Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label adult life

ini semua soal prioritas

 kalau dipikir-pikir ini semua hanyalah soal menentukan  prioritas. mau melakukan apa, kapan, dan biaya  berapa? seperlu apa dengan ini? kenapa ini dan bukan yang lain? ada banyak pertanyaan yang malas untuk dijawab karena tentunya making decision is exhausting . tidak ada yang mudah dalam hidup, kecuali beberapa hal yang dapat dilakukan otomatis seperti gerak bernapas yang pada manusia normal dan sehat sudah pasti dilakukan tanpa perlu dipikir lagi. mana ada orang sehat lupa bernapas, coba... jadi balik ke hal prioritas itu, aku pikir tidaklah mudah menjalani hidup dalam lingkungan yang penuh dengan distraksi. apalagi aku yang sudah sangat terbiasa membaca opini orang dalam 280 karakter atau lebih sedikit. kalau diberikan teks panjang langsung pusing. bagaimana pula aku bisa mempelajari hal baru dan mengerti bahwa inilah yang kubutuhkan dan keputusan ini sudah yang paling baik?

ok laptop computer, now take a break

  Jadi sebagai pengguna laptop kantor untuk juga beberapa korespondensi pribadi dan " few-ish" non-work related stuff , aku tahu bahwa tidak bisa meminta privasi terlindungi karena: 1. Tidak ada hukum positif Indonesia (setahuku) yang bisa melindungiku saat perwakilan kantor mau buka-buka isi laptop kantor. 2. Kultur kantor tidak menghendaki komputer dan jaringan datanya dipakai untuk urusan non-work . Ini berarti aku perlu melakukan langkah-langkah antisipatif untuk melindungi kepentinganku sendiri. Kepentingan sendiri ini termasuk tapi tidak terbatas pada kesehatan mental, kesehatan  fisik, preferensi hidup, dan hal lainnya. Tidak sulit menemukan orang yang tidak menganggap beberapa aspek dalam hidup harus dilindungi karena privasi itu penting. Sekarang aku perlu beristirahat jadi laptop ini perlu sebuah break  juga.

menyelamatkan diri sendiri

 kalau tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, apa yang bisa dibilang? tenggelam sendiri dalam kesulitan dan dibiarkan orang hanyut terbawa arus. kalau menjalani hidup itu perlu parasut -- bila terjun dari ketinggian -- atau pelampung -- bila menyemplung ke laut -- agar makin besar kemungkinan selamatnya. melakukan yang lain-lain dengan tidak fokus, tidak beritikad baik menyelesaikan amanah, membuat orang tak lagi mempercayaimu. dampaknya makin sulit hidupmu. kalau tak ada yang percaya, bagaimana dirimu bisa yakin akan ditolong orang? 

mendukung aktivitas vaksinasi

 kita tahulah saat ini sedang berjalan program vaksinasi covid di indonesia. kita dukung sepenuh hati dengan mendaftar saat kesempatan ada, datang tepat waktu pada tanggal yang ditentukan. ini semua bagian dari ikhtiar untuk menjadi lebih baik dalam hal kesehatan pribadi dan orang di sekitar. namanya juga usaha, tentu dilakukan sekuat tenaga. jadi besok perlu melakukan perjalanan singkat dulu ke propinsi sebelah yang kota tujuannya berjarak sekitar 150 kilometer dari sini karena mengantar orangtua untuk vaksinasi. dapatnya di kota sana, ya diterima saja, masa menolak kesempatan? soalnya tempat tinggal yang sekarang tidak mendaftar secara resmi sebagai penduduk alias tidak lapor kepala lingkungan. namanya juga tinggal di kompleks tertutup, masa iya satuan polisi pamong praja mau (dan bisa) masuk ke dalam sini lalu gedor satu per satu pintu penduduk untuk mengecek penghuninya? tidak mungkin! kita semua tahu bagaimana penegakan peraturan dilakukan secara selektif dan tajam ke bawah. j...

mengatur waktu sesuai kapasitas, prioritas, dan sumber daya lainnya.

 mencari tahu tentang manajemen waktu, pelan-pelan menerapkannya sesuai kondisi, konsisten dan berkomitmen dengan proses. lalu setelah beberapa waktu, melakukan evaluasi dengan maksud membuat beberapa perubahan dan penyesuaian demi semakin efektifnya bekerja. ini adalah upaya yang memerlukan ketekunan, kegigihan, dan kesabaran, selain tentunya kecerdasan pada tingkatan tertentu. prioritas yang tertinggi adalah menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya, dapat bekerja lebih cepat atau segera mendelegasikan tugas rutin yang tidak esensial. selain itu tentunya dapat berpikir kreatif dan menemukan solusi. coba lihat paragraf di atas. aku menuliskan hal-hal seperti aku tahu banyak hal padahal tidak.

