Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label blame

menunda pekerjaan adalah hobi

aku pikir masuk akal untuk mengakui saja: menunda pekerjaan adalah hobiku. dalam keadaan ekstrim, aku bahkan tidak mampu membuat diriku melakukan langkah pertama dari suatu tugas atau pekerjaan yang diminta dariku. tidak mudah, tidak mau, tidak ingin. dalam jangka pendek maupun jangka panjang, kebiasaan ini tidak baik. merugikan! tapi entah kenapa aku tak mampu berbuat banyak -- dalam beberapa kali kejadian -- melawan kebiasaan menunda pekerjaan ini. bahkan aku sebenarnya harus merapikan sebuah database untuk dikirimkan ke bagian divisi lain tetapi malah aku menghabiskan waktu di sini, menulis update-an blog ini. sungguh aneh. tidak efisien untuk diri sendiri tetapi aku tidak segan untuk menegur orang yang kuanggap tidak bekerja efisien. seperti standar ganda: orang lain tak boleh melakukan apa yang kulakukan. seperti bukan figur (calon) pemimpin yang pernah kukhayalkan dulu.

sakit kepala ini disebabkan oleh stress

dunia dihajar wabah dan semua orang yang mengaku rasional dan paham pasar, ekonomi, dan tetek bengek lainnya malah seperti panik dalam upaya mengoptimalkan keuntungan pribadi atau institusi tempatnya mencari nafkah. semua orang dalam kondisi apapun tentu mengincar sebesar-besarnya keuntungan pribadi, lalu sekuat-kuatnya usaha menghindari kerugian. ogah rugi, ngotot untung. sedangkan aku di sini merasa stress karena setiap hari melihat paper asset -ku makin menyusut nilainya tanpa bisa dibendung karena aku ini siapa sih dibanding semua orang pintar rasional paham pasar dan ekonomi? kehilangan harta sampai separuhnya dan tak jelas apakah dan kapan bisa recovery . semua beban pikiran ini membuatku stress . lalu sekarang aku mulai merasa lapar.

semua ini telah kulakukan

aku harus mengabaikan halusinasiku tempo hari karena ternyata aku tak punya leverage untuk mengeluarkan isi otak dan melampiaskan kegelisahan di hati. aku tak tahu apakah benar atau salah yang jelas tak ada artinya memiliki rencana yang muluk-muluk. tapi aku tahu aku menuliskan ini seperti orang yang tak punya harapan, pesimistis menatap masa depan, biarpun selama ini aku sebenarnya baik-baik saja melewati waktu. aku hanya merasa tak mencapai my full potential karena aku terlalu mudah terdistraksi. tidak memadainya waktu dan tak adanya energi seharusnya bisa dikelola karena aku punya resource yang terbuang dengan mudahnya. membayangkan memiliki apa yang aku miliki sekarang biarpun sebenarnya aku pernah berharap melengkapi semua lebih cepat lagi. misalnya sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. sebaiknya aku mengonsep jalur cerita yang lebih koheren dan menuliskan, mengedit, lalu menuliskan ulang agar seperti kegiatan mengasah pisau sehingga semakin tajam. menyimpan semua pikir...

Stagelight Adalah Salah Satunya

aku diingatkan tentang ada banyak program dan aplikasi yang kubuka, kupasang, kubayar langganannya, tetapi tidak kupakai secara optimal. Stagelight dari Open Labs adalah salah satunya. sudah kupasang di gawaiku, di komputerku, dan kubayar beberapa paket bunyinya. tapi sampai sekarang, ketika aplikasi ini akan diskontinu karena sudah diakuisisi oleh Roland, aku tidak juga menguasai apapun. itulah aku. jago membayar tapi tak bisa memanfaatkan. orang (produsen aplikasi dan program) mungkin suka dengan tipe konsumen seperti diriku, yang bersedia membayar premium tetapi tidak membebani server mereka karena aku ternyata hanya membayar tapi tidak menggunakannya. bayangkan, aku membayar untuk menggunakan tempat tetapi tidak dipakai sama sekali. biaya maintenance server lebih murah karena load yang lebih rendah.  Stagelight dari Open Labs ini adalah salah satu indikator yang menyadarkanku bahwa aku sangat boros dan tak bijak dalam menggunakan sumber daya yang aku punya. tidak efisien....

ini ada masalah apa lagi dengan si bedul?

