana, ada terlalu banyak hal/barang/peristiwa yang mengalihkan perhatian dan menyita waktu serta perhatian. Bayangkan, ak...

Mengikuti Zaman: Menjadi Acuh Dengan Pekerjaan

Dengan mudahnya aku jatuh ke dalam godaan  untuk bersikap sama seperti mayoritas kolega di kantor: bersikap acuh dengan pekerjaan. Maksudnya, bila memang waktunya pulang, ya pulang. Terdengar bagus, memang. Tapi jam kerja selama delapan jam itu? Tidak dipenuhi. Misalkan begini, masuk kerja pukul 08:30 pagi. Istirahat siang 12:00-13:00. Pulang pukul 17:30. Yang terjadi adalah: Absensi sebelum 08:30 pagi. Tiba di meja, menyalakan komputer dan membuka program email. Lalu kunci layar dan turun ke warung di belakang atau di bawah selama antara 45 menit sampai satu jam. Pukul 11:30 sudah pergi istirahat dan makan siang, balik lagi ke kantor dan mulai bekerja sekitar 13:30. Pulang pukul 17:30. Itu pun selama jam kerja yang sudah terpotong-potong itu, diisi dengan ngobrol baik secara lagsung maupun lewat program chatting  di handphone. Atau seakan konsentrasi menatap layar komputer / laptop  tetapi sebenarnya sedang menonton video streaming dari detikcom (soalnya ...

Dari Semua Yang Pernah Aku Jalani

Dari semua yang pernah aku jalani, di sini yang berikan damai di hati. Ada saatnya aku merasa pekerjaan yang kulakukan kurang bernilai tambah. Seperti melakukan rutinitas yang tidak cukup layak untuk terus dikerjakan. Tetapi kalau orang lain mungkin menganggap pekerjaan dan tugasku tidak jelas dan posisiku hanya untuk mengganggu orang-orang ini melakukan tugasnya. Tetapi tentu saja yang perlu kulakukan sekali-sekali adalah berhenti dan mengamati secara seksama sebenarnya apa saja yang kulakukan, apa yang belum kulakukan tapi bisa dilakukan dan sebenarnya bermanfaat. Melakukan hal berbeda untuk dapat nilai tambah yang berguna, sesuatu yang sebenarnya kuinginkan. Tidak mudah karena butuh kemampuan lebih. Kapan aku akan melakukan analisis ini? Soalnya bila tidak terasa memuaskan, mungkin sudah saatnya aku mencari tempat baru yang mungkin saja  bisa memberikan hal yang aku inginkan ini. Iya, ini sebenarnya soal keraguan diri.

Belajar Dari Yang Kualitas Biasa

Jadi seperti kebanyakan pemuda millenial yang berkeliaran di muka bumi Indonesia saat ini, aku juga belajar menikmati kopi. Terutama bila kopinya bersumber dari tanah air Nusantara. Karena aku cinta Indonesia, aku cinta Rupiah. Sebenarnya aku cinta uang, mau Rupiah, mau Dolar, mau Ringgit ataupun Riyal. Yang penting UANG. Melenceng sedikit, sekarang balik ke topik kopi. Tentu saja karena kopi  yang baik tidak pernah murah. Kenapa begitu? Ya tentu saja porsi petani harus baik. Namanya juga apresiasi terhadap kerja. Sama kalau saya jadi karyawan terus bekerja dengan baik (setidaknya menurut saya dan atasan saya), tapi oleh HRD hanya diberikan upah di batas bawah rerata industri. Ya emosi dong. Tidak rela. Atau kalau saya jadi pengusaha, bekerja dengan totalitas dan dengan sebaik-baiknya tetapi oleh pasar semua tidak bersedia bayar harga wajar yang berakibat saya nombok biaya produksi terus. Ya boncos . Makanya untuk kopi, aku bisa menikmati -- dan belajar menikmati -- kop...

Mengatur Prioritas Hidup (Part 2)

Sebelumnya aku pernah bercerita tentang prioritas hidupku yang tidak jelas karena ketika orang-orang lain berangkat untuk hobi, aku masih tetap ada di kantor untuk bekerja. Tidak enak melihat ketika rombongan teman-teman berjalan keluar kantor untuk menjalankan aktivitas bukan kerja, aku masih tertahan di kantor. Sekarang di tahun 2019 ini aku berniat untuk mengubah itu semua! Tidak bisa lagi hanya berkutat dengan pekerjaan lalu pulang dari kantor dalam keadaan lelah tidak bertenaga untuk mengerjakan hobi atau belajar hal baru. Aku harus menentukan prioritas dalam hidupku demi kebaikan dan pengembangan diri. Menjadi orang yang lebih baik dan lebih kaya, sepertinya enak. Dengan lebih kaya, aku punya kemampuan membayar biaya jasa orang lain agar aku lebih banyak waktu luang untuk melakukan aktivitas peningkatan diri. Tapi sekaya apa yang aku mau dan incar? Sama seperti doa, membuat target juga harus spesifik dan breakable dalam detail yang achieveable. Semakin diperhatikan ...

