Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ability

"We don't feel that connected."

Dalam banyak hal yang dilakukan rutin, berkali-kali merasakan dorongan untuk memberikan yang terbaik dan paling tepat sesuai kondisi dan waktu yang ada. Dengan mempertimbangkan semua limitasi yang ada, memilih rangkaian tindakan yang diharapkan memberikan hasil paling optimal, lalu mengeksekusi setepatnya, dan kemudian bertanggung jawab atas apa pun hasilnya (atau dampak dari keputusan dan tindakan yang diambil. Setelah menjalankan dan mengalami langsung, seseorang sebaiknya belajar menerima bahwa setelah segala daya upaya terbaik yang dikerahkan, pihak yang satunya tidak akan menerima atau merasa berkebutuhan untuk mengapresiasi pada tingkatan yang diharapkan. "We don't feel that connected," katanya. Seperti itulah realitas. Kembali ke diri sendiri bagaimana menghadapi dan menyikapi respon seperti itu, yang jelas tidak diharapkan. Nah, apa yang kita katakan, lakukan, setelah menerima respons seperti itulah menentukan akan jadi apa hubungan yang ada kelak di kemudian hari...

menyadari keterbatasan yang mutlak: waktu

sebelum menuliskan terlalu banyak, izinkan aku meminta maaf atas kenyataan bahwa kemampuanku menurun dalam menulis. jumlah kata yang makin sedikit, koneksi antar paragraf yang makin tipis (atau bahkan hilang), keraguan untuk mem- posting suatu update karena menduga kualitas buruk, dan hal lainnya. ketika orang bilang, "sudah, lakukan saja dulu, nanti juga terbiasa." aku merasa hidup berkarya orang itu lebih mudah daripada hidup tulis menulisku. seharusnya aku belajar dan mengasah kemampuan menulis, lagi dan lagi sampai batas kemampuan tertentu. setelah itulah baru aku mencoba belajar kemampuan lain lagi. kalau seperti sekarang ini, hanya sekedar tahu saja, lalu mencoba mencari tahu hal lain dan hal baru? tentu saja aku tahu cukup luas tapi hanya permukaan saja. tidak ada orang yang mau menjadi "sekedar bisa" saja. tak menghasilkan, soalnya. kecuali orang itu pemalas, tidak berambisi, atau hal lainnya. sekarang aku terdengar seperti orang yang sok tahu, yang dengan...

orang pintar makan orang bodoh

ORANG PINTAR, MAKAN ORANG BODOH caranya agar orang bodoh tidak dimakan? berada dalam grup berjumlah banyak sehingga ada kemungkinan luput dari terkaman atau dimangsa. ada orang lain yang kena makan, bukan dirinya. tapi strategi ini membutuhkan tingkat kepintaran tersendiri. kalau bodoh tapi merasa pintar dan mau sendirian saja karena tidak mau berbagi kepintaran ? ya bisa habis begitu saja dalam keadaan sendirian pula.

self-isolation and current pandemic

here we are when government instruction is to do social distancing and if you get some symptoms, just to self-isolate. that means you avoid people , to a great extent. i wonder what difference does this instruction affect my daily life, being my habit is to avoid people. yet i am not sure that i can get through this. then you realized that all important people and their families get prioritized for medical services and tests and treatment for symptoms of this pandemic. very convenient for them, not for us common people.  updated: it's just a couple of days and i'm already begin to notice how short my temper was. i could get annoyed most of the times from different causes, or a few fights among the family members.

memulai rutinitas lagi (lanjutan)

tidak mudah untuk memulai rutinitas lagi, semacam restart , seperti yang pernah kutuliskan sebelumnya, dikarenakan membuat habit baru itu bisa dibilang gampang-gampang susah. melakukan evaluasi terhadap kinerja antara sebelum dan setelah memulai habit baru sebenarnya perlu dilakukan agar paham di mana hal yang dilakukan sudah baik dan memadai dan di bagian mana masih perlu perbaikan / peningkatan. melakukan upaya peningkatan kemampuan diri atau membentuk habit baru jangan dilakukan serampangan karena kita tak ingin segalanya sia-sia. memulai rutinitas lagi dengan mengubah ritual pagi hari atau malam hari sebelum tidur, misalnya. yang tadinya sejak membuka mata pertama kali sampai selesai mandi pagi mungkin butuh satu jam lima belas menit tanpa aktivitas penting atau krusial di antara kedua milestone itu, mungkin bisa evaluasi dengan mengurasi aktivitas menggeliat di atas ranjang atau tidak lagi membuka gawai terlebih dulu. semacam simpel tetapi akumulasi waktu yang tak lagi tersia-...

