Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label blog

lalai dalam memberikan update

  rasanya tidak ada yang membaca tulisan di sini. metrik dari google analytic juga menyatakan hal yang sama. nobody read blogs anymore.  entah kenapa aku masih mengisi kabar baru sumpah serapah dan pikiran yang membuncah di sini. tidak ada yang datang karena sudah tak ada yang peduli tulisan seperti ini. sialnya, kemampuanku saat ini masih sebatas ini saja, keluh kesah semi-anonim di ruang maya tanpa ada yang mendengar (atau membacanya). sudah malam dan semua orang sepertinya memutuskan untuk tidur kecuali aku yang malah menyeduh air panas lalu membuat secangkir kopi. aku lalai dalam membuat update  mungkin karena dari dalam ada pikiran bahwa yang kubuat ini hampir pasti sia-sia. aku menulis agar ada orang lain yeng membaca tetapi ternyata kenyataan menunjukkan bahwa kumpulan huruf seperti ini sudah tak lagi menarik. apa mau kita sudahi saja blog ini?

Melanjutkan Upaya Mengurangi Distraksi : Mencoba Mencari Celah

Jadi aku sudah menghapus beberapa program dan aplikasi dari peranti pintar yang kupakai sehari-hari. Sekarang terlihat ada lebih banyak ruang kosong dalam media penyimpanan, bisa kuisi dengan rekaman foto dan video yang terjadi di sekitarku. Hanya saja, aku menyadari ada kebiasaan baru  yang muncul, aku seperti mencari celah untuk dapat melakukan hal yang dulu bersifat distraktif dalam aktivitas. Tidak ada game? Coba browsing  tak jelas tujuannya! Atau nonton layanan sreaming  video lebih lama dari biasanya! Binge-watching, woohoo! Lalu aku seperti menangkap diri sendiri melakukan hal yang merugikan: membuang waktu. Padahal kalau diterawang, waktuku tidak banyak lagi untuk melakukan upgrade  diri agar bisa mencari kesempatan kerja baru. Masa aku rela melakukan hal yang sama lima tahun ke depan dan tak ada harapan untuk mendapatkan promosi atau kenaikan apresiasi (baca: gaji) kecuali pemilik perusahaan bermurah hati untuk "membuang" uang dalam kondisi sosial ekonomi p...

melangkah ke arah yang baru

ini masa yang penuh cobaan dari beberapa macam sisi. perlu berhati-hati dalam melangkah. atur napas, lihat sekeliling, terawang ke depan. mau ke mana, mau jadi apa, mau berbuat apa ke siapa. soalnya sekarang ini salah sedikit lalu ketiban cobaan, tak terbayangkan bagaimana bisa keluar dari itu. pandemi, persaingan dunia kerja, ketiadaan teman dan keluarga yang dekat dan bisa membantu / menolong saat membutuhkan. mencoba menentukan arah baru karena setelah dipikir dan dianalisis lagi, hidup dengan cara yang sama dan mengandalkan sumber penghasilan yang itu-itu saja, alamat buruk sekali saat terkena cobaan. sekarang aku berbicara seperti orang taat beragama padahal berdoa saja sangat jarang. melangkah ke arah yang baru, perlu, tapi aku belum tahu bagaimana caranya.

malam dan keraguan

sudah malam dan waktunya meragukan diri sendiri. sering berulang dan membuatku bertanya-tanya, apakah hanya aku sendiri yang seperti ini? meragukan diri sendiri dan orang-orang terdekatku? jadi masalah utamanya adalah aku merasa belum cukup berbuat untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat yang kusayangi. ada banyak kesempatan yang kulewatkan karena aku ragu untuk mengambilnya. tidak seperti orang lain yang mampu merasa bisa!  dan melakukannya, aku cenderung menghindar atau pindah ke barisan belakang dari orang-orang di mana aku bisa merasa aman untuk mengamati perilaku orang lain. padahal dengan berada di belakang orang lain, aku melewatkan kesempatan untuk unjuk gigi dan mendapatkan perhatian untuk membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. orang yang terlihat aktif bertindak dan dapat menjelaskan tindakannya, akan lebih menarik dan diingat orang-orang lain dibandingkan menjadi seperti wallflower . tidak bisa tidur cepat, tidak bisa tidur nyenyak, karena merasa belum bertindak opt...