ada banyak hal yang perlu diurus dan dikerjakan dalam waktu bersamaan tetapi kenapa ini lagi dan ini lagi hal yang muncul dan menyita waktu tenaga pikiran kita? tidak benar kalau aku tidak berminat atau dibilang tidak mau berubah dan mengubah. aku tahu aku butuh berubah agar tidak begini-begini saja tanpa ada kemajuan yang berarti. sial. aku mulai meracau. seharusnya sadar dan paham apa konsekuensi dari pilihan yang diambil. ini berarti tidak perlu kemudian berpura-pura terkejut bila salah satu hasil yang tak diharapkanlah yang muncul. soalnya tak semua orang bisa mendapatkan apa yang diinginkan. berupaya maju itu tidaklah mudah dan memang mencemaskan. melelahkan pun.

basically, what i do is...

losing money. i tend to think that i am smart than most people surrounding me in a daily basis but when i get to expand the circle just a little bit then wham! i am reminded how little i know about the real world and how people will not even acknowledge my level of knowledge. that i am just a nobody. that hurts. i told myself that i know a lot then act upon that information that i thought would be enough. many times, i get told that i know nothing. that my decision making is flawed. that i am not getting better, not learning from past mistakes. you know what? at least i know that i do not know. then i will try to learn more just to get that fraction of information / knowledge to add to my brain. i will prevail. i should.

Mengantuk Tapi Merasa Berutang

Semuanya sesimpel rasa. Aku merasa mengantuk. Tapi aku tak enak pergi tidur biarpun sudah lewat pukul sepuluh malam karena aku merasa berutang pada diri sendiri untuk membaca, belajar, dan mengasah kemampuan pribadi. Ada terlalu banyak waktu yang kuhabiskan untuk bekerja. Dalam seminggu mungkin aku bekerja lebih dari empat puluh jam tapi lemburnya tidak ada harganya. Aku tak dibayar. Tak dipuji. Lebih sering merasa diperlakukan tidak menghasilkan output sesuai harapan. Aku merasa mengantuk tetapi belum bisa tidur.

Pengaruh Perkataan Orang Lain

Seberapa paham dirimu soal pengaruh ucapan orang lain kepada keadaan psikismu? Itu menjadi pertanyaanku malam ini saat kepalaku berdenyut-denyut hebat dan jantungku berdegup tidak teratur. Semuanya dimulai karena tadi sore atasanku secara "biasa" mengeluh soal kepalanya yang tak nyaman setelah mencoba menyeduh kopi dengan bubuk dari atas mejaku. Betapa kepalanya berdenyut tidak tenang dan jantungnya berdebar. Memang sebelumnya sudah kuperingatkan bahwa ini kopi berbeda dari yang biasa beliau minum tetapi mungkin beliau beranggapan bahwa dirinya sebagai peminum kopi reguler tentu sudah bisa menikmati berbagai jenis kopi. Lalu ternyata keadaan fisiknya setelah meminum kopi dari atas mejaku jadi mengganggu produktivitasnya? Entahlah. Yang jelas malam ini aku merasakan kepala berdenyut-denyut, dimulai tak lama setelah tadi sore beliau menyampaikan keluhannya. Aku seperti tersugesti bahwa aku merasakan keadaan yang sama dengannya. Entah aku baru sadar ada kondisi seperti ini...

I Need To Revamp My Ability For Reading Comprehension

I am in a really bad mood because I just spend an hour reading technical documentation on how to do a few things that I need in order to finish my work, but then I forgot everything, almost in an instant. I spent a lot of time read and reread some paragraphs just to get confused again. Not easy to get myself out of the hole I am digging for myself. This is urgent because this is how I can get myself finish task faster. I need this ability / new set of skill. I am frustrated.

Masalah Dengan Mudah Lupa

Jadi beberapa waktu lalu aku membaca tentang kekurangan pribadi yaitu mudah lupa, spesifik tentang membaca buku dan memahaminya, serta betapa mudahnya untuk melupakan hal yang baru saja dibaca beberapa halaman sebelumnya. Aku akui ini terjadi padaku. Bayangkan, sesudah melewati beberapa lembar bacaan, mendadak terpikir, "Eh tunggu dulu, tadi dia bahas apa ya?" Hal ini kurasa menggangguku. Ini jugalah sebabnya aku sungkan untuk mengambil kursus atau pendidikan bersertifikasi -- yang berarti harus ujian. Semata-mata karena aku ragu setelah membayar mahal dengan uang dan waktu, pada saatnya ujian aku tidak lulus karena aku melupakan semua hal yang belum lama dipelajari. Ini kekurangan yang perlu diatasi tapi tidak mudah. Apakah penambah parahnya mudah lupa ini karena aku makin jarang membaca teks panjang? Apakah aku lebih banyak menghabiskan waktu membaca cuitan orang di Twitter yang terbatas hanya 280 karakter sehingga membaca beberapa alinea akan membuatku mengernyitkan da...