kontrol emosi sendiri

  menjalani hidup yang datar saja? tidak menarik! naik turun kehidupan itu perlu. apalagi kalau ada yang bisa dipelajari dari pengalaman pribadi. atau tidakpun, mendapatkan informasi pengalaman orang lain, analisis, dan tentukan mau melakukan apa. jangan sampai tidak mengakui atau tak menyadari bahwa tanpa bantuan orang lain, diri ini tidak akan bisa sampai di sini. jadi, kontrol emosi sendiri, karena aku butuh orang lain biarpun mungkin orangnya tak kusukai. ubah parameternya, ganti threshold  nya, bukan sekedar rasa tak suka. tetapkan nilai yang berharga, misalnya integritas pribadi lawan bicara. biarpun gaya bicaranya menjengkelkan, tapi kalau true to her words , tidak ingkar janji, ya kontrol emosi dan tidak perlu sampai meng- write off  orangnya sebagai sesuatu yang buruk. offendedness itu lebih besar porsinya dari diri sendiri.

memandang masa lalu, masa kini, dan masa depan

Sebagai orang yang tidak mungkin melakukan perjalanan waktu dan mundur ke masa lalu untuk mengubah sesuatu (keputusan yang diambil, peristiwa yang terjadi, etc.), atau melompat ke masa depan untuk melihat apa yang terjadi atas keputusan yang diambil, aku menghabiskan terlalu banyak waktu berkhayal dan berandai-andai. Biarpun aku tahu ini tidak baik, tetapi tetap saja aku lakukan tiap kali aku ada waktu luang atau semacam down time  di dalam kepala. Seperti semacam habit  yang buruk tetapi adiktif, aku ketagihan. Memandang masa lalu dan berandai-andai melakukan B dan bukannya A. Memilih membeli C dan D daripada menghabiskan semuanya ke E. Semacam itulah, permainan dalam kepala yang berisi penyesalan dan mengutuki diri sendiri. Merusak sekali tapi memang nagih . Masa kini yang tidak dirasa optimal dan cukup memuaskan memang tidak enak, lalu tentu saja, ketakutan akan masa depan yang tidak jelas. Ini sangat amat merusak ketenangan hati dan pikiran. Bisa membuat sakit. Seharusnya ...

kata orang, bagikan pengalamanmu!

 Setelah malang melintang dalam beberapa akun media sosial yang (pernah) ada, kesimpulan yang kudapatkan untuk menambah pengikut adalah sederhana: Bagikan pengalamanmu! Misalkan dalam belajar hal baru membangun sebuah perahu. Biasakan mendokumentasikan sebanyak mungkin hal yang dilakukan dan keputusan-keputusan yang diambil sampai akhirnya produknya selesai dan dapat ditampilkan ke umum atau sekedar dinikmati pribadi. Mengapa perlu membagikan pengalaman? Karena mungkin saja dalam waktu yang sama, ternyata satu atau beberapa orang lain sedang melakukan hal yang sama, dalam beberapa variasi berbeda. Bila ternyata orang lain itu mempelajari (misalnya) kesalahan-kesalahan yang kulakukan dan setelah itu mencoba mewujudkan yang sama sambil meminimalisir dampak merugikan yang mungkin terjadi, sebenarnya itu adalah net positive  untuk banyak orang. Tentunya di kemudian hari aku ketemu iterasi lebih baik yang dilakukan orang itu, lalu aku mencoba mendapatkan tujuan dengan mengubah tata...

menjaga tetap di arah yang benar

 menjalani hidup tentu harus ada arah dan tujuan agar tidak menjadi pribadi yang terombang-ambing tak jelas mengikuti arus saja. tidak baik dan tak sehat dalam jangka panjang kalau hanya bermental "terserahlah, ngikut saja..." kelihatannya akan lebih mudah hidup seperti itu tetapi pada akhirnya akan hidup dalam rasa menyesal kenapa tidak melakukan sesuatu. siapa juga yang mau hidup panjang umur sampai tua tapi dalam rasa penyesalan karena tidak melakukan satu hal atau hal lain karena berkepribadian risk averse ? bayangkan menghabiskan hari tua dengan berandai-andai kalau dulu melakukan xxx dan bukannya duduk manis jadi orang baik dan tak mau kecipratan getah orang yang makan cempedak ( very random local saying being paraphrased, i know ). jadi mari kita melakukan satu hal dan/atau hal lain setiap hari setiap saat, mengambil keputusan sendiri dan bukan menyerahkan segalanya kepada orang lain atau bagaimana situasi. hidup untuk diri sendiri. susah senang konsekuensi dari keputu...

memandang kondisi "dompet" dan termenung

 adalah kebiasaan buruk yang dilakukan bertahun-tahun sampai sekarang ini seperti sebuah peribahasa: besar pasak daripada tiang. bukan berarti aku punya utang di mana-mana. tidak ada utang yang tak ter- manage olehku sampai gagal bayar. sampai sekarang kalau ada urusan keuangan selalu bisa ditanggulangi. hanya saja, ketika memandang laporan bulanan pencatatan keluar masuk kas, membuatku merasa kalau kebiasaan yang buruk ini akan membuat terperosok entah besok entah lain waktu nanti. untuk malam ini kesimpulannya sama dengan yang sebelum-sebelumnya: jangan sampai sakit, atau terlibat kecelakaan, atau menjadi korban penipuan / pencurian. bisa bangkrut nanti.

