Langsung ke konten utama

Postingan

Menyelidiki Kemungkinan Kemalasan

Kuakui kalau diriku ini punya sifat pemalas yang begitu besarnya, terkadang sampai aku tak mau bergerak dari tempatku saat itu biarpun kondisinya sudah tidak lagi sehat. Kemalasan yang mengganggu ini tidak baik. Terkadang bahkan aku lebih baik menahan haus (atau menahan rasa kebelet) karena malas untuk beranjak dari tempat duduk. Tidak baik, tidak sehat, memang. Tapi memang begitulah kalau sudah malas. Untuk berpikirpun sudah tidak mau. Seakan semua anggota badan menolak melakukan bagian mereka masing-masing. Tentu saja kebiasaan ini tidak boleh diikuti dan dituruti lebih lama lagi. Perlu dilawan! Analisis apa yang terjadi membuatku malas ini perlu dilakukan agar ditemukan cara untuk melawannya. Mari kita mulai! Besok...?

Mengatur Prioritas Hidup (Part 3)

(Lihat tulisan sebelumnya di sini  dan di sini ) Menjadikan diri sendiri sebagai prioritas kadang terlewatkan olehku. Mungkin terlewatkan olehmu juga. Menjadikan diri sendiri prioritas ini maksudnya dengan memperhatikan kebutuhan fisik dan psikis diri sendiri: makan teratur dengan menu yang sehat, olahraga teratur, istirahat cukup, dan lainnya. Tidak banyak yang sadar bahwa aset paling penting dalam menjalani hidup, terutama di Jakarta yang keras ini, adalah diri sendiri. Kita bisa saja menganggap hidup tahan banting  itu sebagai sebuah badge of honor , sebagai sesuatu yang layak dibanggakan. Padahal kita semua salah bila memperlakukan diri sendiri bagai sansak. Tubuh dan pikiran memang perlu dilatih dan diberikan ujian tetapi bukan berarti menyiksa diri tanpa ada masa perawatan dan pemulihan, atau bahkan masa memanjakan diri sendiri (secara terbatas tentunya). Ketika menyusun prioritas hidup, kita membuatkan daftar hal-hal yang tangible  untuk diraih: Keluarga. A...

Integrasi Kemampuan Personal - Sebuah Upaya Peningkatan Skill

Akhirnya berbagai macam software yang biasanya aku hanya sekedar tahu atau pernah lihat mulai berkelindan yang berarti aku harus bisa membuat sebuah workflow yang seamless dengan berpindah antar program dan aplikasi yang berbeda. Kebutuhan monitoring and reporting yang melibatkan berbagai macam departemen berbeda divisi tentu tidak mudah. Menyatukannya dalam sebentuk laporan yang mudah dipahami user  itulah tantangannya. Aku harus mengolah data progress pekerjaan, pengecekan terhadap kondisi rencana lapangan dan gambar rencana, membuat analisis dan summary disajikan secara berkala itulah yang perlu aku pelajari. Ada aplikasi peta seperti QGIS dan Google Earth Pro yang gratis, progress  kerja yang disimpan dalam spreadsheet Microsoft Excel, organization chart  di Microsoft Visio, surat tugas kerja dan lainnya di Microsoft Word, tampilan report dalam presentation slide Microsoft Powerpoint. Oh ya tentu saja untuk pekerjaan yang kompleks, membuatnya dalam sebuah monitori...

Mengatur Prioritas Hidup (Part 2)

Sebelumnya aku pernah bercerita tentang prioritas hidupku yang tidak jelas karena ketika orang-orang lain berangkat untuk hobi, aku masih tetap ada di kantor untuk bekerja. Tidak enak melihat ketika rombongan teman-teman berjalan keluar kantor untuk menjalankan aktivitas bukan kerja, aku masih tertahan di kantor. Sekarang di tahun 2019 ini aku berniat untuk mengubah itu semua! Tidak bisa lagi hanya berkutat dengan pekerjaan lalu pulang dari kantor dalam keadaan lelah tidak bertenaga untuk mengerjakan hobi atau belajar hal baru. Aku harus menentukan prioritas dalam hidupku demi kebaikan dan pengembangan diri. Menjadi orang yang lebih baik dan lebih kaya, sepertinya enak. Dengan lebih kaya, aku punya kemampuan membayar biaya jasa orang lain agar aku lebih banyak waktu luang untuk melakukan aktivitas peningkatan diri. Tapi sekaya apa yang aku mau dan incar? Sama seperti doa, membuat target juga harus spesifik dan breakable dalam detail yang achieveable. Semakin diperhatikan ...