Senin Malam, Banyak Kesibukan, Banyak Pengalih Perhatian

Sekarang Senin malam tanggal 3 Desember 2018. Ada banyak pekerjaan yang menunggu untuk kuselesaikan. Aku perlu belajar delegasi agar hidupku lebih ringan dan terkendali. Tetapi untuk mempercayakan begitu saja pekerjaan dan tugas yang dulu biasa kukerjakan itu tidaklah mudah. Sebenarnya aku sadar tanpa mendelegasikan tugas-tugas yang ada, termasuk melatih lebih dulu agar pelaksana paham dan bisa bekerja dengan baik, aku bisa tidak ke mana-mana, stuck  saja di tempat yang sama. Itu tidak baik karena akan memicu rasa tidak puas diri yang akut, komplikasi dengan rasa tidak percaya diri, dan mungkin sedikit dengki pada orang-orang yang justru karirnya bertambah baik. Aku perlu cara berbicara yang baik secara emosional agar aku bisa paham apa yang orang lain mau dan mereka bersedia menerima pendelegasian tugas dariku tanpa banyak protes lagi. Tidak mudah tapi harus dipelajari. Siapa bilang makin bertambah usia makin banyak yang diketahui? Aku justru merasa dengan banyak kesibukan mak...

Masih Belum Dimulai?

Jadi beberapa waktu yang lalu aku menuliskan niat untuk belajar upgrade laptop Lenovo-ku. Sayangnya, sampai hari ini belum juga benar-benar bisa mengalokasikan waktu untuk mengerjakannya. Kalau diingat lagi, aku melakukan kesalahan karena membayar langganan Office 365 per bulan tetapi tidak dipakai. Pemborosan. Dengan tetap belum memulai, aku melakukan pemborosan, sekalian terlihat jelas bahwa konsentrasi dan prioritasku terletak di hal lain. Sesuatu yang perlu segera diperbaiki karena ada biaya di sini, jumlahnya tidak sedikit pula. Segera diperbaiki sifat ini.

Cerita Belajar Spesifikasi dan Upgrade Laptop

Makin kupelajari ini dan itu setiap hari makin merasa bodohnya diriku yang tidak tahu apa-apa. Misalnya soal kepemilikan laptop Lenovo yang kurasa makin menyulitkan untuk digunakan secara optimal tetapi tidak tahu cara terbaik untuk menyesuaikannya. Aku menggunakan low level laptop  dalam kehidupan sehari-hari di kantor maupun pribadi. Yang agak mendingan  (pada zamannya) adalah sebuah tablet Samsung yang cukup ringkas tetapi tidak bisa menggantikan kebiasaan menulis blog di komputer. Seperti yang ini. Memang aku yang terlalu memaksa, menggunakan sebuah  low level laptop  untuk mengedit video dan foto. Ampun betapa tersiksanya saat sistem harus membaca dan mengolah file yang dimaksud agar sesuai maksudku. Lalu saat melihat hasilnya belum memuaskan, tweaking  lagi dan lagi. Sampai tahu-tahu adzan subuh berkumandang. Sekedar sharing saja bahwa aku menggunakan Beema dan ternyata dokumen petunjuk dari website resmi Lenovo tertanggal 07-Juli-2015! Sekarang tahu...

Menjelang Tengah Malam

Sekarang sudah menjelang tengah malam. Di luar tidak ada bunyi apapun. Dalam kamar pun hanya ketukan jemari di atas tombol keyboard laptop. Pendar cahaya layar menerangi wajah tetapi tak mampu berbuat banyak terhadap kegelapan yang menyelimuti. Sudah cukup lama aku menghabiskan waktu mempelajari kode HTML5 yang kudapat dari hasil googling  beberapa detik. Mudah sekali untuk bekerja sampai lupa beristirahat. Ada banyak hal menarik yang bisa dan dapat dipelajari di luar sana. Ilmu yang berharga atau yang tak terlalu berharga tetapi menarik minat. Seandainya aku bisa lebih cerdas lagi , pikirku dalam hati. Tetapi tidak bisa juga berandai-andai seperti itu karena keterbatasan yang mustahil dilampaui. Yang bisa dan perlu dilakukan adalah menentukan prioritas dan bekerja menurut daftar kepentingan yang telah disusun itu. Mengatur waktu lebih baik, bekerja lebih cepat, konsentrasi lebih penuh, orientasi pada target yang ada. Menjadi profesional yang baik itu tidak mudah. Sampa...

Long Time Gone, Skill Need Help

Been quite a long time away from here, not knowing what good a few paragraphs would mean in this graphic-heavy world. When people's attention span limited to a few 140 characters message or graphical ones, writing a blog post seemed unnecessary. But you see, writing for your own blog is a form of art , where you can articulate your ideas and/or opinions, responding in-depth about some issues, or just promoting yourself. Good writing skills take time and effort to accomplish a certain level and it will differentiate yourself from other talking-oriented competitors. Yes, I'm talking about current job market. Not that I know a lot of it. To me, elaborating a problem - in simpe, understandable way - is a skill worth having.