Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label jalan

Mengatur Prioritas Hidup (Part 2)

Sebelumnya aku pernah bercerita tentang prioritas hidupku yang tidak jelas karena ketika orang-orang lain berangkat untuk hobi, aku masih tetap ada di kantor untuk bekerja. Tidak enak melihat ketika rombongan teman-teman berjalan keluar kantor untuk menjalankan aktivitas bukan kerja, aku masih tertahan di kantor. Sekarang di tahun 2019 ini aku berniat untuk mengubah itu semua! Tidak bisa lagi hanya berkutat dengan pekerjaan lalu pulang dari kantor dalam keadaan lelah tidak bertenaga untuk mengerjakan hobi atau belajar hal baru. Aku harus menentukan prioritas dalam hidupku demi kebaikan dan pengembangan diri. Menjadi orang yang lebih baik dan lebih kaya, sepertinya enak. Dengan lebih kaya, aku punya kemampuan membayar biaya jasa orang lain agar aku lebih banyak waktu luang untuk melakukan aktivitas peningkatan diri. Tapi sekaya apa yang aku mau dan incar? Sama seperti doa, membuat target juga harus spesifik dan breakable dalam detail yang achieveable. Semakin diperhatikan ...

Tidak Tahu? Sama!

Menjadi karyawan sebuah perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi dan jasa pemeliharaannya, membuatku bertanya pada diri sendiri: "Inikah yang kucari? Inikah posisi yang tepat dalam hidupku?" Dan yang lebih penting lagi: "Apakah aku puas dengan pencapaian selama ini?" Jawaban yang bisa kuberikan adalah: "Rasanya bukan. Sepertinya tidak." Dan, "Belum!" Aku masih mencari posisi dan peranku dalam hidup, apa yang bisa kuberikan pada diri sendiri, apa yang bisa kuberikan untuk orang lain. Sudah cukup berguna dan bermanfaatkan kiprahku di dalam perusahaan, bagi orang di sekitar, bagi orang yang kusayangi, untuk orang yang bahkan tidak pernah kutemui secara langsung. Seperti krisis diri - biarpun aku tidak sudi menyebutnya sebuah "krisis" karena akan terdengar seperti keadaan genting dan memaksa - yang berkepanjangan. Aku tahu apa pemicunya, di mana titik mulainya, dan samar-samar aku bisa bayangkan apa solusinya. Tapi un...

Bermain Kata-Kata

Rasanya tak bisa lepas dari dugaan bahwa si penjual membuat spanduk untuk promosi dagang dengan bermain kata-kata yang sekilas mirip dengan istilah anak muda. "Uwak Jutek"? Atau memang itulah cara penulisan nama nenek ini?

Bingung!

Sekarang sedang terlibat project yang membuat bingung karena... Apa yang harus kulakukan untuk menggeser gerakan daftar scope of work -ku ini ke milestone  berikutnya? Begitu banyak requirement  yang harus dipenuhi, ditambah pengetahuanku yang masih terbatas, berarti aku harus lebih teliti dalam menyiasati tuntutan progress  dan target. Apalagi mengingat target ini tidaklah kecil. Tantangan! Tapi ini sebuah hal baik karena berarti masih ada hal yang bisa kupelajari. Bukankah itu hal yang bagus? Karena BINGUNG maka masih harus BELAJAR lagi!

Berani Taruhan, Calonnya #GAGAL.

Berani taruhan, calon yang didukungnya GAGAL. It Has "Sux" In It, That's Why!

Penasaran Dengan Kopaja AC

Sampai sekarang aku belum berhasil mendapatkan justifikasi untuk menumpang: Kopaja AC Ragunan-Grogol Kopaja AC jurusan Ragunan Belakang-Grogol! Sebenarnya lebih ke rasa penasaran saja untuk pembanding beda "rasa" menaiki Kopaja biasa dengan Kopaja AC. Memang tetap sama-sama Kopaja sih tetapi why not ?

Mengingat Jalan Raya Serpong

Ada banyak hal yang bisa kuingat dari Jalan Raya Serpong kalau nantinya aku jadi meninggalkan tempat ini. Bukan berarti aku akan merindukannya. Bisa jadi aku cuma akan mengingat beberapa hal saja sehingga perlu menuliskan beberapa hal di sini. Iklan Pilkada Ratu Atut-Rano Karno Ter- stretch  Mungkin pilkada gubernur dan wakil gubernur Propinsi Banten pada tahun 2011 ini adalah satu-satunya pilkada gubernur setempat yang aku ada di sana ketika berlangsung. Sebenarnya melihat dari jumlah spanduk, iklan billboard, stiker gratis, pamflet dan hal lainnya, bisa ditebak kalau pasangan inilah yang menjadi berbahagia sebagai pasangan yang menang! Memang sepertinya Ratu Atut masih belum ada lawan. Tidak tahu apakah Rano Karno akan berfungsi secara optimal dan efektif. Sepertinya itu adalah soal lain.