Mendapat Kabar Kematian

Ada berapa banyak orang yang pernah menunggu-nunggu kabar kematian orang lain? Ada berapa banyak orang yang mendoakan kematian orang lain atau berharap dalam hati (bila tak berdoa) agar ada yang segera wafat? Tergantung kondisi masa itu, tergantung relasi antara kedua orang itu juga. Misal di zaman pandemi, saat kapasitas rumah sakit dalam merawat pasien sampai sembuh sudah melewati batas, semua tempat penuh, lalu keluarga kita ada yang kena penyakit dan butuh diobati segera. Mungkin saat itu, saat sudah berusaha mencari ke mana-mana berusaha tapi tak mendapatkan pelayanan karena penuh, mungkin tanpa sadar berharap segera mendapat kabar bahwa ada yang meninggal dunia sehingga terciptalah slot kosong yang bisa diisi oleh anggota keluarga kita tersebut. Kabar kematian orang lain menjadi kabar baik buat kita. Hore! Kebanyakan orang tidak berpikir seperti itu -- mensyukuri kematian orang lain -- bahwa ada kemungkinan akan menjadi orang yang bahagia dengan kematian orang lain.

Memahami Kebutuhan Aktualisasi Diri

 Tidak Pernah Padam Malam ini aku teringat pada peristiwa beberapa tahun yang lalu saat aku berjanji akan tetap memprioritaskan diri sendiri (kesehatan fisik, mental, dan finansial) dalam segala hal. Keputusan yang diambil, arah yang dilalui, apa yang dilakukan -- dan yang tidak dilakukan -- untuk sebaik-baiknya diri sendiri dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Yang luput dari pengamatanku saat itu adalah tidak selalu kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang itu selaras. Misalnya aku sangat lapar, tetapi saat itu sedang dalam perjalanan di wilayah pelosok Indonesia. Kebutuhan jangka pendek adalah makan untuk mengatasi rasa lapar. Lalu setelah beberapa kilometer, kutemukan warung yang hanya menyediakan pilihan terbatas. Makan mie instan padahal baru sehari sebelumnya makan menu yang sama, jelas tidak sehat bagi tubuh. Tetapi aku harus makan sesuatu agar tidak sampai jatuh sakit! Kontradiktif, dilematis, pusing. Kembali ke pembicaraan awal, setelah teringat hal itu tentu...

Melakukan Hal Yang Benar

 Semuanya tergantung pada definisi kebenaran yang dipahami dan/atau dianut. Menurutmu itu benar, lalu kamu melakukan tindakan sesuai kebenaran versimu itu. Tapi tentu bisa banget salah di hadapan kelompok lain. Kebenaran manusia itu jamak. Menyatakan diri melakukan hal yang benar dan paling benar sehingga tak ada lagi yang lebih benar, justru bisa menjerumuskan dalam kesalahan.

Mencadangkan Kenangan Masa Lalu

  Kenapa tidak melakukan sesuatu yang penting untuk orang-orang dengan usia tertentu, yaitu prosedur / alat untuk mencadangkan kenangan dengan segala nuansanya? Sekarang ini kita punya smartphone  yang selagi masih memiliki ruang untuk menyimpan data, bisa merekam dan mencadangkan kenangan pada suatu waktu. Tetapi yang disimpan itu ya imaji gambar diam atau bergerak saja. Nuansa dan konteks mungkin sekali hilang dari rekaman tersebut. Antara yang mengalami langsung bila memutar ulang rekaman, akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan yang menonton saja sebagai pihak ketiga di luar pelaku. Aku tahu ini ide yang sudah pernah dan sering diupayakan orang untuk dapat terwujud. Sebuah ide yang akan membuat kaya siapapun yang berhasil mewujudkannya. Bayangkan saja, mencadangkan kenangan masa lalu dan kemudian bisa dipakai dan diulangi, kapanpun dimaui. Bayangkan implikasinya, menarik bukan?

