Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label jakarta

blind man's vision

 bisa dibilang aku seperti orang buta. butuh segera bisa melihat. melihat ke depannya, apa keputusan yang kuambil dampaknya. kalau kata orang the power of kepepet  tetapi aku tak suka sampai berada dalam keadaan kepepet. tinggi tingkat stress-nya. siapa juga yang mau sukarela menempatkan diri dalam keadaan kepepet dengan masa depan yang tidak terprediksi. yang jelas bukan aku.

mendukung aktivitas vaksinasi

 kita tahulah saat ini sedang berjalan program vaksinasi covid di indonesia. kita dukung sepenuh hati dengan mendaftar saat kesempatan ada, datang tepat waktu pada tanggal yang ditentukan. ini semua bagian dari ikhtiar untuk menjadi lebih baik dalam hal kesehatan pribadi dan orang di sekitar. namanya juga usaha, tentu dilakukan sekuat tenaga. jadi besok perlu melakukan perjalanan singkat dulu ke propinsi sebelah yang kota tujuannya berjarak sekitar 150 kilometer dari sini karena mengantar orangtua untuk vaksinasi. dapatnya di kota sana, ya diterima saja, masa menolak kesempatan? soalnya tempat tinggal yang sekarang tidak mendaftar secara resmi sebagai penduduk alias tidak lapor kepala lingkungan. namanya juga tinggal di kompleks tertutup, masa iya satuan polisi pamong praja mau (dan bisa) masuk ke dalam sini lalu gedor satu per satu pintu penduduk untuk mengecek penghuninya? tidak mungkin! kita semua tahu bagaimana penegakan peraturan dilakukan secara selektif dan tajam ke bawah. j...

melakukan inaktivasi akun

 jadi melihat ada informasi layanan daring tertentu yang akan dinonaktifkan lalu terpikir kalau selama ini ada banyak akun daring yang kumiliki  tapi sudah tak dipakai / tak diakses lagi karena satu hal dan lainnya tapi aku masih membiarkan saja. sebenarnya ini ada masalah atau akan jadi sumber masalah baru. untuk setiap profil dan akun yang dibuat lalu tak lagi digunakan, seharusnya aku tetap melakukan inaktivasi / membatalkan / menutup agar benar tak lagi menggunakan layanan tersebut. tidak tahu kan siapa tahu nanti di masa yang akan datang bisa berpotensi negatif dan merugikanku. ini seharusnya dilakukan rutin tapi siapa sih yang selalu bisa maintain  semua layanan yang pernah dirinya mendaftar untuk mencoba? kalau rutin dipakai lalu dimatikan akunnya, masih masuk akan dan wajar. kalau ini adalah layanan coba-coba saja? mungkin bahkan lupa dulu pakai nama pengguna dan kata sandi apa.

kontrol emosi sendiri

  menjalani hidup yang datar saja? tidak menarik! naik turun kehidupan itu perlu. apalagi kalau ada yang bisa dipelajari dari pengalaman pribadi. atau tidakpun, mendapatkan informasi pengalaman orang lain, analisis, dan tentukan mau melakukan apa. jangan sampai tidak mengakui atau tak menyadari bahwa tanpa bantuan orang lain, diri ini tidak akan bisa sampai di sini. jadi, kontrol emosi sendiri, karena aku butuh orang lain biarpun mungkin orangnya tak kusukai. ubah parameternya, ganti threshold  nya, bukan sekedar rasa tak suka. tetapkan nilai yang berharga, misalnya integritas pribadi lawan bicara. biarpun gaya bicaranya menjengkelkan, tapi kalau true to her words , tidak ingkar janji, ya kontrol emosi dan tidak perlu sampai meng- write off  orangnya sebagai sesuatu yang buruk. offendedness itu lebih besar porsinya dari diri sendiri.

