Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label life

Menyatakan Diri Kepada Google

  Malam ini membuatkan akun buat seorang anak di bawah umur dan sedikit merasa bersalah karena berarti aku memberitahukan kepada Google bahwa ada orang bernama XYZ di Indonesia dan punya relasi denganku. Menyesal juga karena orangtua anak ini sengaja tidak membuatkan akun media sosial apa pun karena belum mau menunjukkan kepada orang-orang bahwa anak ini ada dan tinggal bersama mereka. Ini bukan soal legalitas atau hal melanggar hukum lainnya. Justru sebaliknya, hukum yang berlaku di Indonesia mengakui anak ini secara resmi dan legal. Hanya saja, mereka sengaja tidak menunjukkan ke raksasa-raksasa internet bahwa anak ini ada. Maksudnya biarlah jejak digitalnya seminim mungkin. Tentu saja aku mendapatkan izin dari kedua orangtua anak tersebut tetapi seharusnya aku bisa berkata, "Tidak perlu, nanti saja"?

Masih Belum Juga Dimulai

Sebelumnya, aku menulis soal keenggananku untuk memulai suatu pekerjaan yang sebenarnya cukup mudah. Tinggal melakukan pencarian secara intens di internet bila aku mentok. Yamg perlu kulakukan adalah mengajukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang straight to the point. Aku perlu berkomitmen pada kebutuhanku sendiri. Pada keinginanku untuk maju. Pada kebutuhanku memperbaiki diri dan meningkatkan kesejahteraan. Belajar dan berkembang. Terdengar gampang tetapi pelaksanaannya tidak seperti itu. Perhatianku gampang teralihkan dan minatku tersebar cukup luas dalam banyak hal. Sebenarnya aku tahu kalau kemampuanku masih bisa ditingkatkan. Sadar bahwa potensiku belum tergali sepenuhnya. Seandainya saja tantangan yang datang membuatku mau tak mau menjalani perubahan. Tentu saja suatu proses perubahan itu akan membuat diriku menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Restorasi Vespa Yang Mana?

Jadi aku mengerjakan banyak hal tahun ini. Banyak kegiatan. Banyak target yang diupayakan tercapai. Salah satunya adalah melakukan restorasi Vespa yang aku punya. Ada hal lucu soal ini yang mungkin akan butuh beberapa posting agar bisa lengkap tersampaikan. Intinya, tahun ini aku berhasil melakukan restorasi skuter, seperti yang kujanjikan kepada diri sendiri beberapa tahun yang lalu. Masalahnya, skuter yang ku- restore ternyata bukanlah Vespa target awalku. It's a twisted episode, really. Semuanya hanya karena aku tak cukup cepat dan tegas dalam mengambil keputusan: mengirimkan Vespa pertamaku ke Bandung untuk dikerjakan. Sedih ya? Iya.

Menjaga Perasaan

Ada hal yang tak bisa diungkapkan dengan jujur, terbuka, dan langsung karena "keharusan" untuk menjaga perasaan . Tidak mudah memang. Makin lama makin menggerogoti perasaan diri sendiri yang terbiasa untuk jujur. Menghendaki segalanya berjalan baik namum ada ketidakcocokan yang perlu diselaraskan. Mendiamkan itu semua membuat keadaan tidak stabil, tidak juga menjadi lebih baik. Keinginan yang ada yang harus diredam. Sesuaikan kemauan dengan kemampuan.

Pertama, Dapatkan Kepercayaan

Ketika masuk ke dalam lingkungan baru, aku tahu akan ada banyak tantangan yang kudapat. Lingkungan yang sudah terbentuk culture -nya, lengkap dengan orang-orang yang mungkin saja merasa sudah "menguasai" domain-domain tertentu. Sudah punya ceruk masing-masing dan akan bertahan dan berupaya mempertahankan dominasinya pada daerah tersebut. Tentu saja yang pertama kali kulakukan adalah berupaya mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang ada dalam posisi menentukan. Mereka yang menandatangi persetujuan. Yang punya kekuasaan dalam tahap dan bagian tertentu yang bisa mempengaruhi bahkan menentukan keberhasilan project delivery  kami. Pendekatan profesional dalam rangka mendapatkan kepercayaan itu tidaklah mudah. Harus dilakukan secara terus-menerus dan dengan seksama. Tidak ada itu namanya overpromised but underdelivered.  Akan memalukan dan tidak memperlihatkan kualitas yang aku punya. Biarpun kualifikasiku tidaklah bisa dikatakan sophisticated  atau bagaimana. Setidakn...

