Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label hidup

Mengantuk Tapi Ada Kebutuhan

Baru pukul 10 malam tetapi aku sudah sangat mengantuk dan ingin tidur namun aku sadar ada kebutuhan lain yang mendorongku untuk tidak beristirahat: Belajar. Ya, aku tahu aku butuh belajar dalam sisa umurku ini. Semakin terganggu di bawah sadar bahwa aku menyia-nyiakan waktu dengan tidak melakukan ini dan itu yang secara manfaat lebih bernilai daripada membaca linimasa di akun media sosial. Jadi biarlah ini menjadi update singkat bahwa aku tidak lupa mengabarkan ke dunia soal kegelisahanku tentang ketidaktahuanku atas banyak hal.

Tahun Baru, Semangat Baru

Ada banyak hal yang terjadi hanya dalam dua minggu pertama tahun ini. Aku tidak akan merincinya satu per satu tetapi yang jelas aku punya semangat baru untuk mengejar dan mencapai lebih banyak hal lagi. Belajar dari pengalaman yang membukan mata dan memperluas wawasan, membuatku diingatkan untuk tetap rendah hati. Bersiap untuk perubahan yang akan lebih banyak lagi.

Selamat Tahun Baru(?)

Mungkin sudah saatnya aku mengucapkan: SELAMAT TAHUN BARU! Dengan penuh semangat dan optimisme, kita sambut pergantian tahun 2015 ke 2016 ini bersama-sama. Ada banyak hal yang baik dan kurang baik yang sudah dialami sepanjang tahun 2015. Jadikan pengalaman itu sebagai guru yang personal, yang mengajarkan agar makin dewasa. Masih ada banyak petualangan yang bisa dialami di 2016. Semuanya tergantung ke diri sendiri. Upaya apa yang dilakukan, pilihan apa yang diambil, keputusan apa yang dibuat. Seperti Anak Anjing, Mari Bermain Dan Berpetualang! Pada tahun 2014 hendak berganti ke 2015, aku punya niat mulia, project yang ingin dilakukan, daftar hal yang ingin bisa dikuasai. Well, setahun berlalu dan masih banyak hal yang menjadi utang yang harus dibayarkan agar aku bisa berdamai dengan diri sendiri.

Jadi Tua Itu Pasti, Jadi Dewasa Itu Pilihan, Jadi Mandiri Itu Puncak Keberhasilan

Ada banyak hal yang membuatku merasa terasing di sini. Salah satunya karena perbedaan nilai yang dianut. Misalkan dalam hidup sehari-hari di mana orangtua masih berperan besar dalam hidup. Bagiku, seorang dewasa ( adult ) seharusnya tak lagi hidup menumpang orangtua, makan di rumah, pakaian dicuci oleh orangtua atau asisten rumah tangga yang digaji oleh orangtuanya, masih mendapatkan uang saku rutin dari orangtuamu, dan hal lainnya yang menunjukkan bahwa kehidupanmu sebagai seorang dewasa masih di-"subsidi" oleh orangtuamu. Mungkin dengan sangat terpaksa aku akan memberikan pengecualian bagi orang yang bahkan setelah bekerja lebih dari dua belas bulan masih belum cukup penghasilannya untuk bisa keluar dari rumah orangtua. Atau setelah keluar pun masih mendapat sokongan untuk bisa hidup sehari-hari karena sebagai orang gajian, mendapatkan upah di bawah standar hidup layak sehingga tiap bantuan yang bisa diberikan akan diterima dan digunakan sebaik-baiknya. Tapi aku bicara t...

Jujur Itu Tak Mudah

Tak ada yang bilang bahwa hidup akan lebih mudah bila dijalani dengan jujur. Soalnya ada banyak hal yang membuat seseorang tidak berlaku jujur. Misalnya ketika seorang pria ditanyakan oleh pasangannya, "Apakah aku bertambah gemuk?" Selain itu dalam pergaulan sehari-hari, saat berkata jujur malah akan berakibat dianggap tidak sopan oleh si penanya atau pihak yang mendengar percakapan tersebut. Alih-alih bicara apa adanya, seseorang malah menggunakan eufemisme untuk menutupi jawaban sebenarnya, hanya agar si penanya tidak tersinggung. Yang lebih besar lagi skala tidak jujurnya adalah menggunakan berbagai dalih untuk menutupi tindakan asli yang sebenarnya bisa saja dikategorikan tercela atau setidaknya, tidak etis. Dalam spektrum yang berbeda, tindakannya termasuk ilegal. Misalnya seorang pemimpin organisasi berlabel agama yang tak bisa membayar cicilan kredit kendaraan bermotor, yang ketika debt collector datang untuk menyita kendaraan, malah dihadapi dengan ancaman bahwa mod...

