Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label imagination

menunda pekerjaan adalah hobi

aku pikir masuk akal untuk mengakui saja: menunda pekerjaan adalah hobiku. dalam keadaan ekstrim, aku bahkan tidak mampu membuat diriku melakukan langkah pertama dari suatu tugas atau pekerjaan yang diminta dariku. tidak mudah, tidak mau, tidak ingin. dalam jangka pendek maupun jangka panjang, kebiasaan ini tidak baik. merugikan! tapi entah kenapa aku tak mampu berbuat banyak -- dalam beberapa kali kejadian -- melawan kebiasaan menunda pekerjaan ini. bahkan aku sebenarnya harus merapikan sebuah database untuk dikirimkan ke bagian divisi lain tetapi malah aku menghabiskan waktu di sini, menulis update-an blog ini. sungguh aneh. tidak efisien untuk diri sendiri tetapi aku tidak segan untuk menegur orang yang kuanggap tidak bekerja efisien. seperti standar ganda: orang lain tak boleh melakukan apa yang kulakukan. seperti bukan figur (calon) pemimpin yang pernah kukhayalkan dulu.

Some Decisions Are Just Hard To Make

There are some decisions that you might have to make in this life, and it would need very long time for anything to formulate. Life's decisions, about things that will affect a lot of aspect in your own life, can be very frightening to make. Your mind could be paralyzed by the fear, afraid of the imagined consequences. If you could, you just let someone else do all the weighing and the decision making. Even better, that person will proceed with all the actions needed and that person -- as long as it was not you -- will bear the consequences. Oh, if only life is that easy (for some people). So here I am in a group of people who wouldn't take any decisions, but hate the condition that they are living in. Which is not a happy nor healthy condition to live in. Yet, because of the fear, these people, and to some extent, me included, will be happily let other people to make decisions for us. All because of making decision is a horrible task/responsibility. I cannot blame peop...

Tidak Tahu? Sama!

Menjadi karyawan sebuah perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi dan jasa pemeliharaannya, membuatku bertanya pada diri sendiri: "Inikah yang kucari? Inikah posisi yang tepat dalam hidupku?" Dan yang lebih penting lagi: "Apakah aku puas dengan pencapaian selama ini?" Jawaban yang bisa kuberikan adalah: "Rasanya bukan. Sepertinya tidak." Dan, "Belum!" Aku masih mencari posisi dan peranku dalam hidup, apa yang bisa kuberikan pada diri sendiri, apa yang bisa kuberikan untuk orang lain. Sudah cukup berguna dan bermanfaatkan kiprahku di dalam perusahaan, bagi orang di sekitar, bagi orang yang kusayangi, untuk orang yang bahkan tidak pernah kutemui secara langsung. Seperti krisis diri - biarpun aku tidak sudi menyebutnya sebuah "krisis" karena akan terdengar seperti keadaan genting dan memaksa - yang berkepanjangan. Aku tahu apa pemicunya, di mana titik mulainya, dan samar-samar aku bisa bayangkan apa solusinya. Tapi un...

Nyasar Sampai ke Bandung Indah Plaza

Namanya juga hari Minggu, dimana seharusnya kita memanfaatkan waktu untuk beristirahat, tetapi niat (mulia) awalku adalah memperbaiki database pekerjaan yang seharusnya sudah selesai kulakukan sejak dua minggu yang lalu. Kalau kalian tahu seperti apa database-nya, mungkin kalian pun akan menunda pekerjaan itu seperti aku. Malah aku habiskan hari Minggu ini dengan tadi pagi membaca buku, lanjutkan makan siang selama dua jam lebih, dan kemudian sekarang malah jalan kaki sampai akhirnya mampir ke Bandung Indah Plaza dan minum kopi. Lalu iseng memfoto dan kemudian menulis blog (tentu saja update yang ini). Lalu ada sesi browsing- browsing yang tidak terlalu penting. Thinkpad X220, A Cup Of Americano, Shades. Seharusnya semuanya kalah penting dibandingkan dengan perbaikan database ini! Aku butuh database yang benar dan tepat, akurat dan update, karena dari situlah aku mendapatkan penghasilanku sebagai seorang kuli korporasi besar. Kadang aku suka mengacaukan prioritas. Bagaimana ...