menunda pekerjaan adalah hobi

aku pikir masuk akal untuk mengakui saja: menunda pekerjaan adalah hobiku. dalam keadaan ekstrim, aku bahkan tidak mampu membuat diriku melakukan langkah pertama dari suatu tugas atau pekerjaan yang diminta dariku. tidak mudah, tidak mau, tidak ingin. dalam jangka pendek maupun jangka panjang, kebiasaan ini tidak baik. merugikan! tapi entah kenapa aku tak mampu berbuat banyak -- dalam beberapa kali kejadian -- melawan kebiasaan menunda pekerjaan ini. bahkan aku sebenarnya harus merapikan sebuah database untuk dikirimkan ke bagian divisi lain tetapi malah aku menghabiskan waktu di sini, menulis update-an blog ini. sungguh aneh. tidak efisien untuk diri sendiri tetapi aku tidak segan untuk menegur orang yang kuanggap tidak bekerja efisien. seperti standar ganda: orang lain tak boleh melakukan apa yang kulakukan. seperti bukan figur (calon) pemimpin yang pernah kukhayalkan dulu.

Belajar Mengelola Emosi

Untuk dipahami menjelang tengah malam ini bahwa emosi harus bisa dikelola dengan cerdas karena ini adalah alat bagi kemajuan karir. Untuk menjadi pribadi yang bisa mengelola emosi dengan cerdas, aku perlu banyak belajar. Membaca teorinya, lalu mempraktekkan berada dalam situasi yang sangat memancing emosi bermacam-macam. Ketika dalam kondisi itu, seperti apakah reaksiku? Dapatkan aku meredam impuls untuk melakukan aksi yang dalam jangka panjang dapat merugikanku? Tentu harus berhati-hati dalam bereaksi terhadap rangsangan dan emosi yang timbul. Perlu sejenak memberikan jeda kepada diri sendiri untuk menganalisis apakah yang terbaik untuk kondisi seperti ini. Membiarkan diri terbawa emosi akan sangat merugikan diri sendiri. Mungkin seperti menang dalam jangka pendek atau saat itu, namun bisa saja kalah di beberapa waktu kemudian. Jangan keseringan mengikuti ledakan emosi sesaat. Akan merugikan diri sendiri atau orang-orang terdekat. Percayalah, aku sudah berkali-kali mengalaminya.

aku berharap, berdoa, tapi lupa bekerja

melakukan sesuatu itu jangan setengah-setengah, begitulah pesan yang pernah kudapat dahulu kala. tetapi seperti biasanya, pesan seperti itu tinggallah kalimat tak bermakna karena tak kuresapi dan kuterapkan dalam menjalani hidup. tentu semuanya karena kebiasaanku untuk melakukan hal-hal mudah lalu mengaku bahwa itu adalah best effort untuk menutupi kenyataan: ada hal lain yang bisa kulakukan tetapi tidak kulakukan. bisa jadi karena malas, karena menunda terlalu lama, atau memang tak bisa memegang komitmen pada diri sendiri. ini yang membuatku menghabiskan waktu tak menghasilkan apa-apa atau menambah hal positif, misalnya aset, pertemanan / koneksi, ilmu pengetahuan yang makin luas, spesialisasi keahlian yang makin tajam, dan hal lainnya. kadang kalau melihat kondisi diri sendiri terasa malu karena terlalu banyak menyia-nyiakan kesempatan.  aku berharap. aku berdoa. tapi aku lupa bekerja. terus dengan keras kepalanya aku berkisah pada dunia bahwa aku sudah melakukan segala ...

memulai rutinitas lagi (lanjutan)

tidak mudah untuk memulai rutinitas lagi, semacam restart , seperti yang pernah kutuliskan sebelumnya, dikarenakan membuat habit baru itu bisa dibilang gampang-gampang susah. melakukan evaluasi terhadap kinerja antara sebelum dan setelah memulai habit baru sebenarnya perlu dilakukan agar paham di mana hal yang dilakukan sudah baik dan memadai dan di bagian mana masih perlu perbaikan / peningkatan. melakukan upaya peningkatan kemampuan diri atau membentuk habit baru jangan dilakukan serampangan karena kita tak ingin segalanya sia-sia. memulai rutinitas lagi dengan mengubah ritual pagi hari atau malam hari sebelum tidur, misalnya. yang tadinya sejak membuka mata pertama kali sampai selesai mandi pagi mungkin butuh satu jam lima belas menit tanpa aktivitas penting atau krusial di antara kedua milestone itu, mungkin bisa evaluasi dengan mengurasi aktivitas menggeliat di atas ranjang atau tidak lagi membuka gawai terlebih dulu. semacam simpel tetapi akumulasi waktu yang tak lagi tersia-...