Pembuka Jalan Pun Sengsara

Kemacetan di jalanan ibukota ini memang semakin absurd. Aku tak tahu kenapa bisa sepertinya tak ada antisipasi atau upaya pemecahan masalah yang komprehensif dari pemerintah kita yang "tercinta" ini. Sungguh mengesalkan ketika hidup kita tersia-siakan di jalan raya, keinginan produktif dan bekerja yang efisien tinggal angan-angan belaka. Kenapa aku bisa berpendapat seperti itu? Lihat saja keadaan jalanan ibukota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia maka kau akan mengerti. Voorrijder Pening Di Tengah Kemacetan Jalur Cepat Jalan Sudirman Pada suatu siang waktu aku terjebak kemacetan imbas simpul yang tak terurai karena volume kendaraan lewat yang sangat besar, di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Aku dengar sirene dari belakang dan ketika kulihat di rearview mirror ternyata ada rombongan menteri (?) yaitu sedan bernomor RI XX yang dikawal oleh patroli kendaraan bermotor.

Ungkapan Perasaan Supir Angkutan

Ada apa dengan para supir angkutan yang menghiasi kendaraannya dengan tulisan-tulisan yang bernada komikal? "Cinta Sopir Sebatas Parkir"

Korban Vandal

Sungguh tidak enak bila properti pribadi kita menjadi korban aksi vandalisme. Terios Apes Tak mungkin pemilik mobil yang naas ini awalnya berharap kendaraannya menjadi sasaran tangan jahil. Coretan Bila Dilihat Lebih Jelas Entah apa maksud si vandal yang menulis kalimat itu tapi kerusakan yang dilakukannya sudah terjadi. Apa tindakan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kerusakan dan (kalau bisa ditemukan) menghukum pelakunya?

Reckless Road Users

Everyday here you can see recklessness from road users, whether it was a biker or car driver. Even bicyclist does too. Like this fancy car that almost get rammed from behind by a transjakarta bus because the car driver suddenly swerve into the busway. Looked like the driver, when abruptly changing lane, didn't take a look to the rearview mirror first. The pictures above were taken after the near-crash a couple of hundred meters behind us. There was just one car seperating us that day. I even let out a yell watching it almost happened in front of me. Thank God that the bus driver had good reflexes to avoid the crash.

Fun Sunday! Yeay! (Drive Books Not Cars)

Because of Linda and my brother -- I must admit that I was very interested -- we came to Drive Books Not Cars  Jakarta that was holding a charity event where they sold used books for like, really cheap, where the money that collected from the sales will be used for making libraries(!) for less fortunate children in some part of Indonesia. What a noble idea! Of Course It Was  A Fake. No Glass Was THAT Big. A lot of people went there and of course, a "free Starbucks" was a real magnet for tempting people to come to the event. I don't mind because whether or not I get those free stuffs, I'd still have a chance of acquiring some good books that otherwise I won't be able to afford. People Got Attracted By The "Free" Word.  Yes, it was a Car Free Day at Jl. Thamrin, Jakarta Pusat. I have to use an indirect route just to avoid the roadblocks to accomodate all the good people that intended to have some outdoor sport activity. The event where they ho...

Bagaimana Dengan Polisi?

Itulah pertanyaan yang ada di benakku saat membaca sebuah spanduk pada bulan Agustus lalu yang berbunyi: "KITA JAGA KAMTIBMAS ... DENGAN MELIBATKAN ... ORMAS-ORMAS" adalah sebagian dari kutipan spanduk tersebut. Aku jadi berpikir, " Bagaimana dengan polisi? " Memang baik sekali bila masyarakat umum secara aktif menjaga keamanan lingkungan tempat tinggalnya sendiri tetapi melibatkan ormas inilah yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa bukan masyarakat bermitra dengan kepolisian dimana masyarakat dibina oleh petugas polisi dengan cara mengamankan lingkungan secara efektif, efisien, optimal.

Pindah Kos Baru

Sejak bulan Agustus ini memang aku sudah pindah ke kos baru di daerah Pondok Jagung. Kamarnya jauh lebih kecil dari kos yang lama dan lebih jauh pula ke kantor. Tetapi ada keunggulan utamanya yaitu aku tak perlu kuatir soal bocor atau rembesan air dari lantai dan dinding saat turun hujan. Memang baru sekali turun hujan sejak pindah ke kos ini tapi sepertinya tidak ada bekas kebocoran yang mengkuatirkan! Waktu tidur juga lebih tenang karena tak kuatir kalau hujan maka aku harus bangun dan membereskan barang-barang agar tidak basah kena air yang menggenang di dalam kamar.