Gossip...

Original shot Imaginary dialogue from Syaiful Sometimes, a simple snapshot can became a source of gossip, by just adding an imaginary dialogue...

"Jalani Saja..."

Beberapa teman memandang semuanya dalam hidup ini sebagai sesuatu yang cukup di-"jalani saja". Bukannya itu seperti apatis? Seperti sudah menyerah? Memangnya hidupmu segini saja? Sudah cukup memuaskan? Tetapi pertanyaan seperti itu, bila diucapkan, bisa menimbulkan salah paham. Terlebih karena kemampuan komunikasiku yang bisa dinilai tidak sensitif. Bagaikan robot. Biarlah. Robot keren. Lebih baik robot manusia daripada manusia yang seperti cacing.

Does Religion Need THAT Much "Proofs"?

A statue of Jesus oozing holy water? An Indian skeptic debunks miracle - Slate Magazine Do you have any regrets about intervening? Why would one not intervene when somebody gives gullible people sewage to drink? But my reason is broader. The promotion of superstition and belief in paranormal phenomena dulls people's minds and establishes dangerous misconceptions about reality in our society. Such efforts have to be countered. Why do people so readily believe in miracles? For many, the regressive belief in superstitions and miracles is an escape from the hardships of life. Once trapped into irrationalism, they become more incapable of mastering reality. It is a vicious circle, like an addiction . They become vulnerable to exploitation by astrologers, godmen, dubious pseudo-psychologists, corrupt politicians, and the whole mega-industry of irrationalism.

Menyenangkan Bersamamu...

Hari ini tentu saja kulewatkan bersama si cantik Linda! Selain janji bertemu di sebuah mal di selatan Jakarta, tujuan utamanya adalah menonton film karya sutradara Rusia-Ukraina (?) yang entah bagaimana, Linda bisa tertarik menontonnya. Anyway, sebagai hiburan semata, kurasa "Abraham Lincoln Vampire Hunter" tidak buruk. Meskipun berbeda dengan bukunya, yang sudah lebih dulu kubaca, tapi perbedaan klimaks dan ending cerita memang perlu. Lagipula screenplay-nya dibuat oleh si pengarang bukunya. Jadi aku tak punya alasan untuk protes. Yang penting, Linda terhibur. Dia tersenyum dan tertawa maupun merasa tegang selama pemutaran film. Untukku, itu saja sudah cukup. Dia terlihat cantik dalam dandanan dan pakaian yang sederhana. Aku suka. Sayang sekali hari ini tidak bisa memeluknya. Terlalu banyak orang di mal dan dia seperti lebih suka pegangan tangan saja. Yeah, setidaknya aku bisa membuatnya tertawa. Aku senang!

Selain Menjadi Robot, Ada Banyak Hal...

Yang seharusnya kuceritakan, kubagikan dalam blog ini, tetapi tidak kulakukan sampai sekarang. Kesibukanku menjadi pekerja yang hanya berorientasi pada uang telah menumpulkan kemampuanku berpikir dan menyusun kisah yang bisa jadi menarik. Ini sungguh mencemaskan dan berbahaya. Akhirakhir ini aku merasa pekerjaan yang kulakukan tidak sesuai dengan apa yang kuinginkan. Tetapi dengan motivasi "kejar uangnya", semuanya tetap kulakukan tanpa memikirkan dampaknya. Sekarang, sudah terasa. Aku bagaikan robot pekerja dalam sebuah pabrik raksasa dimana yang dinilai hanyalah seberapa banyak output per satuan waktu yang bisa aku lakukan. Menyedihkan. Di mana lagi kebanggaan pribadi ketika berhasil menyelesaikan sesuatu? Hilang sudah. Bagaikan robot pekerja yang melakukan segalanya dalam otomasi demi mengejar target sekian angka tapi sense of belonging tidak ada memang menyusahkan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau terus seperti ini: Akan jadi apa aku nanti?