Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label alternatif

#tidakmudahmaju karena #dirumahaja

Bingung melihat keadaan saat ini karena tidak jelas siapa yang dapat diikuti dan didukung. Perang narasi dan pancingan sentimen untuk mengumpulkan massa sangat terasa. Entah apa jadinya masa depan bangsa ini. Dengan membiarkan segalanya terjadi tanpa ada check and balance maka akan ruwet hidup di Indonesia di masa yang akan datang. Soalnya ada pembiaran atau malah dukungan tersembunyi atas pemanfaatan simbol-simbol tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok -- if you know what I mean. Jadi tidaklah banyak yang tersisa yang bisa dilakukan. Menghabiskan waktu #dirumahaja sudah beberapa bulan karena wabah pandemi ini, perlahan-lahan terasa kejenuhan, frustrasi. Berhati-hatilah jangan sampai melakukan kesalahan dengan melampiaskan frustrasi itu pada anggota keluarga yang tinggal bersama-sama dengan kita. Itu tidak baik dan tentu salah. Jangan sampai terjadi.

sakit kepala ini disebabkan oleh stress

dunia dihajar wabah dan semua orang yang mengaku rasional dan paham pasar, ekonomi, dan tetek bengek lainnya malah seperti panik dalam upaya mengoptimalkan keuntungan pribadi atau institusi tempatnya mencari nafkah. semua orang dalam kondisi apapun tentu mengincar sebesar-besarnya keuntungan pribadi, lalu sekuat-kuatnya usaha menghindari kerugian. ogah rugi, ngotot untung. sedangkan aku di sini merasa stress karena setiap hari melihat paper asset -ku makin menyusut nilainya tanpa bisa dibendung karena aku ini siapa sih dibanding semua orang pintar rasional paham pasar dan ekonomi? kehilangan harta sampai separuhnya dan tak jelas apakah dan kapan bisa recovery . semua beban pikiran ini membuatku stress . lalu sekarang aku mulai merasa lapar.

Mengantuk Tapi Merasa Berutang

Semuanya sesimpel rasa. Aku merasa mengantuk. Tapi aku tak enak pergi tidur biarpun sudah lewat pukul sepuluh malam karena aku merasa berutang pada diri sendiri untuk membaca, belajar, dan mengasah kemampuan pribadi. Ada terlalu banyak waktu yang kuhabiskan untuk bekerja. Dalam seminggu mungkin aku bekerja lebih dari empat puluh jam tapi lemburnya tidak ada harganya. Aku tak dibayar. Tak dipuji. Lebih sering merasa diperlakukan tidak menghasilkan output sesuai harapan. Aku merasa mengantuk tetapi belum bisa tidur.

Melibatkan Diri Dalam Permasalahan Yang Ada - (Bag. 4 - Evaluasi)

Dalam tulisan sebelumnya di sini tentang pemaksaan kondisi dan posisi, dengan mempertimbangkan pula tentang keterpaksaan untuk melibatkan diri secara terbatas dan terukur di sini , tidak bisa tidak memang harus rutin melakukan evaluasi atas reaksi yang muncul dan benefit  atau loss  yang muncul. Justru bila tak melakukan evaluasi, bagaimana kita bisa mengkonfirmasi bahwa tindakan melibatkan diri sendiri itu baik dan bermanfaat serta perlu dilanjutkan, atau sebaiknya dihentikan saja dan dilupakan. Dikuburkan? Iya, terdengar aneh memang, ketika sebelumnya aku menyarankan untuk melibatkan diri dalam permasalahan yang ada tetapi pada tulisan ini aku meminta untuk ingat dan menahan diri. Tidak konsisten kalau kata orang, seperti yang pernah kubahas di sini . Perlu perbaikan diri dan kontrol emosi kalau mau tetap menjaga faktor keberuntungan dari interaksi dengan orang lain. Aku memang belum bisa menjabarkan dengan sederhana tapi akurat karena kemampuan membahasakan sesuatu hal ...

Televisi? Mengapa?

Sudah masuk bulan ketiga aku ditugaskan di kota ini dan sampai sekarang masih saja televisi itu belum kubongkar dari dalam kotak kardusnya. Masih teronggok di sudut kamar, di balik pintu, di bawah tumpukan plastik dan tali rafia serta payung. Sepertinya mengumpulkan debu. Aku memang sengaja tidak membongkarnya karena tak merasa butuh menonton televisi. Coba saja jelaskan padaku, dengan alasan yang bagus, kenapa aku harus memasang televisi di kamar? Berita bisa kudapatkan dari browsing. Hiburan bisa kudapatkan dari internet atau radio. Film yang kutonton biasanya bisa dimainkan via laptop. Aku tak punya konsol game yang harus disambungkan ke televisi. Terima kasih, Tuhan, untuk satu itu. Tak bisa kubayangkan betapa antisosialnya aku bila berkutat hanya di dalam kamar untuk bermain game. Jadi sampai sekarang aku belum punya alasan kuat untuk memasang televisi itu. Lebih baik membaca buku atau tidur, bila ada waktu luang. Atau mengasah kemampuanku berkreasi dengan apa yang ada di...