berbuat dan berbuah - bagian 2 : pendalaman

Sekitar dua minggu yang lalu, sudah kujelaskan konsep awal berbuat dan berbuah  yang kupahami dan kucoba praktekkan. Jadi sebagai kelanjutannya aku bahas singkat di sini. Berbuat adalah melakukan tindakan yang tepat dan terbaik berdasarkan informasi yang tersedia saat itu. Pertimbangan yang dilakukan adalah semacam WWJD -- What Would Jesus Do? -- atau patokan ke figur baik sesuai kepercayaan dan pemahaman saat itu. Paling baik dan paling benar yang bisa dilakukan saat itu perlu penekanan karena evaluasi  much later down the road  tidaklah tepat bila ada tuding-menuding kesalahan. Ingat, hindsight bias  itu nyata adanya dan tidaklah benar jadi patokan menghukum. Misalnya saya membeli barang pada harga X dan sebulan kemudian harganya menjadi X minus 10 poin, apakah saya salah? Bisa iya, bila pada saat mengambil keputusan membeli tidak didasari analisis memadai. Bisa tidak, bila dasar pengambilan keputusan sudah memadai dan perlu diingat, tak seorangpun yang be...

berbuat dan berbuah - bagian 1: pada awalnya...

tidak mudah untuk melakukan kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan, tetapi seperti itulah yang diminta oleh tokoh yang pernah berjalan di muka bumi ini sekitar dua milenia yang lalu. awalnya aku berpikir untuk menjadikan update blog ini sebuah renungan rohani tetapi untuk kebaikan diriku sendiri sebaiknya tidak usah berbicara soal religiusitas diriku sendiri. aku tidak merasa sebagai orang beriman yang baik dan taat pada aturan dalam agama jadi berbicara tentang ini terasa tidak tepat. jadi aku ubah konteks "berbuat dan berbuah" menjadi sebuah refleksi diri untuk perbaikan yang tidak terkait dengan religiusitas manusia atau hubungan dengan suatu higher being  sama sekali.  berbuat semasa hidup tak mungkin tidak berbuat apapun. melakukan tindakan yang ada konsekuensinya. memilih yang ada. kalkulasi lalu mengambil keputusan yang berimplikasi pada masa depan. semuanya bisa terasa acak namun ketika melihat ke belakang beberapa waktu kemudian mungkin terpikirkan, ...

Melibatkan Diri Dalam Permasalahan Yang Ada - (Bag. 4 - Evaluasi)

Dalam tulisan sebelumnya di sini tentang pemaksaan kondisi dan posisi, dengan mempertimbangkan pula tentang keterpaksaan untuk melibatkan diri secara terbatas dan terukur di sini , tidak bisa tidak memang harus rutin melakukan evaluasi atas reaksi yang muncul dan benefit  atau loss  yang muncul. Justru bila tak melakukan evaluasi, bagaimana kita bisa mengkonfirmasi bahwa tindakan melibatkan diri sendiri itu baik dan bermanfaat serta perlu dilanjutkan, atau sebaiknya dihentikan saja dan dilupakan. Dikuburkan? Iya, terdengar aneh memang, ketika sebelumnya aku menyarankan untuk melibatkan diri dalam permasalahan yang ada tetapi pada tulisan ini aku meminta untuk ingat dan menahan diri. Tidak konsisten kalau kata orang, seperti yang pernah kubahas di sini . Perlu perbaikan diri dan kontrol emosi kalau mau tetap menjaga faktor keberuntungan dari interaksi dengan orang lain. Aku memang belum bisa menjabarkan dengan sederhana tapi akurat karena kemampuan membahasakan sesuatu hal ...