Bantuan Untuk Menjadi Dewasa?

Ada yang pernah bilang kepadaku bahwa bila tak bisa mengontrol emosi, misalnya saat menghadapi orang yang menyinggung perasaan kita, tanda bahwa aku belum dewasa. Seorang yang telah dewasa, sewajarnya bisa bertindak tepat sesuai situasi, dapat mengontrol emosi, terlebih lagi bila ekspresi yang akan dikeluarkan ke orang yang dihadapi, berpotensi merugikan diri sendiri. Sulit, memang, jadi dewasa. Sampai sekarangpun aku masih banyak belajar mengelola emosi dan seringnya, amarah. Apakah ada tempat berlatih yang sesuai untuk kebutuhan ini? Soalnya aku sadar bahwa seringkali ungkapan perasaan yang spontan kukeluarkan, berujung pada penyesalan diri sendiri. I shouldn't do that. Seperti itulah yang kupikirkan setelah ditinggal sendiri dengan pikiranku. Biasanya aku analisis peristiwa yang terjadi, apa reaksi lawan bicaraku, apa reaksiku, dan apa yang sebenarnya bisa kulakukan agar hasil akhirnya menguntungkan diriku dan syukur-syukur, juga menguntungkan lawan bicara itu. Memang ...

Semua Orang Punya Mimpi

Setiap dari kita punya mimpi tentang apa yang ingin kita dapatkan, apa yang masih ingin kita raih, tentang orang yang kita cintai, tempat yang kita tuju, kondisi yang kita mau. Tapi banyak orang hanya terbatas pada kegiatan itu saja: bermimpi . Aku sadar hal ini juga terjadi padaku dan ini membuatku merasa gelisah. Rasanya sangat mengganggu bahwa ada banyak materi dan status yang masih belum aku dapatkan dan aku raih. Ada banyak hal yang belum kukerjakan. Ada banyak tempat yang belum aku kunjungi. Papercraft Robot Bila hidup adalah perjalanan dan waktu adalah seperti aliran sungai, aku yakin perjalananku masih panjang dan sungaiku masih belum tercemar. Aku tahu belum seluruh potensi aku keluarkan. Hidupku belum usai. Masih banyak mimpiku yang belum terwujud. Bahkan, benar-benar mulai saja, belum...

Mengubah Kebiasaan Itu Sulit

Semua orang harus tahu bahwa mengubah kebiasaan itu sangatlah sulit. Perlu perhatian khusus dan perjuangan. Misalnya ketika kemarin aku pergi ke sebuah rumah sakit di Bandung untuk pemeriksaan gigi (yang seharusnya) rutin. Ini kunjunganku ke dokter gigi setelah setidaknya enam belas bulan. Jadi dokter memeriksa geligiku dan menyatakan bahwa gigiku cukup baik kondisinya untuk seseorang yang melewatkan dua kali kunjungan rutin. Hanya saja, secara kosmetik, kebiasaanku minum kopi dan teh membuat geligiku tidak seputih yang sebenarnya bisa saja kumiliki. Nah, ini kebiasaan pertamaku yang sangat sulit diubah. Aku akan uring-uringan bila tak mendapatkan asupan kafein dalam bentuk kopi hitam tanpa gula yang pekat. Lalu tentu saja, setelah minum kopi, aku tak langsung menyikat gigi untuk melepaskan noda hitam yang pastinya akan menempel pada lapisan terluar gigi.

Bingung!

Sekarang sedang terlibat project yang membuat bingung karena... Apa yang harus kulakukan untuk menggeser gerakan daftar scope of work -ku ini ke milestone  berikutnya? Begitu banyak requirement  yang harus dipenuhi, ditambah pengetahuanku yang masih terbatas, berarti aku harus lebih teliti dalam menyiasati tuntutan progress  dan target. Apalagi mengingat target ini tidaklah kecil. Tantangan! Tapi ini sebuah hal baik karena berarti masih ada hal yang bisa kupelajari. Bukankah itu hal yang bagus? Karena BINGUNG maka masih harus BELAJAR lagi!