antara ada dan tiada

ini di ujung jalan berkumpul dan berbicara tentang isi dompet yang tak berbudi karena tidak kenal kawan dan lawan. melakukan perbincangan dengan mencapai kesepakatan verbal dengan komitmen dalam jangka panjang untuk kesejahteraan masing-masing individu. untuk saat ini perlu evaluasi apa saja hal yang perlu dibuatkan tetapi belum dilakukan karena alasan yang bermacam-macam. mengenai perbaikan diri dan tuntutan ilmu yang baru agar selalu dapat berkompetisi minimal dalam rangka dan level tertentu. kebiasaan yang baik perlu dipupuk dan dimotivasi agar tumbuh kembang. motivator terbaik adalah diri sendiri. maju terus pantang mundur.

hari-hari sekarang menjaga

ada perubahan dalam siklus hidup di mana fase berikutnya adalah menanti keturunan. takut, cemas, senang, bercampur aduk dalam perasaan. ini jugalah yang membuatku sulit tidur malam hari. i should know better that rest is important. menjadi diri sendiri, berubah, menjaga orang lain dalam fase seperti ini, belajar hal baru untuk self-improvement , semuanya harus dilakukan semua dalam waktu yang bersamaan. mencoba dan berkomitmen. semoga sehat selalu , ucapku ke diri sendiri.

ini ada masalah apa lagi dengan si bedul?

ada banyak hal yang perlu diurus dan dikerjakan dalam waktu bersamaan tetapi kenapa ini lagi dan ini lagi hal yang muncul dan menyita waktu tenaga pikiran kita? tidak benar kalau aku tidak berminat atau dibilang tidak mau berubah dan mengubah. aku tahu aku butuh berubah agar tidak begini-begini saja tanpa ada kemajuan yang berarti. sial. aku mulai meracau. seharusnya sadar dan paham apa konsekuensi dari pilihan yang diambil. ini berarti tidak perlu kemudian berpura-pura terkejut bila salah satu hasil yang tak diharapkanlah yang muncul. soalnya tak semua orang bisa mendapatkan apa yang diinginkan. berupaya maju itu tidaklah mudah dan memang mencemaskan. melelahkan pun.

another entry. one of many. no update, actually.

i want to get an espresso. been a long time not taking one shot (or two!). lately i only drank black unfiltered coffee, no sugar. sometimes, it would be black coffee, regular americano, or maybe long black. i prefer to have my coffee black. i find myself unable to enjoy these trendy coffee around where i work or live. so many brands but basically coffee and sweet milk. a good thing, i don't spend too much on these expensive coffee. coffee is good if you can enjoy it without any additional ingredients. but this is just a personal opinion.

Nobody's Reading Anymore.

I know now that nobody's reading anymore. Talking about other people? Yes. Reading and comprehending, even understanding? Not really. When was the last time you took effort to read, finish a book, mulling over some topic that based on multiple sources of reading? Not recently. So how do you even know that you're doing the best for yourself Update 2019-11-23 People still read. It's just not from any of google's site.

Mengantuk Tapi Merasa Berutang

Semuanya sesimpel rasa. Aku merasa mengantuk. Tapi aku tak enak pergi tidur biarpun sudah lewat pukul sepuluh malam karena aku merasa berutang pada diri sendiri untuk membaca, belajar, dan mengasah kemampuan pribadi. Ada terlalu banyak waktu yang kuhabiskan untuk bekerja. Dalam seminggu mungkin aku bekerja lebih dari empat puluh jam tapi lemburnya tidak ada harganya. Aku tak dibayar. Tak dipuji. Lebih sering merasa diperlakukan tidak menghasilkan output sesuai harapan. Aku merasa mengantuk tetapi belum bisa tidur.

Meluangkan Waktu Bersama Pasangan

aku harus mengoreksi keengganan meluangkan waktu bersama dengan pasangan biarpun hanya berupa aktivitas menemaninya berbelanja. memang melelahkan atau menjengkelkan berjalan melewati, melihat, lalu bisa saja balik lagi ke toko sebelumnya karena ada yang belum dibeli atau berubah pikiran. menyenangkan tiap melihat senyumannya atau tertawanya ketika menemukan sesuatu yang membuatnya senang. sinar matanya itu, membuatku ketagihan, ingin merekam dalam ingatan sebanyak mungkin, selama mungkin.