melakukan penilaian mandiri

jadi aku diminta melakukan penilaian mandiri untuk sistem pengelolaan sosial dan lingkungan berdasarkan prinsip sosial dan lingkungan perusahaan. tidak tahu juga kenapa aku yang diminta menyediakannya. aneh. soalnya aku merasa diriku tidaklah punya kualifikasi untuk melakukan aktivitas ini. tetapi karena permintaan atasan ya anggap saja sebagai suatu tantangan yang perlu dihadapi dan ditaklukkan.

another entry. one of many. no update, actually.

i want to get an espresso. been a long time not taking one shot (or two!). lately i only drank black unfiltered coffee, no sugar. sometimes, it would be black coffee, regular americano, or maybe long black. i prefer to have my coffee black. i find myself unable to enjoy these trendy coffee around where i work or live. so many brands but basically coffee and sweet milk. a good thing, i don't spend too much on these expensive coffee. coffee is good if you can enjoy it without any additional ingredients. but this is just a personal opinion.

Nobody's Reading Anymore.

I know now that nobody's reading anymore. Talking about other people? Yes. Reading and comprehending, even understanding? Not really. When was the last time you took effort to read, finish a book, mulling over some topic that based on multiple sources of reading? Not recently. So how do you even know that you're doing the best for yourself Update 2019-11-23 People still read. It's just not from any of google's site.

Menurutku Tidak Lucu

Bagi beberapa orang soal pekerjaan dan hidup agar bisa dinikmati, dibikin lucu saja. Biar seru, kata mereka sih begitu. Nah bila dipikir seperti itu tidak bisa juga kalau aku masih punya cara berpikir sesederhana hitam-putih. Iya / tidak. 1 atau 0. Menyebalkan ketika diminta melihat dalam beberapa skala abu-abu atau warna-warni sedangkan beberapa kondisi dasar dalam hidup tergantung hal segampang "ya" atau "tidak" secara berjenjang. Tak mudah menjelaskan konsep pemahaman yang kupegang. Mungkin karena sebenarnya, aku tidak benar-benar paham. Kalau dibilang orang, "Sok tahu!" Ya itulah aslinya aku.

Sesuatu Yang Remeh Dan Receh

Ingin membuat sesuatu yang remeh namun menyenangkan. Tidak rumit sehingga tidak perlu mengalokasikan waktu banyak untuk hal ini. Sederhana dan receh. Tetapi ini tentu butuh kemampuan berpikir dan kreativitas yang telah dilatih dan diasah dalam waktu lama. Jadi, bagaimana mau memulainya? Seperti apa tindakan yang perlu dilakukan untuk memuaskan keinginanku ini? Tidak ada hal yang cukup jelas -- semuanya samar dan tak utuh -- sehingga sulit menjadi sebuah gambaran dalam kepala. Sama seperti ketika aku melakukan kesalahan memesan barang pada saat kantor akan libur sehingga aku pikir tak lama lagi aku harus sibuk mencari barang yang dikirim tapi tidak sampai tersebut. Betapa tololnya.

Compound Interest, In Self-Study (Part 2)

Let's continue this topic (previous one here ) but keep it brief this time. Adding just one hour each day (or session but keep it regular enough) would be suffice for basic part. You can start from one Introduction session, provided you keep enough concentration, time, effort, money needed to be totally immersed in the one-hour self-study. This thing can only be done by yourself. You may asked for your friends/ families/ relatives/ colleagues for support but everything is just you . Make it or break it, it's all you. So as you added more information, knowledge on top of one another, reinforced it in your memory using adequate and suitable method, you'll gain interest  as your progress get much smoother. Before you know it, you'd be doing some stuffs that you don't imagine ever did a few weeks back. You'll just have to keep the discipline and commit yourself to self-study.

Compound Interest, In Savings

A few days ago I wrote here about compound interest in studying,especially while doing self-study. The word I was looking for was right there: commitment. I lack the commitment to do everything I can to improve myself. I know this is a HUGE problem but I just can't do other thing that I really need. Now about compound interest, I'm sure you can easily find anything and everything about this topic in the internet, particularly related to economic and financial website, be it articles, blogs, vlog, books (e- or physical), etc. I have to help myself by burying my head + mind + energy + focus to this improvement plan. Read, study, execute, evaluate result, revise, repeat. Because after doing improvement steps needed, I would experience the compounding interest effect that I needed. So how about the saving money topic? Yes, it's easy to understand, provided you know your math.

