Langsung ke konten utama

Postingan

Sangat Umum, Ringan, dan Aku Tak Merasa Ilmu Berinvestasi Bertambah

Ada kalanya membaca buku yang mengulas dasar suatu ilmu (pengetahuan), saat si pembaca (saya) sudah berada di tingkatkan yang lebih tinggi, berguna sebagai penyegar. Untuk mengulang lagi apa yang sudah pernah dipelajari tapi bisa saja terlupakan. Buku yang ditulis dengan menarik, menjelaskan hal dasar, tapi bermanfaat juga bagi kalangan yang masuk kelompok intermediate, jadi terasa bermanfaat.

Hotel K dan Pendapatku (Tentang Hidup)

Buku pertama tahun 2018 ini yang kuselesaikan membacanya. Tentang Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan di Bali dan kehidupan sehari-hari para penghuni dan sipir. Mendapatkan penjelasan dari sudut pandang penulis first world terhadap kondisi negara dunia ketiga. Kalau membaca narasi yang diberikan, sepertinya kesalahan para penghuni lapas di- downplay oleh penulis, sesuatu yang bagiku terasa mengganjal. Betapa berbedanya tabiat orang Indonesia yang digambarkan seperti banyak buruknya, dibandingkan para narapidana yang berasal dari mancanegara (Australia, Italia, Inggris, Perancis, Brazil, dan lainnya). Setiap ada kelakuan buruk warga negara asing yang dituliskannya, akan disandingkan dengan kelakuan lebih buruk warga negara Indonesia.

2018 And Such

New year and things look the same. Maybe because I am using the same way (or method) to look at things. Should have tried harder than last year which brought a lot of things changing, some for worse, some better. Again, doing things by myself made me learn at least a few new stuff. Analyzing events made me realize my limitations and shortcomings. Now I need to formulate a few solutions so that I can be a better version of me. Quite acceptable, isn't it?

Restorasi Vespa Yang Mana?

Jadi aku mengerjakan banyak hal tahun ini. Banyak kegiatan. Banyak target yang diupayakan tercapai. Salah satunya adalah melakukan restorasi Vespa yang aku punya. Ada hal lucu soal ini yang mungkin akan butuh beberapa posting agar bisa lengkap tersampaikan. Intinya, tahun ini aku berhasil melakukan restorasi skuter, seperti yang kujanjikan kepada diri sendiri beberapa tahun yang lalu. Masalahnya, skuter yang ku- restore ternyata bukanlah Vespa target awalku. It's a twisted episode, really. Semuanya hanya karena aku tak cukup cepat dan tegas dalam mengambil keputusan: mengirimkan Vespa pertamaku ke Bandung untuk dikerjakan. Sedih ya? Iya.

Prioritas

Bagaimana menentukan prioritas? Salah satu cara paling mudah, jadikan diri sendiri sebagai patokan. Misalnya saat hari ini, menunda makan selama 90 menit karena hendak menyelesaikan bagian pekerjaan yang menurutku saat itu cukup menyita waktu, penting, dan "tanggung nih!" Akibatnya ketika orang-orang lain sudah balik ke kantor dari istirahat siang hari, aku baru meninggalkan komputer dan menunggu lift di lobi. Terpikirkan olehku, kalau sampai sakit, mungkin karena maag, apakah ada orang di kantor yang akan begitu peduli dan bersedia menolongku termasuk menggantikan tugas di kantor selama aku tidak bisa beraktivitas? Rasanya jawabannya adalah: Tidak Ada! Menyusahkan orang lain karena aku tidak bisa hadir adalah sesuatu yang kuhindari. Prioritasku adalah kesehatan diri sendiri. Makanya harus makan teratur, cukup gizi, cukup istirahat. Kesehatan itu sangat berharga. Kesehatan diri sendiri itu paling utama. Prioritasku adalah memastikan aku tetap sehat.

Menjelang Tengah Malam

Sekarang sudah menjelang tengah malam. Di luar tidak ada bunyi apapun. Dalam kamar pun hanya ketukan jemari di atas tombol keyboard laptop. Pendar cahaya layar menerangi wajah tetapi tak mampu berbuat banyak terhadap kegelapan yang menyelimuti. Sudah cukup lama aku menghabiskan waktu mempelajari kode HTML5 yang kudapat dari hasil googling  beberapa detik. Mudah sekali untuk bekerja sampai lupa beristirahat. Ada banyak hal menarik yang bisa dan dapat dipelajari di luar sana. Ilmu yang berharga atau yang tak terlalu berharga tetapi menarik minat. Seandainya aku bisa lebih cerdas lagi , pikirku dalam hati. Tetapi tidak bisa juga berandai-andai seperti itu karena keterbatasan yang mustahil dilampaui. Yang bisa dan perlu dilakukan adalah menentukan prioritas dan bekerja menurut daftar kepentingan yang telah disusun itu. Mengatur waktu lebih baik, bekerja lebih cepat, konsentrasi lebih penuh, orientasi pada target yang ada. Menjadi profesional yang baik itu tidak mudah. Sampa...