Melanjutkan Upaya Mengurangi Distraksi : Mencoba Mencari Celah

Jadi aku sudah menghapus beberapa program dan aplikasi dari peranti pintar yang kupakai sehari-hari. Sekarang terlihat ada lebih banyak ruang kosong dalam media penyimpanan, bisa kuisi dengan rekaman foto dan video yang terjadi di sekitarku. Hanya saja, aku menyadari ada kebiasaan baru  yang muncul, aku seperti mencari celah untuk dapat melakukan hal yang dulu bersifat distraktif dalam aktivitas. Tidak ada game? Coba browsing  tak jelas tujuannya! Atau nonton layanan sreaming  video lebih lama dari biasanya! Binge-watching, woohoo! Lalu aku seperti menangkap diri sendiri melakukan hal yang merugikan: membuang waktu. Padahal kalau diterawang, waktuku tidak banyak lagi untuk melakukan upgrade  diri agar bisa mencari kesempatan kerja baru. Masa aku rela melakukan hal yang sama lima tahun ke depan dan tak ada harapan untuk mendapatkan promosi atau kenaikan apresiasi (baca: gaji) kecuali pemilik perusahaan bermurah hati untuk "membuang" uang dalam kondisi sosial ekonomi p...

Mengurangi Distraksi

 Mengalami Perubahan Yang Merugikan Tidak disangka kalau aku sampai harus melakukan tindakan cukup ekstrim dengan mengurangi berbagai macam aplikasi terpasang pada smartphone -ku dan laptop kerjaku. Semuanya karena aku merasa terjadi perubahan yang merugikan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Ada beberapa program dan aplikasi yang kupasang karena bisa, bukan karena aku mau pakai, apalagi memang karena dibutuhkan. Ada pula beberapa program dan aplikasi yang kusadari mengganggu waktu kerjaku karena menjadi distraksi dalam bekerja. Bayangkan, dalam konsentrasi berpikir memecahkan suatu masalah lalu melihat icon atau notifikasi muncul bahwa aku harus melakukan sesuatu atau merespon sesuatu dengan segera. Akibatnya konsentrasi buyar dan malah melakukan hal lain yang not related at all dengan pekerjaan yang dihadapi. Ini merugikan karena aku sudah merasakan dampaknya beberapa kali. Kualitas kerjaku menurun, tugas yang sama yang sebelumnya butuh hanya 1 jam sekarang menjadi butu...

Menyelesaikan Konflik

 Tidak mungkin bisa hidup tanpa ada konflik sama sekali. Berarti sangat perlu  kemampuan untuk menyelesaikan konflik, entah itu sebagai bagian dari salah satu pihak yang bertikai atau sebagai pendamainya. Penting sekali. Seperti yang kualami sekarang, aku ragu untuk bertindak karena takut salah padahal konflik semacam ini perlu segera dicarikan solusinya, mendamaikan pihak-pihak yang berselisih paham dan bertikai. Kemampuan diplomatis diasah mulai dari hal kecil sehari-hari di lingkungan sosial / profesional terdekat. Mari kita lakukan ini! Semangat!

melangkah ke arah yang baru

ini masa yang penuh cobaan dari beberapa macam sisi. perlu berhati-hati dalam melangkah. atur napas, lihat sekeliling, terawang ke depan. mau ke mana, mau jadi apa, mau berbuat apa ke siapa. soalnya sekarang ini salah sedikit lalu ketiban cobaan, tak terbayangkan bagaimana bisa keluar dari itu. pandemi, persaingan dunia kerja, ketiadaan teman dan keluarga yang dekat dan bisa membantu / menolong saat membutuhkan. mencoba menentukan arah baru karena setelah dipikir dan dianalisis lagi, hidup dengan cara yang sama dan mengandalkan sumber penghasilan yang itu-itu saja, alamat buruk sekali saat terkena cobaan. sekarang aku berbicara seperti orang taat beragama padahal berdoa saja sangat jarang. melangkah ke arah yang baru, perlu, tapi aku belum tahu bagaimana caranya.

malam dan keraguan

sudah malam dan waktunya meragukan diri sendiri. sering berulang dan membuatku bertanya-tanya, apakah hanya aku sendiri yang seperti ini? meragukan diri sendiri dan orang-orang terdekatku? jadi masalah utamanya adalah aku merasa belum cukup berbuat untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat yang kusayangi. ada banyak kesempatan yang kulewatkan karena aku ragu untuk mengambilnya. tidak seperti orang lain yang mampu merasa bisa!  dan melakukannya, aku cenderung menghindar atau pindah ke barisan belakang dari orang-orang di mana aku bisa merasa aman untuk mengamati perilaku orang lain. padahal dengan berada di belakang orang lain, aku melewatkan kesempatan untuk unjuk gigi dan mendapatkan perhatian untuk membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. orang yang terlihat aktif bertindak dan dapat menjelaskan tindakannya, akan lebih menarik dan diingat orang-orang lain dibandingkan menjadi seperti wallflower . tidak bisa tidur cepat, tidak bisa tidur nyenyak, karena merasa belum bertindak opt...