Hidup Yang Seharusnya

Seperti semua orang lainnya di muka bumi ini, orang yang normal,  sehat jasmani dan rohani, tentu ingin hidup seperti yang seharusnya mereka jalani. Hidup yang seperti idealnya mereka. Cukup atau berlebih, sejahtera atau kaya raya, banyak teman atau dibiarkan sendirian, entah apapun itu, pastilah keinginan itu ada. Tentu tak ada yang salah dengan keinginan itu karena seharusnya hidup itu ada "alur"-nya, ada "pakem"-nya, ada "aturan"-nya. Seharusnya hidup itu ya seperti itu. Maksudku, kalau tidak diatur orang lain, ya hidupmu itu mestinya diatur oleh dirimu sendiri, agar hidup itu punya arti, makna, manfaat, dan tidak menghabiskan sumber daya di bumi ini sia-sia. Bayangkan saja kalau ada satu milyar manusia yang menjalani hidup dengan prinsip mengalir begitu saja -- yang ternyata, sialnya -- dan ketika tiba di muara (ini kan perumpaan yang menyamakan dengan air sungai bermuara ke laut, bedanya muara kehidupan ini sepertinya lebih pas diartikan se...

Menjadi Pemimpin di Sini

Kadang aku berinteraksi dengan pemimpin yang seperti lupa bahwa tanpa pengikut, dirinya tak akan bisa memimpin. Mana ada pemimpin tanpa pengikut. Tanpa anak buah yang bersedia beraktivitas sesuai perintah pemimpin demi kepentingan kelompok atau mungkin sekedar kepentingan pribadi si pemimpin tersebut. Ada pemimpin yang dengan penuh percaya diri bahkan kadang terkesan angkuh, yang menepuk dada dan menyatakan bahwa dirinya memang ahli dan bisa. Tidak segan mendesak dan membuat anak buahnya bekerja dengan keras dan lebih keras lagi lalu hasilnya akan diklaim sebagai kemampuannya pribadi. Ada pemimpin yang seakan-akan merangkul anak buahnya tetapi kalau ditelaah lagi, sebenarnya caranya memanipulasi orang lain untuk tujuan yang sudah dia tetapkan. Aku pernah dengar pemimpin yang berhasil adalah pribadi yang agresif dan tukang bully . Aku rasa aku harus lebih agresif dan lebih mem- bully , karena tak mungkin selamanya aku bersedia tidak merubah posisi dalam pekerjaan, bukan? Itu a...

Mengatasi Kondisi Buntu...

Ada kalanya kita merasa terbentur dan tak bisa bergerak lagi. Stuck . Buntu. Mau apalagi? Biasanya yang kulakukan setelah menghabiskan waktu berputar-putar di tempat yang sama adalah: meneruskan langkah dari tempat kita terhambat itu. Biarpun jalan keluar tak terlihat. Meskipun arah tak lagi pasti. Walaupun tujuan tak bisa terlihat. Yang penting, kita bergerak. Nanti kita akan menemukan jalan keluar. Mungkin bukan menuju hasil sesuai yang kita inginkan. Tetapi hidup tidaklah sempurna begitu pula dengan hasil usaha kita. Yang penting, kita bergerak. Temukan solusi. Temukan hasil. Ulangi proses.

Makan Siang Bersama

Dekat-Jauh: Dame, Nadia, Irene, Ika Ini mungkin satu-satunya foto yang akan mengingatkanku ketika jumlah tim SA dan support-nya masih "lengkap". Saat itu kami semua setuju untuk makan siang bersama pada suatu Jumat siang. Kebetulan waktu istirahat siang lebih lama daripada biasanya yang berarti kami tak perlu terburu-buru menyelesaikan sesi makan. Tentu saja mereka berempat sebagian dari keseluruhan tim kami dalam project yang penuh dengan hikmah. Yeah, kita ambil hikmah dari pelajarannya saja. Pahit sih, tapi ada pembelajarannya. Sebentar lagi semua akan terpencar-pencar karena project ini sudah hampir "selesai" dan berarti kami semua akan disbanded  oleh PMO. Atau divisi apapun yang "berkuasa" di korporasi ini. Hidup? Jalani saja...