berbuat dan berbuah - bagian 1: pada awalnya...

tidak mudah untuk melakukan kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan, tetapi seperti itulah yang diminta oleh tokoh yang pernah berjalan di muka bumi ini sekitar dua milenia yang lalu. awalnya aku berpikir untuk menjadikan update blog ini sebuah renungan rohani tetapi untuk kebaikan diriku sendiri sebaiknya tidak usah berbicara soal religiusitas diriku sendiri. aku tidak merasa sebagai orang beriman yang baik dan taat pada aturan dalam agama jadi berbicara tentang ini terasa tidak tepat. jadi aku ubah konteks "berbuat dan berbuah" menjadi sebuah refleksi diri untuk perbaikan yang tidak terkait dengan religiusitas manusia atau hubungan dengan suatu higher being  sama sekali.  berbuat semasa hidup tak mungkin tidak berbuat apapun. melakukan tindakan yang ada konsekuensinya. memilih yang ada. kalkulasi lalu mengambil keputusan yang berimplikasi pada masa depan. semuanya bisa terasa acak namun ketika melihat ke belakang beberapa waktu kemudian mungkin terpikirkan, ...

The Agony of Not Knowing

Merasakan ketidaktahuan dan tertinggal -- or being left out -- sungguh perasaan yang tidak mengenakkan. Semua orang tertawa atas sesuatu hal yang mungkin lucu tapi kita tidak paham. Lirikan bermakna yang kita tidak tahu sebagai kode apa. Senyum yang diberikan ke orang di sebelahmu tapi tidak untuk kamu. Aku tahu posisiku yang tidak tepat dan cenderung tidak menguntungkan.  Itulah sebabnya perlu reposisi untuk menghadapi keadaan dinamis yang bekerja seakan-akan against my own interest.  Antisipasi, aksi, evaluasi, reposisi, antisipasi lagi, ulangi. Seperti siklus yang tak selesai selama masih hidup, siklus yang dimulai sejak rasa sakit karena ketidaktahuan dan pertanyaan pada diri sendiri: "Apakah aku dimanfaatkan secara tidak adil atau apa?" Tidak melupakan bahwa identitas yang kubawa sejak lahir dan diterjemahkan secara bebas di sini u ntuk mengkategorikan orang -orang secara gampang tanpa perlu mempertimbangkan aspek keadilan, kemanusiaan, atau kesamarataan. Den...

Should I Be Worry?

I have thought that being in-between jobs would be interesting enough because I would then have time to do what I wanted, personal projects and pursuing hobby. But then I read about dire condition in the Europe and United States, about young people being jobless or must take underpaying work just to get barely independent. Some are even moving back to their parents' house or living rent free with their friends. People with higher education degree compete for jobs that were previously offered to immigrants who would accept lower salary. Here I thought that it would be always sunshine and happy yet I know in some corner of my mind that that wouldn't be so. Should I be worry? Of course I should. The more time I spent being unemployed, the more chance that I wouldn't get a follow up for job interview after sending out my resume. Even more risk because I lived in Indonesia, where competition is actually fierce and employers can be very picky because there's more peop...

Kenapa Tidak Mencari Kesibukan Lain?

Misalkan saja bahwa aku benar-benar sibuk sampai tak ada energi untuk kegiatan lainnya. Tentu saja ini adalah kabar buruk karena variasi dalam rutinitas itu perlu agar tidak bosan atau mematikan kreativitas. Ini berarti aku menjadikan diriku sendiri sebuah robot yang hanya melakukan perintah atasan dan mengikuti jadwal yang diberikan kantor atau markas besar. Hal yang secara profesional memang harus dilakukan tetapi berpotensi mematikan kemampuanku untuk berpikir kreatif. Jadi yang perlu aku lakukan adalah mencari kesibukan lainnya. Tapi apa?

Kenapa Tidak Kutunjukkan Saja?

