Langsung ke konten utama

Postingan

kontrol emosi sendiri

  menjalani hidup yang datar saja? tidak menarik! naik turun kehidupan itu perlu. apalagi kalau ada yang bisa dipelajari dari pengalaman pribadi. atau tidakpun, mendapatkan informasi pengalaman orang lain, analisis, dan tentukan mau melakukan apa. jangan sampai tidak mengakui atau tak menyadari bahwa tanpa bantuan orang lain, diri ini tidak akan bisa sampai di sini. jadi, kontrol emosi sendiri, karena aku butuh orang lain biarpun mungkin orangnya tak kusukai. ubah parameternya, ganti threshold  nya, bukan sekedar rasa tak suka. tetapkan nilai yang berharga, misalnya integritas pribadi lawan bicara. biarpun gaya bicaranya menjengkelkan, tapi kalau true to her words , tidak ingkar janji, ya kontrol emosi dan tidak perlu sampai meng- write off  orangnya sebagai sesuatu yang buruk. offendedness itu lebih besar porsinya dari diri sendiri.

memandang masa lalu, masa kini, dan masa depan

Sebagai orang yang tidak mungkin melakukan perjalanan waktu dan mundur ke masa lalu untuk mengubah sesuatu (keputusan yang diambil, peristiwa yang terjadi, etc.), atau melompat ke masa depan untuk melihat apa yang terjadi atas keputusan yang diambil, aku menghabiskan terlalu banyak waktu berkhayal dan berandai-andai. Biarpun aku tahu ini tidak baik, tetapi tetap saja aku lakukan tiap kali aku ada waktu luang atau semacam down time  di dalam kepala. Seperti semacam habit  yang buruk tetapi adiktif, aku ketagihan. Memandang masa lalu dan berandai-andai melakukan B dan bukannya A. Memilih membeli C dan D daripada menghabiskan semuanya ke E. Semacam itulah, permainan dalam kepala yang berisi penyesalan dan mengutuki diri sendiri. Merusak sekali tapi memang nagih . Masa kini yang tidak dirasa optimal dan cukup memuaskan memang tidak enak, lalu tentu saja, ketakutan akan masa depan yang tidak jelas. Ini sangat amat merusak ketenangan hati dan pikiran. Bisa membuat sakit. Seharusnya ...

lalai dalam memberikan update

  rasanya tidak ada yang membaca tulisan di sini. metrik dari google analytic juga menyatakan hal yang sama. nobody read blogs anymore.  entah kenapa aku masih mengisi kabar baru sumpah serapah dan pikiran yang membuncah di sini. tidak ada yang datang karena sudah tak ada yang peduli tulisan seperti ini. sialnya, kemampuanku saat ini masih sebatas ini saja, keluh kesah semi-anonim di ruang maya tanpa ada yang mendengar (atau membacanya). sudah malam dan semua orang sepertinya memutuskan untuk tidur kecuali aku yang malah menyeduh air panas lalu membuat secangkir kopi. aku lalai dalam membuat update  mungkin karena dari dalam ada pikiran bahwa yang kubuat ini hampir pasti sia-sia. aku menulis agar ada orang lain yeng membaca tetapi ternyata kenyataan menunjukkan bahwa kumpulan huruf seperti ini sudah tak lagi menarik. apa mau kita sudahi saja blog ini?

kata orang, bagikan pengalamanmu!

 Setelah malang melintang dalam beberapa akun media sosial yang (pernah) ada, kesimpulan yang kudapatkan untuk menambah pengikut adalah sederhana: Bagikan pengalamanmu! Misalkan dalam belajar hal baru membangun sebuah perahu. Biasakan mendokumentasikan sebanyak mungkin hal yang dilakukan dan keputusan-keputusan yang diambil sampai akhirnya produknya selesai dan dapat ditampilkan ke umum atau sekedar dinikmati pribadi. Mengapa perlu membagikan pengalaman? Karena mungkin saja dalam waktu yang sama, ternyata satu atau beberapa orang lain sedang melakukan hal yang sama, dalam beberapa variasi berbeda. Bila ternyata orang lain itu mempelajari (misalnya) kesalahan-kesalahan yang kulakukan dan setelah itu mencoba mewujudkan yang sama sambil meminimalisir dampak merugikan yang mungkin terjadi, sebenarnya itu adalah net positive  untuk banyak orang. Tentunya di kemudian hari aku ketemu iterasi lebih baik yang dilakukan orang itu, lalu aku mencoba mendapatkan tujuan dengan mengubah tata...

menjaga tetap di arah yang benar

 menjalani hidup tentu harus ada arah dan tujuan agar tidak menjadi pribadi yang terombang-ambing tak jelas mengikuti arus saja. tidak baik dan tak sehat dalam jangka panjang kalau hanya bermental "terserahlah, ngikut saja..." kelihatannya akan lebih mudah hidup seperti itu tetapi pada akhirnya akan hidup dalam rasa menyesal kenapa tidak melakukan sesuatu. siapa juga yang mau hidup panjang umur sampai tua tapi dalam rasa penyesalan karena tidak melakukan satu hal atau hal lain karena berkepribadian risk averse ? bayangkan menghabiskan hari tua dengan berandai-andai kalau dulu melakukan xxx dan bukannya duduk manis jadi orang baik dan tak mau kecipratan getah orang yang makan cempedak ( very random local saying being paraphrased, i know ). jadi mari kita melakukan satu hal dan/atau hal lain setiap hari setiap saat, mengambil keputusan sendiri dan bukan menyerahkan segalanya kepada orang lain atau bagaimana situasi. hidup untuk diri sendiri. susah senang konsekuensi dari keputu...

masalah "kecil" dengan lingkar perut yang membesar

  jadi ini sudah menjelang pukul sepuluh malam dan besok adalah hari Senin. aku baru saja menghabiskan dua potong pisang goreng buatan mertua. lalu masih ada antrian pisang buah yang terlepas dari sisirnya sehingga sebaiknya segera "diamankan" daripada rusak karena terkena udara. bukan berarti rusak membusuk kalau dibiarkan sampai besok tetapi lebih ke tampilan kosmetik saja, mencoklat karena oksidasi tidaklah cantik dilihat. lalu aku memandang ke bawah dan tersadar bahwa bagian selangkanganku terutup oleh perut yang semakin menonjol ke depan. tidak, aku tak bisa hamil karena tidak punya uterus. berarti ini adalah: lemak di perut. ya, aku tersadar kalau lingkar perutku semakin membesar karena timbunan lemak di sekitar pinggang dan turun ke pinggul. masalah yang tadinya kuanggap kecil sekarang sudah membesar menjadi tak karuan dan mulai membuatku takut kalau aku akan tiba-tiba jatuh sakit akibat kebanyakan lemak! kalau sampai jatuh sakit yang terdampak dari salah satu tandanya...