36 Jam Lagi

Dalam tiga puluh enam jam lagi, aku akan memulai babak baru dalam perjalanan hidup yang sering nyasar ini. Semoga aku tak menyasarkan diri sendiri terlalu jauh. Sudah susah di tahap ini kalau harus memutar balik. Wajar sekali rasa ragu dan takut itu pasti ada.

Work Life

This should be brief. In your work life, you should have targets. From your manager(s), or from yourself. When all your personal target is money and more money, even after ten years of full time work, how much will make you satisfied? Going up daily, get to work, finish the day's tasks, go back home, and repeat the same thing tomorrow, how long can you endure without losing parts that make you what you are? That is, I assume you are a lot more than just a money-oriented adult. Therefore, other things beside money that you are aspire/want to be/get. Your work life, how much it resembled your dream? Close enough? Very different?

2014 is Such An Eventful Year

Such an eventful year, this past 2014. Many things happened for the first time. Achievements and failures. Hopes fulfilled, dreams realised, sweat and tears spent, some in vain, some were not. Brightly-colored or dull-grey and black. Too many to count. 2014 is the year this company I worled for, gave me a "Best Employee" award, one recipient among a hundred, out of around six thousand employees. Pride? Yes. But I am perfectly aware it was teamwork and the achievement was never mine alone. 2014 is the year that I as an adult finally used my right to vote, on both elections. First accompanied by my father, may his soul rest in peace, the second was to fulfill my promise to him while standing on his bed at the hospital. We put high hopes on the guy we trust to be the president and gladly for us until this day, he hasn't failed us the way his predecessor did. Even in test of times like reducing fuel subsidies and AirAsia crisis.

Rendah Hati. Sederhana.

Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu sejak konsepnya ada dan doa sederhana itu kuucapkan, aku masih mendoakan hal yang sama: "Ajari aku untuk rendah hati dan buat aku tetap sederhana." Karena aku sadar Tuhan masih memperhatikanku dan aku masih belum bisa memenuhi doa itu. Keinginan yang muncul karena aku tahu aku masih jauh dari pribadi yang rendah hati dan sederhana. Dan Tuhan masih baik, memberiku berkali-kali kesempatan untuk berubah dalam small increments karea Dia tahu, perubahan drastis akan membuatku jatuh. Terima kasih atas semuanya, Tuhan.

Don't Expect Work

Tim Ferriss said, and I quote, " Do Not Expect Work to Fill a Void That Non-Work Relationships and Activities Should". What does that tells me? Well, for one thing, I might be prioritize wrongly and for such a long time. Bad enough that I was always not able to finish a lot of things important, I even use the long-hours work to justify that I don't have adequate time to make new friends or properly bond with colleagues. No wonder sometimes I felt deeply unsatisfied with how the condition is which actually it was I who put myself in this in the first place. This is not and never good. And all those time passed without any ability to get back? Such a huge waste.

Some Decisions Are Just Hard To Make

There are some decisions that you might have to make in this life, and it would need very long time for anything to formulate. Life's decisions, about things that will affect a lot of aspect in your own life, can be very frightening to make. Your mind could be paralyzed by the fear, afraid of the imagined consequences. If you could, you just let someone else do all the weighing and the decision making. Even better, that person will proceed with all the actions needed and that person -- as long as it was not you -- will bear the consequences. Oh, if only life is that easy (for some people). So here I am in a group of people who wouldn't take any decisions, but hate the condition that they are living in. Which is not a happy nor healthy condition to live in. Yet, because of the fear, these people, and to some extent, me included, will be happily let other people to make decisions for us. All because of making decision is a horrible task/responsibility. I cannot blame peop...

Live With Your Own Hands

You have hands, two of them. Why not create something that you can appreciate? You are able-bodied young man, why not build something tangible and would last? Why spend so many times in front of computer, doing things for big companies, making/processing/analyzing datas that in one or two months from now, no one will use anymore? Why spend minimum twelve hours in an office and most of the time you would come home with nothing to be proud of, nothing to be showed to? Where's dignity in that? Self-respect? Where's the satisfaction? I know this current project is not easy. It's complex and is high stake for a lot of people. And with that came the clases, issues, bickerings and stress. But you got to kjow your capacity, your depth of character, your ingenious way of solving problems, seeing opportunities, and act upon them. You push yourself hard to achieve any and all target that were set upon you on daily, weekly, monthly, basis. You take them all and work real hard bec...