Compound Interest, In Self-Study (Part 1)

 So after reading and learning about a lot of things online, in Twitter, YouTube videos, internet articles and opinion, I realized that I am solely responsible to start doing this personal upgrade activities: self-study, adequate good quality sleep, eating healthy, physical exercises, and commitment to spouse. It seemed like a lot of thing and I could be easily overwhelmed by the feelings when there are too many new materials to study. The obstacle to my self-study intention is my discipline and commitment and consentration can easly faltered by any distraction. Like when I paused the "Introductory to R" video in YouTube because I felt sleepy. Instead of resting my head for a few minutes, I decided to open my web browser and write this post. I'm unable to just let go and relax. Not good at all. I will talk about this "compound interest in self-study" in next post. I can't fend off sleep...

New Skill Needed

I should push myself harder to gain new skills needed to expand my possibility channel of income. Multiple strain of income is needed ASAP because when you have spouse that you want to keep happy, at least I would have money as to skip some part of mundane things I must go through. Talking. Like in making podcast, I need a continuous script (and scriptwriter) that adequate to make it to next point of life. The thing is I don't suppose I can get it to be another source of income stream because not a lot of people would be listening. Writing. Like keeping this blog up to date. Not easy and definitely not enough content to achieve traction to lead anywhere. Probematic because I want to get as much done as possible but I know I can screw up easily. You know what? I should be starting from something, somewhere.

Masalah Dengan Mudah Lupa

Jadi beberapa waktu lalu aku membaca tentang kekurangan pribadi yaitu mudah lupa, spesifik tentang membaca buku dan memahaminya, serta betapa mudahnya untuk melupakan hal yang baru saja dibaca beberapa halaman sebelumnya. Aku akui ini terjadi padaku. Bayangkan, sesudah melewati beberapa lembar bacaan, mendadak terpikir, "Eh tunggu dulu, tadi dia bahas apa ya?" Hal ini kurasa menggangguku. Ini jugalah sebabnya aku sungkan untuk mengambil kursus atau pendidikan bersertifikasi -- yang berarti harus ujian. Semata-mata karena aku ragu setelah membayar mahal dengan uang dan waktu, pada saatnya ujian aku tidak lulus karena aku melupakan semua hal yang belum lama dipelajari. Ini kekurangan yang perlu diatasi tapi tidak mudah. Apakah penambah parahnya mudah lupa ini karena aku makin jarang membaca teks panjang? Apakah aku lebih banyak menghabiskan waktu membaca cuitan orang di Twitter yang terbatas hanya 280 karakter sehingga membaca beberapa alinea akan membuatku mengernyitkan da...

Pengelolaan Emosi Dan Menjadi Dewasa

Dalam dunia profesional, kemampuan untuk mengelola emosi adalah perlu. Dalam bentuk dasar adalah tersenyum dan berkata, "Siap, Pak!" padahal dalam hati tidak menyukai instruksi yang diterima atau dalam kepala memikirkan bahwa tidak mungkin ide atasan tersebut -- yang dianggapnya cemerlang -- dapat diwujudkan seperti yang diinginkan beliau. Dalam dunia kerja, tantangan seperti mewujudkan permintaan dari atasan adalah cara untuk menaiki jenjang karir yang tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Sesuai pengalaman pribadi, pada akhirnya adalah bukan seberapa banyak hal yang dapat dirimu deliver  sesuai dengan schedule  yang ada tetapi seberapa dekat dirimu dengan atasanmu. Sungguh ironis karena itu berarti orang-orang yang bekerja keras dan memberikan hasil pada bagian awal, lalu "kehabisan amunisi" di bagian setengah akhir, akan dianggap tidak berhasil demi untuk menyelamatkan orang yang lebih "dekat". Memang dunia tidak adil tapi seperti itul...

Menyelidiki Kemungkinan Kemalasan

Kuakui kalau diriku ini punya sifat pemalas yang begitu besarnya, terkadang sampai aku tak mau bergerak dari tempatku saat itu biarpun kondisinya sudah tidak lagi sehat. Kemalasan yang mengganggu ini tidak baik. Terkadang bahkan aku lebih baik menahan haus (atau menahan rasa kebelet) karena malas untuk beranjak dari tempat duduk. Tidak baik, tidak sehat, memang. Tapi memang begitulah kalau sudah malas. Untuk berpikirpun sudah tidak mau. Seakan semua anggota badan menolak melakukan bagian mereka masing-masing. Tentu saja kebiasaan ini tidak boleh diikuti dan dituruti lebih lama lagi. Perlu dilawan! Analisis apa yang terjadi membuatku malas ini perlu dilakukan agar ditemukan cara untuk melawannya. Mari kita mulai! Besok...?