memandang masa lalu, masa kini, dan masa depan

Sebagai orang yang tidak mungkin melakukan perjalanan waktu dan mundur ke masa lalu untuk mengubah sesuatu (keputusan yang diambil, peristiwa yang terjadi, etc.), atau melompat ke masa depan untuk melihat apa yang terjadi atas keputusan yang diambil, aku menghabiskan terlalu banyak waktu berkhayal dan berandai-andai. Biarpun aku tahu ini tidak baik, tetapi tetap saja aku lakukan tiap kali aku ada waktu luang atau semacam down time  di dalam kepala. Seperti semacam habit  yang buruk tetapi adiktif, aku ketagihan. Memandang masa lalu dan berandai-andai melakukan B dan bukannya A. Memilih membeli C dan D daripada menghabiskan semuanya ke E. Semacam itulah, permainan dalam kepala yang berisi penyesalan dan mengutuki diri sendiri. Merusak sekali tapi memang nagih . Masa kini yang tidak dirasa optimal dan cukup memuaskan memang tidak enak, lalu tentu saja, ketakutan akan masa depan yang tidak jelas. Ini sangat amat merusak ketenangan hati dan pikiran. Bisa membuat sakit. Seharusnya ...

lalai dalam memberikan update

  rasanya tidak ada yang membaca tulisan di sini. metrik dari google analytic juga menyatakan hal yang sama. nobody read blogs anymore.  entah kenapa aku masih mengisi kabar baru sumpah serapah dan pikiran yang membuncah di sini. tidak ada yang datang karena sudah tak ada yang peduli tulisan seperti ini. sialnya, kemampuanku saat ini masih sebatas ini saja, keluh kesah semi-anonim di ruang maya tanpa ada yang mendengar (atau membacanya). sudah malam dan semua orang sepertinya memutuskan untuk tidur kecuali aku yang malah menyeduh air panas lalu membuat secangkir kopi. aku lalai dalam membuat update  mungkin karena dari dalam ada pikiran bahwa yang kubuat ini hampir pasti sia-sia. aku menulis agar ada orang lain yeng membaca tetapi ternyata kenyataan menunjukkan bahwa kumpulan huruf seperti ini sudah tak lagi menarik. apa mau kita sudahi saja blog ini?

menjaga tetap di arah yang benar

 menjalani hidup tentu harus ada arah dan tujuan agar tidak menjadi pribadi yang terombang-ambing tak jelas mengikuti arus saja. tidak baik dan tak sehat dalam jangka panjang kalau hanya bermental "terserahlah, ngikut saja..." kelihatannya akan lebih mudah hidup seperti itu tetapi pada akhirnya akan hidup dalam rasa menyesal kenapa tidak melakukan sesuatu. siapa juga yang mau hidup panjang umur sampai tua tapi dalam rasa penyesalan karena tidak melakukan satu hal atau hal lain karena berkepribadian risk averse ? bayangkan menghabiskan hari tua dengan berandai-andai kalau dulu melakukan xxx dan bukannya duduk manis jadi orang baik dan tak mau kecipratan getah orang yang makan cempedak ( very random local saying being paraphrased, i know ). jadi mari kita melakukan satu hal dan/atau hal lain setiap hari setiap saat, mengambil keputusan sendiri dan bukan menyerahkan segalanya kepada orang lain atau bagaimana situasi. hidup untuk diri sendiri. susah senang konsekuensi dari keputu...

Memahami Kebutuhan Aktualisasi Diri

 Tidak Pernah Padam Malam ini aku teringat pada peristiwa beberapa tahun yang lalu saat aku berjanji akan tetap memprioritaskan diri sendiri (kesehatan fisik, mental, dan finansial) dalam segala hal. Keputusan yang diambil, arah yang dilalui, apa yang dilakukan -- dan yang tidak dilakukan -- untuk sebaik-baiknya diri sendiri dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Yang luput dari pengamatanku saat itu adalah tidak selalu kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang itu selaras. Misalnya aku sangat lapar, tetapi saat itu sedang dalam perjalanan di wilayah pelosok Indonesia. Kebutuhan jangka pendek adalah makan untuk mengatasi rasa lapar. Lalu setelah beberapa kilometer, kutemukan warung yang hanya menyediakan pilihan terbatas. Makan mie instan padahal baru sehari sebelumnya makan menu yang sama, jelas tidak sehat bagi tubuh. Tetapi aku harus makan sesuatu agar tidak sampai jatuh sakit! Kontradiktif, dilematis, pusing. Kembali ke pembicaraan awal, setelah teringat hal itu tentu...