Menulis Buku Seperti Orang Lainnya.

Baru saja menyelesaikan buku karya Soleh Solihun yang berjudul Kastana Taklukkan Jakarta . Seperti biasanya, membaca buku karya penulis Indonesia, memicu pertanyaan dalam hati. Kali ini adalah rasa iri yang sulit ditahan karena pertanyaan: "Kenapa buku seperti ini bisa diselesaikan penulisnya sehingga kemudian diterbitkan?" Aku tahu Soleh tentu saja termasuk orang yang cukup menarik sehingga -- hei, kenapa tidak menerbitkan kisah tentang dirinya? Mungkin akan menarik dan akan ada banyak orang yang bisa relate their own life with his. Misal soal anak Bandung yang setelah menyelesaikan kuliah kemudian merantau ke Jakarta untuk bekerja. Tentang menjadi wartawan dan mendirikan media. Tentang menjadi komik dan bersuara tentang kondisi pekerjaan dan atasan yang kurang adil/bijaksana. Tentang... Sepertinya melantur karena buku itu menurutku tidak dimaksudkan sekompleks seperti yang aku pikirkan. Anyway , sekarang yang perlu kulakukan adalah mengerahkan segala daya up...

Focus On What's More Important: My Life and My Surroundings

Let's just say that I suffered from a form of modern day ailment: Social Media Fatigue. I spent so much time checking and share update on many social medias that I subscribe to, I have almost no time or energy for anything else. I barely keep up with this blog or any other blog that I have, no new Flickr update, Tumblr post down to almost none, and such. Even my tweets are no longer funny, smart, or entertaining. I even lose my ability to laugh at myself, all I want to do is "outshare" everybody else on such and such social media accounts. And one most time, energy, and mind consuming social media of all? Path.

Learn And Unlearn

What I need right now is to learn new things or dig deeper for some of the topics I already know but only on the surface. To be more knowledgeable would benefit me. But I can lost focus easily which would make my learning process hard. And then I must unlearn some things that useless or not really useful for next five years. I can only depend on myself, right?

This Saturday Morning

Sometimes, like on this Saturday morning, I log on to company's network and reply emails. Even compiled and sent report for everyone involved in my part of work. Why would I do that? I don't know. This is not the usual me. But since I don't feel any obligation to do that work, I'm fine with it.

Berbeda.

Melakukan perjalanan sehari-hari menggunakan angkutan umum membuatku sadar bahwa kita berbeda. Menurutku, aku sepantasnya bersyukur atas apa yang aku peroleh. Dari mengamati sekitar, aku diingatkan bahwa masih ada banyak orang yang taraf ekonominya lebih rendah, tapi bisa terlihat hidup lebih berbahagia. Misalnya si supir angkot tadi. Dia terlihat sangat senang bisa bawa pulang tiga puluh ribu rupiah pada hari ini. Aku? Bawa pulang sepuluh kali lipatnya pun, belum tentu bisa tersenyum. Sangat berbeda. Jauh. Mungkin hidupku terlalu serius dan aku sering melihat gelas yang setengah kosong.

New Challenge!

Okay ! Now that it's official, I've been declared by my manager as the new Project Controller in MEGA 2 project that (informally) will be launched next week! That means I would be doing more work and my bosses will depend on me to supply them with the gist of roll-out progress. Of course I'm afraid that I would screwed up on this. But I think that feeling is normal whenever anyone get assigned to a new role that one never request. I don't know how my boss pick me for this role. Was it because I seemed to be able to answer some question faster than anybody else? Was it because of my attitude? Or how I dressed and interact in meeting with customers? Or was it because no one else will take the role? I will found out as time goes by and I took on the new role. This is a challenge and I hope I can do it!

Kita Ini Manusia, Bukan Gajah!

Pernah dengar cerita tentang seseorang yang melihat gajah besar terikat tali kecil? Orang yang merasa heran itu bertanya pada pawang gajah, kenapa binatang itu tidak berusaha lari, karena seharusnya tali sekecil itu pasti tidak mampu menahan tenaga seekor gajah dewasa. Pawangnya bilang, karena sejak kecil sudah diikat tali itu, si gajah sudah terbiasa dan merasa, bahkan dalam tubuh dewasanya, dia tidak akan bisa lari selagi masih diikat. Aku baca cerita itu hari ini dan merasa tertampar dengan keras. Aku ini manusia, bukan gajah yang bodoh!