RIP Yayan

Turut berduka cita atas kepergian temanku, Yayan Yanuar Hadi. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Kecelakaan maut di jalan raya di Tanjung Priok. Sampai berapa banyak orang yang meninggal sebelum ada perbaikan kondisi berlalu lintas di sini? Kapan kita semua bisa menggunakan jalan raya bersama-sama secara beradab? Dan yang menyakitkan adalah rasanya Yayan hanya akan menjadi data statistik di kepolisian dan pemerintah. My God! Yayan itu bukan cuma angka! Semoga amal ibadah Yayan diterima di sisi-Nya. Amin.

Tindakan Berbahaya, Lapor Ke Mana?

Sebenarnya aku sedang menunggu teman kantor di Bengawan Solo Coffee SPBU MT Haryono, Jakarta, waktu aku teringat sesuatu yang sangat mengagumkan kesembronoannya. Kejadiannya beberapa minggu yang lalu ketika aku menuju cafe yang sama di tengah hujan gerimis melihat sebuah mobil di depan SPBU yang sama bergerak melawan arus. Aku tahu bahwa kondisi jalan raya Jakarta yang macet dan membuat kita boros dalam segala hal sekalian mengurangi produktivitas. Aku bisa paham bila seorang pengemudi yang baru saja terlewat gedung yang dituju akan berpikir panjang untuk memutar balik kendaraannya sesuai peraturan lalu lintas karena jarak yang pendek bisa ditempuh dalam waktu yang sangat lama. Aku hanya sulit memahami kebodohan dan kesembronoan pengemudi mobil yang melawan arus di jalan raya yang ramai hanya karena tidak mau berputar balik! Apakah dia tak tahu bahwa di belakang gedung-gedung ini ada jalan paralel yang bisa digunakan untuk berputar arah tanpa harus ke arah Cawang lagi? Bayangkan kalau ...

Di Jalan Raya Serpong, Saluran Got Tak Berfungsi

Di Jalan Raya Serpong yang sekarang sepertinya dimanfaatkan oleh para penglaju dari Jalan Tol Jakarta-Merak yang hendak ke Tol Jakarta-Cikampek tanpa melewati Jalan Tol Dalam Kota, keadaan menjadi bertambah tidak menyenangkan untuk dilewati. Setiap orang yang tinggal di ruas jalan ini mungkin akan sependapat denganku. Keberadaan mobil-mobil yang melintas membuat jalan semakin ramai dan semakin sulit menyeberang. Untung ada pembangunan jembatan penyeberangan. Tetapi tak terlalu banyak membantu karena tentu saja jarak antar tiap jembatan terlalu jauh bagi penduduk yang sudah terbiasa mempertaruhkan keselamatan diri dengan menyeberang langsung di antara kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Keadaan yang sudah buruk ini makin diperburuk dengan tidak berfungsinya saluran drainase. Seandainya saja berfungsi dengan baik, rasanya tak akan membuat keadaan separah seperti ini. Hujan deras sebentar saja langsung air meluap menggenangi jalan raya sehingga pengemudi kendaraan pada menghindari ...

Daily Monotonous Routines

Some people have a saying for daily monotonous routines: SSDD, or Same Shit Different Day. It seems that tomorrow, Monday April 4, 2011, would be such a day. I tried not to moan but maybe you can guess from the tone in the beginning of this post. Not to worry, I won't waste your time by doing that. It's just that I have to change my perspective, learn to like my work more than before. Now is there some aspects of my work that I like that can be scaled larger so that the likeness factor can be bigger? This could be math or plain imagination, you decide. The photo above is just the usual workday in Jalan Raya Serpong but it's kind of late in the morning so you couldn't see the heavy traffic that usually there. Lucky me to be in the walking distance to my office. That is something to be thankful for. Heh!

Black Aseng

Kadang untuk mengiklankan produk yang dijual, orang bisa mengkorelasikan hal-hal yang sebenarnya tak jelas maknanya. Misal iklan obat kuat, memakai kata "International" untuk mengesankan kemanjuran produk yang dijajakan. Bahkan sampai menampilkan gambar seorang binaragawan yang walaupun otot-ototnya menggelembung seperti balon, tak pasti juga bahwa dia "kuat" dalam arti yang berhubungan badan. Setidaknya itulah menurutku. Black Aseng, Obat Kuat International Atau yang lebih keren lagi, foto binaragawan itu adalah si Aseng! Yang menjual obat kuat itu! Note: Foto diambil dari dalam mobil di daerah Kalibata. Kalau ini yang sebenarnya, MUNGKIN aku tertarik untuk membelinya! Bagaimana rasanya punya otot bertonjolan seperti balon dan semangka ya? Hmm...

Merasa Yang Paling Benar

Mungkin pemiliknya merasa sebagai yang palin B-3-NAR di jalanan ibukota Jakarta? Innova B 3 NAR Kuharap tidak!