Mencadangkan Kenangan Masa Lalu

  Kenapa tidak melakukan sesuatu yang penting untuk orang-orang dengan usia tertentu, yaitu prosedur / alat untuk mencadangkan kenangan dengan segala nuansanya? Sekarang ini kita punya smartphone  yang selagi masih memiliki ruang untuk menyimpan data, bisa merekam dan mencadangkan kenangan pada suatu waktu. Tetapi yang disimpan itu ya imaji gambar diam atau bergerak saja. Nuansa dan konteks mungkin sekali hilang dari rekaman tersebut. Antara yang mengalami langsung bila memutar ulang rekaman, akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan yang menonton saja sebagai pihak ketiga di luar pelaku. Aku tahu ini ide yang sudah pernah dan sering diupayakan orang untuk dapat terwujud. Sebuah ide yang akan membuat kaya siapapun yang berhasil mewujudkannya. Bayangkan saja, mencadangkan kenangan masa lalu dan kemudian bisa dipakai dan diulangi, kapanpun dimaui. Bayangkan implikasinya, menarik bukan?

Mengurangi Distraksi

 Mengalami Perubahan Yang Merugikan Tidak disangka kalau aku sampai harus melakukan tindakan cukup ekstrim dengan mengurangi berbagai macam aplikasi terpasang pada smartphone -ku dan laptop kerjaku. Semuanya karena aku merasa terjadi perubahan yang merugikan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Ada beberapa program dan aplikasi yang kupasang karena bisa, bukan karena aku mau pakai, apalagi memang karena dibutuhkan. Ada pula beberapa program dan aplikasi yang kusadari mengganggu waktu kerjaku karena menjadi distraksi dalam bekerja. Bayangkan, dalam konsentrasi berpikir memecahkan suatu masalah lalu melihat icon atau notifikasi muncul bahwa aku harus melakukan sesuatu atau merespon sesuatu dengan segera. Akibatnya konsentrasi buyar dan malah melakukan hal lain yang not related at all dengan pekerjaan yang dihadapi. Ini merugikan karena aku sudah merasakan dampaknya beberapa kali. Kualitas kerjaku menurun, tugas yang sama yang sebelumnya butuh hanya 1 jam sekarang menjadi butu...

melangkah ke arah yang baru

ini masa yang penuh cobaan dari beberapa macam sisi. perlu berhati-hati dalam melangkah. atur napas, lihat sekeliling, terawang ke depan. mau ke mana, mau jadi apa, mau berbuat apa ke siapa. soalnya sekarang ini salah sedikit lalu ketiban cobaan, tak terbayangkan bagaimana bisa keluar dari itu. pandemi, persaingan dunia kerja, ketiadaan teman dan keluarga yang dekat dan bisa membantu / menolong saat membutuhkan. mencoba menentukan arah baru karena setelah dipikir dan dianalisis lagi, hidup dengan cara yang sama dan mengandalkan sumber penghasilan yang itu-itu saja, alamat buruk sekali saat terkena cobaan. sekarang aku berbicara seperti orang taat beragama padahal berdoa saja sangat jarang. melangkah ke arah yang baru, perlu, tapi aku belum tahu bagaimana caranya.

#dirumahaja Bersamamu

Kenapa tidak bertanya apa yang terjadi pada kita sehingga saat mematuhi himbauan pemerintah untuk #dirumahaja, kita tak bisa terus-menerus akur? Aku merasa bersalah tidak melakukan satu hal atau malah berbuat sesuatu yang mengganggu atau mengusik perasaanmu yang halus. Mempertimbangkan kondisi mental saat melakukan social and physical distancing selama beberapa minggu, wajar kalau terjadi gesekan antar personal karena tak mungkin ada pasangan dan keluarga yang 100% kompatibel tanpa perbedaan yang bisa terpicu saat kondisi tidak normal. Bayangkan selama 24 jam terus-menerus berada di bawah satu atap yang sama tanpa variasi suasana dan orang. Seasyik atau serunya hubungan, selancar apapun komunikasi, dalam jangka panjang, perbedaan kecil yang terungkit melulu akan memicu perselisihan. Tentu saja ini hanya teori sok tahu dariku saja. Aku  sendiri memang mengalami hal mirip tapi tak berarti apa yang kukatakan ini pasti benar. Sepertinya sudah jelas bahwa menjaga kesehatan mental itu j...

