Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label important

menunda pekerjaan adalah hobi

aku pikir masuk akal untuk mengakui saja: menunda pekerjaan adalah hobiku. dalam keadaan ekstrim, aku bahkan tidak mampu membuat diriku melakukan langkah pertama dari suatu tugas atau pekerjaan yang diminta dariku. tidak mudah, tidak mau, tidak ingin. dalam jangka pendek maupun jangka panjang, kebiasaan ini tidak baik. merugikan! tapi entah kenapa aku tak mampu berbuat banyak -- dalam beberapa kali kejadian -- melawan kebiasaan menunda pekerjaan ini. bahkan aku sebenarnya harus merapikan sebuah database untuk dikirimkan ke bagian divisi lain tetapi malah aku menghabiskan waktu di sini, menulis update-an blog ini. sungguh aneh. tidak efisien untuk diri sendiri tetapi aku tidak segan untuk menegur orang yang kuanggap tidak bekerja efisien. seperti standar ganda: orang lain tak boleh melakukan apa yang kulakukan. seperti bukan figur (calon) pemimpin yang pernah kukhayalkan dulu.

memulai rutinitas lagi (lanjutan)

tidak mudah untuk memulai rutinitas lagi, semacam restart , seperti yang pernah kutuliskan sebelumnya, dikarenakan membuat habit baru itu bisa dibilang gampang-gampang susah. melakukan evaluasi terhadap kinerja antara sebelum dan setelah memulai habit baru sebenarnya perlu dilakukan agar paham di mana hal yang dilakukan sudah baik dan memadai dan di bagian mana masih perlu perbaikan / peningkatan. melakukan upaya peningkatan kemampuan diri atau membentuk habit baru jangan dilakukan serampangan karena kita tak ingin segalanya sia-sia. memulai rutinitas lagi dengan mengubah ritual pagi hari atau malam hari sebelum tidur, misalnya. yang tadinya sejak membuka mata pertama kali sampai selesai mandi pagi mungkin butuh satu jam lima belas menit tanpa aktivitas penting atau krusial di antara kedua milestone itu, mungkin bisa evaluasi dengan mengurasi aktivitas menggeliat di atas ranjang atau tidak lagi membuka gawai terlebih dulu. semacam simpel tetapi akumulasi waktu yang tak lagi tersia-...

Melibatkan Diri Dalam Permasalahan Yang Ada - (Bag. 1 - Perkenalan)

Ada berapa banyak orang yang bersedia sukarela melibatkan diri dalam permasalahan yang ada, dengan tujuan memecahkan masalah? Lebih mungkin orang melibatkan diri untuk mendapatkan profit  sehingga bisa digolongkan ke kelompok oportunis. Aku pernah sering dituding  begini oleh orang-orang yang berinteraksi denganku. Sepertinya ini didasarkan ketidakmengertian mereka dan kecurigaan bahwa ada orang yang bersedia -- sukarela --  terlibat aktif dalam suatu masalah dengan tujuan ingin membantu penyelesaian secepat-cepatnya, sebaik-baiknya. Aku dikaruniai (dikutuk?) dengan perasaan yang sangat mudah terusik melihat masalah yang sepertinya kalau dipelajari lebih dalam bisa dicarikan solusinya. Sifat dan kondisi ini berkali-kali membebaniku sebenarnya. Sulitnya atasan-atasan memiliki anak buah sepertiku yang tidak suka berdiam diri melihat rekan atau atasan sendiri melakukan sesuatu yang sependek pengetahuanku adalah sumber masalah atau bagian dari masalah yang perlu dicarikan...

Dalam Meeting Business Process And System Update

Jadi hari ini aku terlibat dalam meeting yang cukup rumit dan seperti above my paygrade . Kehadiranku di sini lebih karena tidak ada orang lain yang lebih qualified hadir di kantor. Bisa dibilang semua orang menghindar dari pekerjaan seperti ini (apakah dianggap membosankan?) tapi setelah dianggap robust  dan melakukan final presentation  lalu para pengguna kemudian protes seperti "lho kok kaya begini?" Ketidaksesuaian seperti ini yang memang perlu dihindari. Kita kalau membuatkan sistem baru yang ingin streamlining dengan semua pengguna dalam satu grup perusahaan, dalam perusahaan yang ingin membesar, pastilah tidak mudah dan tidak murah. Tapi tentu saja ada orang-orang yang merasa terlibat langsung membuatkan sistem itu beneath myself  katanya lalu mendelegasikan tetapi ketika pekerjaan selesai dan mau launching,  protes dan minta diganti. Yang bisa kita lakukan adalah menerima penugasan dan pendelegasian tugas lalu kita jalankan sebaik-baiknya dan memikirkan s...