Aku jadi heran dengan apa yang aku lakukan dengan seakan-akan menyembunyikan hobiku selama ini. Sejak bergabung dengan company yang sekarang, aku seperti orang yang tak punya aktivitas lainnya di luar kantor. Aku bertingkah laku bagaikan orang g tak punya hal menarik dalam kehidupan pribadi yang bisa kuceritakan atau kubagi. Memang tentu saja aku tak berminat berbagi kehidupan pribadiku dengan semua orang. Itu bodoh. Tapi seharusnya ada hal yang menarik yang lebih baik didiskusikan dibanding dengan membicarakan orang lain atau bahwa orang begitu kerja seharusnya langsung menikah dan punya anak. Sebaiknya arah tulisan yang ini kuhentikan karena sepantasnya punya judul sendiri.

Mengubah Kebiasaan Itu Sulit

Semua orang harus tahu bahwa mengubah kebiasaan itu sangatlah sulit. Perlu perhatian khusus dan perjuangan. Misalnya ketika kemarin aku pergi ke sebuah rumah sakit di Bandung untuk pemeriksaan gigi (yang seharusnya) rutin. Ini kunjunganku ke dokter gigi setelah setidaknya enam belas bulan. Jadi dokter memeriksa geligiku dan menyatakan bahwa gigiku cukup baik kondisinya untuk seseorang yang melewatkan dua kali kunjungan rutin. Hanya saja, secara kosmetik, kebiasaanku minum kopi dan teh membuat geligiku tidak seputih yang sebenarnya bisa saja kumiliki. Nah, ini kebiasaan pertamaku yang sangat sulit diubah. Aku akan uring-uringan bila tak mendapatkan asupan kafein dalam bentuk kopi hitam tanpa gula yang pekat. Lalu tentu saja, setelah minum kopi, aku tak langsung menyikat gigi untuk melepaskan noda hitam yang pastinya akan menempel pada lapisan terluar gigi.

Reflection on Legacy

Kenapa harus bingung? Aku memang harus berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari dan kemudian merefleksikan seluruh hidupku yang telah kulewati: selama sembilan belas tahun ini. Sebentar lagi aku akan berkurang usia hidup. Mencapai milestone  yang disebut orang awam sebagai ulang tahun yang sebenarnya adalah pengingat bahwa "jatah hidup" di muka bumi makin berkurang. Sungguh tidak menyenangkan bila ada yang mengingatkan bahwa aku tak akan hidup selamanya dan bahwa utangku masih terlalu besar: Aku belum berkontribusi apapun bagi orang-orang di sekitarku. Rasanya aneh dan cenderung menyedihkan, bahwa sekian lama ini aku pada intinya hanya hidup untuk diri sendiri. Belum ada andil sedikitpun, apalagi yang signifikan, pada hidup orang-orang yang kukenal, yang sekedar tahu, atau orang yang bahkan dalam mimpipun aku belum pernah bertemu. What is your legacy? Aku tak tahu. Aku rasa aku tak punya apa-apa untuk diwariskan. Sedih ya?

Cermin

So I guess there's always something wrong that I do no matter what I did. Atau sesuatu dengan efek yang kurang lebih sama seperti kalimat di atas. Betapa mudahnya aku men- judge  orang yang kutemui sehari-hari sampai aku melupakan bahwa ada saja orang yang melakukan hal mirip kepadaku tanpa berusaha mengenalku sama sekali. Tidak menyenangkan bahwa tindakan seperti itu, being judgemental , ternyata resiprokal. Apalagi ketika menyadari perlakuan seperti itu ditetapkan kepadaku oleh orang-orang di sekitarku. Tetapi kalau dipikir lagi, kenapa harus peduli? Aku adalah aku. Kalau tak suka dengan aku, kenapa aku harus pedulikan penilaian itu?

Menyalahkan Pemimpin

Sulitnya mendapatkan Pemimpin yang baik. Bila sudah bekerja beberapa lama, hal seperti ini akan terasa. Seperti kata seorang motivator yang sering tampil di acara televisi yang kira-kira berbunyi seperti ini: " Andalah yang memilih Pemimpinmu, bukan sebaliknya." Jadi sebagai seorang karyawan biasa, tidak bisa kita serta merta menyalahkan Pemimpin kita saat itu dengan misalnya mengatakan bahwa beliau tidak mengerti kemampuan dan kemauan kita. Tak cocok menganggap Pemimpin kita tak mampu mengemban tugasnya atau dia adalah orang yang tak peduli pada anak buahnya. Beliau tak sepenuhnya bisa disalahkan karena pertanyaannya adalah: Memangnya apa yang kau lakukan dengan bertahan tetap menjadi anak buahnya? Bukankan itu berarti kau membiarkan dirimu berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan tersebut?