Belajar Mengelola Emosi

Untuk dipahami menjelang tengah malam ini bahwa emosi harus bisa dikelola dengan cerdas karena ini adalah alat bagi kemajuan karir. Untuk menjadi pribadi yang bisa mengelola emosi dengan cerdas, aku perlu banyak belajar. Membaca teorinya, lalu mempraktekkan berada dalam situasi yang sangat memancing emosi bermacam-macam. Ketika dalam kondisi itu, seperti apakah reaksiku? Dapatkan aku meredam impuls untuk melakukan aksi yang dalam jangka panjang dapat merugikanku? Tentu harus berhati-hati dalam bereaksi terhadap rangsangan dan emosi yang timbul. Perlu sejenak memberikan jeda kepada diri sendiri untuk menganalisis apakah yang terbaik untuk kondisi seperti ini. Membiarkan diri terbawa emosi akan sangat merugikan diri sendiri. Mungkin seperti menang dalam jangka pendek atau saat itu, namun bisa saja kalah di beberapa waktu kemudian. Jangan keseringan mengikuti ledakan emosi sesaat. Akan merugikan diri sendiri atau orang-orang terdekat. Percayalah, aku sudah berkali-kali mengalaminya.

belajar mentolerir orang lain

tidaklah banyak orang yang diajari empati sejak kecil padahal sebenarnya kemampuan berempati itu sangatlah penting. tidaklah sempurna orang yang tak punya rasa simpati untuk orang lain. menganggap diri tidak sama dari kelompok orang lain, tidak bisa mentolerir kelakuan orang lain, dan segala macam hal yang tak lain dan tak bukan hanya menunjukkan betapa diri sendiri itu tak bisa menerima bahwa orang lain berbeda dari dirinya sendiri. ini semacam kalimat panjang tanpa isi yang terlalu sering kubuat dan kubagikan ke seluruh dunia lewat tulisan opini tiada arti yang tayang di dunia maya. ada saatnya aku seperti meracau dan aku sadar aku melakukannya. yang tak asyik itu adalah kalau aku bersikap seperti orang yang tak bisa mentolerir orang lain dari berbagai macam aspek. tidak mudah hidup menjadi diriku. mantap.

Perubahan dan Pelajaran

Jadi aku mengalami beberapa hal yang mengingatkanku untuk selalu siap menghadapi perubahan. Mengingatkan, tak berarti membuatku siap sedia. Future-proof myself adalah mantra yang kuingatkan ke diri sendiri menghadapi persaingan di Jakarta. Tak mudah karena di sini berkumpul begitu banyak orang pintar dan cerdas dan cepat bertindak. Orang-orang yang gesit dan adaptif. Belajar lagi untuk lebih siap berubah dan beradaptasi. Biarpun kelelahan dan membuat tidak tenang tidur malam hari. Iya, gelisah. Gelisah karena kekhawatiran bahwa apa yang kulakukan, apa yang kupelajari, untuk menghadapi perubahan masa yang akan datang, ternyata salah arah. Kalau sampai benar salah arah, bahaya sekali karena bagaimana mau menyelamatkan waktu, tenaga, pikiran, dan uang yang sudah terpakai di jalur yang salah? Tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa masa depan nanti. Aku hanya bisa antisipasi sebisanya. Berubah, belajar, evaluasi, berubah lagi. Seperti siklus, sampai mati nanti.