Evaluasi Beberapa Hari Setelahnya

Jadi seperti yang pernah kutulis di sini sebelumnya, ketika aku mulai menulis lagi di blog ini, orang-orang sudah tidak lagi mengunjungi situs blog seperti ini. Tulisan opini sudah tidak lagi menarik untuk digarap. Persaingannya besar untuk dapat attention  tetapi pembaca sudah sedikit. Terlalu banyak orang yang berpindah platform  ke media sosial yang berat di foto dan video (dengan beberapa merk yang tak perlu disebutkan namanya sudah "menguasai" pasaran). Kita ini manusia yang condong di stimulasi visual berupa gambar diam dan gambar bergerak. Lebih memuaskan indera dan otak manusia. Membaca simbol seperti susunan karakter (tulisan seperti ini misalnya), dirasa tidak menarik atau tidak bermanfaat. Setidaknya itu pembacaanku  atas tren masa kini. Aku tidak punya cukup sumber daya untuk meriset sendiri. Yang kupikirkan memang di mana-mana aku makin jarang melihat orang membaca sumber tulisan seperti buku atau setidaknya koran dan majalah yang memasukkan foto sebag...

Perencanaan Dan Pemeliharaan

Dalam tulisan sebelumnya di sini , sudah kujelaskan betapa aku melakukan banyak kesalahan dengan mengabaikan perawatan kendaraan secara berkala. Kesalahan yang membuatku harus mengeluarkan dana lebih banyak dalam waktu berdekatan karena tak punya rencana sama sekali terhadap hal seperti ini sehingga saat terjadi kerusakaan (karena usia parts  dan sebab normal lainnya) dalam waktu yang berdekatan, aku menjadi kalang-kabut. Sudah kujelaskan juga pada bulan Maret tahun ini tentang keenggananku untuk memulai proses yang aku rasa akan memberatkan diri sendiri. Jadi pada saat terjadi kerusakan beberapa kendaraan di beberapa bagian yang berbeda, sungguh mempelajari beberapa hal baru dalam waktu bersamaan itu tidaklah gampang. Ini jugalah yang membuatku tidak kunjung melanjutkan lagi sekolah karena sepertinya otakku sudah terbiasa tidak dipakai untuk memecahkan masalah yang baru dan jauh dari hal yang biasa kuhadapi sehari-hari: electronic business process for project delivery.

Ingin Bisa Berpikir Kritis Tanpa Henti

Untuk mempercepat perubahan dan membuat diri lebih baik dari sebelumnya, salah satu yang perlu kupelajari adalah berpikir kritis. Untuk bisa berpikir kritis tanpa henti, aku perlu bisa konsentrasi. Konsentrasi yang lebih intens daripada yang pernah kulakukan selama ini. Untuk itu aku perlu belajar lebih bisa mengendalikan pikiran yang akhir-akhir ini sering sekali teralihkan dan bercabang ke mana-mana. Berpikir kritis tanpa henti untuk bisa maju. Memecahkan masalah. Menyeruak keluar dari kebuntuan dan problematika yang sedang menghadang. Misalnya saja untuk masalah pribadi berupa hubungan interpersonal yang sedang kujalani saat ini. Tidak mudah mempertemukan perbedaan antar dua pribadi. Bukan alasan untuk menyerah. Belajar berpikir kritis dan evaluasi setiap hari atas apa yang sudah dilakukan dan diputuskan seharian penuh itu perlu. Artinya tidak memforsir diri sampai melebihi batas lelah sampai tidak bisa berpikir jernih lagi. Mungkin solusi lain adalah dengan rutin me...

Fokus dan Displin, Bila Hendak Lebih Maju

Semakin banyak yang kucoba pelajari maka semakin sadar aku bahwa sebaiknya aku fokus pada satu (atau beberapa) topik saja untuk dipelajari lebih lanjut. Misalnya diberi daftar hal-hal acak, seperti berikut: Mempromosikan sepeda dan aktivitas bersepeda sekaligus asesorisnya. Belajar membuat video untuk media sosial. Mengedit foto untuk konten komersil.

Mengubah Idealisme, Kenapa Tidak?

Mungkin hidupku akan lebih mudah bila idealismeku adalah sebanyak-banyaknya uang. Itulah yang kukatakan pada diriku pagi ini, di depan cermin, saat bersiap untuk berangkat kerja seperti biasa. Ya, aku hanyalah seorang kuli korporat yang hidup from paycheck to paycheck.  Tidak bisa dibanggakan, tidak berlebihan, tidak juga melarat. Setidaknya itulah yang kupikirkan sambil duduk di sebuah coffee shop  jaringan yang cukup luas tersebar di seluruh Indonesia.

Appearance is Important

So today I met with the new VP of HR in front of the elevator lobby and he asked me why did I dressed up, to which I said that each week from Monday until Thursday I usually met with various vendors, whether scheduled or improptu visit. I also told him that if those vendors came to our office wearing batik or formal shirt but I came out wearing t-shirt or looked like I was hanging out at a bus terminal, the company image will probably hurt. There was actually bigger chance that the people I met would take my instruction differently. Other reason was that it would show I respect myself and the person I'm meeting with. Of course I'm not saying that my experience taught me that same instruction from the same person using different outfit will certainly carries different weight. Appearance matters a lot. He agreed. Good for me, my point was delivered across well enough.