mencoba maju biarpun sendirian

kali ini aku merasa lelah tapi tentu harus menyemangati diri sendiri untuk tetap mencoba maju biarpun aku merasa sendirian. ada banyak pekerjaan di kantor yang bisa dikerjakan dan butuh perbaikan, penyempurnaan, dan evaluasi pelaksanaan yang sudah ada. untuk itu butuh kolaborasi antar karyawan dengan tujuan sama dan tingkat antusiasme yang tinggi. namanya juga mengejar target perusahaan, benar? tapi kalau diperhatikan lagi, tidak mudah untuk melakukan apa yang secara teori sudah dipahami -- atau dirasa seakan-akan paham -- secara kontinu, berkomitmen, dan konsisten. menyelesaikan tugas dan menghasilkan sesuatu dalam standar tertentu dalam durasi waktu yang telah diberikan sebelumnya, itu bagus sekali. tapi ada berapa orang yang mau maju dan mengerjakan dengan sebaik-baiknya, menantang diri sendiri untuk melakukan yang terbaik dan bersaing sehat dengan karyawan lain? ada banyak pertanyaan pribadi dalam benak tapi yang jelas aku harus berani dan mau dan gigih untuk mencoba maju biarp...

Sesuatu Yang Remeh Dan Receh

Ingin membuat sesuatu yang remeh namun menyenangkan. Tidak rumit sehingga tidak perlu mengalokasikan waktu banyak untuk hal ini. Sederhana dan receh. Tetapi ini tentu butuh kemampuan berpikir dan kreativitas yang telah dilatih dan diasah dalam waktu lama. Jadi, bagaimana mau memulainya? Seperti apa tindakan yang perlu dilakukan untuk memuaskan keinginanku ini? Tidak ada hal yang cukup jelas -- semuanya samar dan tak utuh -- sehingga sulit menjadi sebuah gambaran dalam kepala. Sama seperti ketika aku melakukan kesalahan memesan barang pada saat kantor akan libur sehingga aku pikir tak lama lagi aku harus sibuk mencari barang yang dikirim tapi tidak sampai tersebut. Betapa tololnya.

Compound Interest, In Savings

A few days ago I wrote here about compound interest in studying,especially while doing self-study. The word I was looking for was right there: commitment. I lack the commitment to do everything I can to improve myself. I know this is a HUGE problem but I just can't do other thing that I really need. Now about compound interest, I'm sure you can easily find anything and everything about this topic in the internet, particularly related to economic and financial website, be it articles, blogs, vlog, books (e- or physical), etc. I have to help myself by burying my head + mind + energy + focus to this improvement plan. Read, study, execute, evaluate result, revise, repeat. Because after doing improvement steps needed, I would experience the compounding interest effect that I needed. So how about the saving money topic? Yes, it's easy to understand, provided you know your math.

Compound Interest, In Self-Study (Part 1)

 So after reading and learning about a lot of things online, in Twitter, YouTube videos, internet articles and opinion, I realized that I am solely responsible to start doing this personal upgrade activities: self-study, adequate good quality sleep, eating healthy, physical exercises, and commitment to spouse. It seemed like a lot of thing and I could be easily overwhelmed by the feelings when there are too many new materials to study. The obstacle to my self-study intention is my discipline and commitment and consentration can easly faltered by any distraction. Like when I paused the "Introductory to R" video in YouTube because I felt sleepy. Instead of resting my head for a few minutes, I decided to open my web browser and write this post. I'm unable to just let go and relax. Not good at all. I will talk about this "compound interest in self-study" in next post. I can't fend off sleep...

berbuat dan berbuah - bagian 1: pada awalnya...

tidak mudah untuk melakukan kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan, tetapi seperti itulah yang diminta oleh tokoh yang pernah berjalan di muka bumi ini sekitar dua milenia yang lalu. awalnya aku berpikir untuk menjadikan update blog ini sebuah renungan rohani tetapi untuk kebaikan diriku sendiri sebaiknya tidak usah berbicara soal religiusitas diriku sendiri. aku tidak merasa sebagai orang beriman yang baik dan taat pada aturan dalam agama jadi berbicara tentang ini terasa tidak tepat. jadi aku ubah konteks "berbuat dan berbuah" menjadi sebuah refleksi diri untuk perbaikan yang tidak terkait dengan religiusitas manusia atau hubungan dengan suatu higher being  sama sekali.  berbuat semasa hidup tak mungkin tidak berbuat apapun. melakukan tindakan yang ada konsekuensinya. memilih yang ada. kalkulasi lalu mengambil keputusan yang berimplikasi pada masa depan. semuanya bisa terasa acak namun ketika melihat ke belakang beberapa waktu kemudian mungkin terpikirkan, ...