Kemajuan Yang Dipaksakan

Paling utama dalam pekerjaan sekarang adalah mengejar kemajuan yang terukur. Pemisahan tanggung jawab yang jelas tapi fleksibel bila dibutuhkan juga perlu. Tidak bisa menjadikan kemajuan dengan tingkat tertentu sebagai acuan / target tetapi pemisahan peran dan tanggung jawab dicampuradukkan. Tidak sehat buat organisasi bila melakukan pengistimewaan untuk orang-orang tertentu yang sudah jelas tindakannya merugikan perusahaan atau bertentangan dengan nilai-nilai yang diusung. Semua orang belajar, termasuk karyawan dalam perusahaan. Melihat kesalahan tidak dihukum, keputusan yang merugikan keuangan perusahaan tetapi orangnya tetap diberikan jabatan dan otoritas, pesan seperti apa yang mau disampaikan ke para karyawan lainnya? Semua orang bisa belajar misalnya dengan observasi. Itu sudah paling mudah. Bila ada pelanggaran yang tak dikenai sanksi apapun, bila kecurangan hendak dikuburkan, saat muncul kesempatan berikutnya di orang yang berbeda, kita bisa tebak apa yang akan terjadi. Meng...

Senin Malam, Banyak Kesibukan, Banyak Pengalih Perhatian

Sekarang Senin malam tanggal 3 Desember 2018. Ada banyak pekerjaan yang menunggu untuk kuselesaikan. Aku perlu belajar delegasi agar hidupku lebih ringan dan terkendali. Tetapi untuk mempercayakan begitu saja pekerjaan dan tugas yang dulu biasa kukerjakan itu tidaklah mudah. Sebenarnya aku sadar tanpa mendelegasikan tugas-tugas yang ada, termasuk melatih lebih dulu agar pelaksana paham dan bisa bekerja dengan baik, aku bisa tidak ke mana-mana, stuck  saja di tempat yang sama. Itu tidak baik karena akan memicu rasa tidak puas diri yang akut, komplikasi dengan rasa tidak percaya diri, dan mungkin sedikit dengki pada orang-orang yang justru karirnya bertambah baik. Aku perlu cara berbicara yang baik secara emosional agar aku bisa paham apa yang orang lain mau dan mereka bersedia menerima pendelegasian tugas dariku tanpa banyak protes lagi. Tidak mudah tapi harus dipelajari. Siapa bilang makin bertambah usia makin banyak yang diketahui? Aku justru merasa dengan banyak kesibukan mak...

Kembali Ke "Habit" Lama : Inkonsisten

Apakah memang wajar kita berbicara apa adanya? Tidak? Kenapa? Sepertinya aku harus lebih menjaga lisan -- dan tulisan dalam grup pesan singkat di ponsel pintar. Singkatnya, aku tak punya emotional intelligence  dan social skill  yang cukup sehingga awareness dan latihan personal perlu ditingkatkan lagi. Selain itu, disiplin untuk bisa konsisten dalam bersikap dan berperilaku. Kebiasaanku yang bertingkah tak konsisten memang akan membuat bawahan bingung atau salah melakukan sesuatu. Jangan pula sampai aku menyalahkan orang lain yang menebak-nebak apa yang aku mau lalu melakukan suatu tindakan yang berujung pada ketidakoptimalan pekerjaan atau business flow  yang ada. Tanpa memberikan direction  dan instruction  yang jelas, plin-plan, membiarkan orang lain bekerja? Bila hasilnya baik, mengambil semua pujian yang datang, bila hasilnya buruk, menyalahkan tindakan bawahan dan mengelak tanggung jawab? Well, at least being consistent in that opportunistic b...

Talking With A PhD And Some Google Search Brought Me Here

I know that I have this restless feeling like I waste too much time on things that add no value to my upgrading scheme. I want to learn something new. I want to create online content for myself. I need to mantain my health, body and soul. Then I met with a longtime friend who is doing research for his post-doc something something and he told me he learn new programming language. He needed this skill so he can sift through data sets he got from satellites. He need to make sense of all the numbers contained in those many files. He took up R. He said how he use available scripts to finish data visualization in less than an hour his government superior needed. So I am very interested eventhough I know my basic for computer language, much less programming, hasn't been used for like around fifteen years. But I know need this "new" skill set that might -- emphasis on might -- bring me more money later in life. I know I am just following a current trend but why not? ...