Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label makna hidup

Belajar Dari Yang Kualitas Biasa

Jadi seperti kebanyakan pemuda millenial yang berkeliaran di muka bumi Indonesia saat ini, aku juga belajar menikmati kopi. Terutama bila kopinya bersumber dari tanah air Nusantara. Karena aku cinta Indonesia, aku cinta Rupiah. Sebenarnya aku cinta uang, mau Rupiah, mau Dolar, mau Ringgit ataupun Riyal. Yang penting UANG. Melenceng sedikit, sekarang balik ke topik kopi. Tentu saja karena kopi  yang baik tidak pernah murah. Kenapa begitu? Ya tentu saja porsi petani harus baik. Namanya juga apresiasi terhadap kerja. Sama kalau saya jadi karyawan terus bekerja dengan baik (setidaknya menurut saya dan atasan saya), tapi oleh HRD hanya diberikan upah di batas bawah rerata industri. Ya emosi dong. Tidak rela. Atau kalau saya jadi pengusaha, bekerja dengan totalitas dan dengan sebaik-baiknya tetapi oleh pasar semua tidak bersedia bayar harga wajar yang berakibat saya nombok biaya produksi terus. Ya boncos . Makanya untuk kopi, aku bisa menikmati -- dan belajar menikmati -- kop...

berbuat dan berbuah - bagian 1: pada awalnya...

tidak mudah untuk melakukan kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan, tetapi seperti itulah yang diminta oleh tokoh yang pernah berjalan di muka bumi ini sekitar dua milenia yang lalu. awalnya aku berpikir untuk menjadikan update blog ini sebuah renungan rohani tetapi untuk kebaikan diriku sendiri sebaiknya tidak usah berbicara soal religiusitas diriku sendiri. aku tidak merasa sebagai orang beriman yang baik dan taat pada aturan dalam agama jadi berbicara tentang ini terasa tidak tepat. jadi aku ubah konteks "berbuat dan berbuah" menjadi sebuah refleksi diri untuk perbaikan yang tidak terkait dengan religiusitas manusia atau hubungan dengan suatu higher being  sama sekali.  berbuat semasa hidup tak mungkin tidak berbuat apapun. melakukan tindakan yang ada konsekuensinya. memilih yang ada. kalkulasi lalu mengambil keputusan yang berimplikasi pada masa depan. semuanya bisa terasa acak namun ketika melihat ke belakang beberapa waktu kemudian mungkin terpikirkan, ...

Melibatkan Diri Dalam Permasalahan Yang Ada - (Bag. 3 - Penunjukan)

Seperti yang telah kujelaskan di sini dan di sini , untuk dapat terlibat dan tetap murni  itu tidaklah mudah karena adalah lumrah bagi kita menemukan orang yang bersedia terlibat karena dorongan kebutuhan personal atau kepentingan pribadi/kelompok. Ada opportunity  yang muncul maka melakukan reaksi melibatkan diri.  Untuk itulah dalam setiap kejadian, dalam niat membantu mencarikan solusi, tetap berpikiran jernih dan sigap menganalisis dinamika yang terjadi. Siapa saja para pemain yang terlibat dan apa kira-kira tujuan masing-masing mereka. Mengajukan diri untuk menyelesaikan masalah, menerima penunjukan atasan, atau memang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah, apapun itu, tetaplah berpikir dan sadar. "Cerdik seperti ular tetapi tulus seperti merpati," kata-kata yang pernah kubaca, kudengar, dan diajarkan -- meski tidak lengkap -- menjadi acuan dalam bertindak. Tidak semua orang mau percaya kalau dijelaskan dan akupun juga. Tetapi memang dalam masalah ya...

11 PM On A Sunday Night Am Working

Saat semua orang bersiap tidur agar bisa bekerja di Senin pagi esok hari, di sini aku baru mulai membuka laptop untuk mencari bahan cara membuat sebuah resource plan sederhana untuk project yang seharusnya tidak rumit. Menurutku tidaklah rumit asalkan si project manager-nya bisa bekerja dengan baik, tidak malas, berkomitmen pada target dan bersedia memposisikan dirinya sesuai tanggung jawab peran yang dia emban. Begini. Aku tidak takut bekerja keras dan bila harus bekerja dengan jam lebih panjang dari orang-orang lain. Yang menjadi masalah secara personal adalah bila semua kerja keras itu mendapatkan apresiasi minimal. Jadi ada strategi personalku yang perlu diubahsuaikan untuk menghindari hasil akhir yang tidak kuinginkan. Lebih pintar dan lebih cerdas. Jam sebelas malam lebih dan sebentar lagi hari Senin. Aku baru membuka laptop. Sekarang ini berupaya menemukan bahan dan cara terbaik merancang sebuah resource plan dan menyelesaikannya dalam waktu satu jam saja.

The Agony of Not Knowing

Merasakan ketidaktahuan dan tertinggal -- or being left out -- sungguh perasaan yang tidak mengenakkan. Semua orang tertawa atas sesuatu hal yang mungkin lucu tapi kita tidak paham. Lirikan bermakna yang kita tidak tahu sebagai kode apa. Senyum yang diberikan ke orang di sebelahmu tapi tidak untuk kamu. Aku tahu posisiku yang tidak tepat dan cenderung tidak menguntungkan.  Itulah sebabnya perlu reposisi untuk menghadapi keadaan dinamis yang bekerja seakan-akan against my own interest.  Antisipasi, aksi, evaluasi, reposisi, antisipasi lagi, ulangi. Seperti siklus yang tak selesai selama masih hidup, siklus yang dimulai sejak rasa sakit karena ketidaktahuan dan pertanyaan pada diri sendiri: "Apakah aku dimanfaatkan secara tidak adil atau apa?" Tidak melupakan bahwa identitas yang kubawa sejak lahir dan diterjemahkan secara bebas di sini u ntuk mengkategorikan orang -orang secara gampang tanpa perlu mempertimbangkan aspek keadilan, kemanusiaan, atau kesamarataan. Den...

4 a.m. and Awake

It's 4 a.m. and I'm already wake up. A lot of things need to be done, everything is important, and my mind keep working at this one problem before it jumped to another one. From personal life to professional life then back to personal again. I need to tackle one by one, prioritize, and keep on working to solve everything. Too much, already, and my mind is actually tired.

Tahun Baru, Semangat Baru

Ada banyak hal yang terjadi hanya dalam dua minggu pertama tahun ini. Aku tidak akan merincinya satu per satu tetapi yang jelas aku punya semangat baru untuk mengejar dan mencapai lebih banyak hal lagi. Belajar dari pengalaman yang membukan mata dan memperluas wawasan, membuatku diingatkan untuk tetap rendah hati. Bersiap untuk perubahan yang akan lebih banyak lagi.

Menentukan Prioritas Hidup

Yeah, aku dalam masalah. Pada usia semuda ini masih juga tidak punya "tujuan hidup" dan "mau jadi apa nanti" yang sebaiknya sudah dimiliki sejak usia dini. Sekarang ini karena (masih) tidak punya, aku menjalani hidup dengan membiarkannya mengalir begitu saja seperti air. Bukan mengalir. Hanyut. Ini berbahaya. Tidak bisa dibiarkan lebih lama.