Langsung ke konten utama

Postingan

Body. Terrible.

My body just feel terrible. Maybe that's because I spend my day, the whole day, by sleeping and eating and sleeping again. I avoid thinking because that would make me feel dizzy. I try not to wake too lomg because my body felt weak. I eat just that much to not making me woke up from sleep feeling hungry. Also just drink water enough not to wake up because of full bladder but in the same time not to be dehydrated. In short, sloth. Which was a very bad decision from my part because now I felt guilty of wasting such a perfect weather outside, and thinking that tomorrow I might be dead because of heart attack. I might be. The heart attack. Been such a long time since the last time I did serious workout. Now I sport a flabby stomach, very short breath, and shameful stamina. Very unhealthy and not attractive at all. Why not I change? I need to. Because if I did continue like this, it would be better if I buy a gun and kill myself instantly than to suffer slow torturous death. I...

Jadi Tua Itu Pasti, Jadi Dewasa Itu Pilihan, Jadi Mandiri Itu Puncak Keberhasilan

Ada banyak hal yang membuatku merasa terasing di sini. Salah satunya karena perbedaan nilai yang dianut. Misalkan dalam hidup sehari-hari di mana orangtua masih berperan besar dalam hidup. Bagiku, seorang dewasa ( adult ) seharusnya tak lagi hidup menumpang orangtua, makan di rumah, pakaian dicuci oleh orangtua atau asisten rumah tangga yang digaji oleh orangtuanya, masih mendapatkan uang saku rutin dari orangtuamu, dan hal lainnya yang menunjukkan bahwa kehidupanmu sebagai seorang dewasa masih di-"subsidi" oleh orangtuamu. Mungkin dengan sangat terpaksa aku akan memberikan pengecualian bagi orang yang bahkan setelah bekerja lebih dari dua belas bulan masih belum cukup penghasilannya untuk bisa keluar dari rumah orangtua. Atau setelah keluar pun masih mendapat sokongan untuk bisa hidup sehari-hari karena sebagai orang gajian, mendapatkan upah di bawah standar hidup layak sehingga tiap bantuan yang bisa diberikan akan diterima dan digunakan sebaik-baiknya. Tapi aku bicara t...

Jujur Itu Tak Mudah

Tak ada yang bilang bahwa hidup akan lebih mudah bila dijalani dengan jujur. Soalnya ada banyak hal yang membuat seseorang tidak berlaku jujur. Misalnya ketika seorang pria ditanyakan oleh pasangannya, "Apakah aku bertambah gemuk?" Selain itu dalam pergaulan sehari-hari, saat berkata jujur malah akan berakibat dianggap tidak sopan oleh si penanya atau pihak yang mendengar percakapan tersebut. Alih-alih bicara apa adanya, seseorang malah menggunakan eufemisme untuk menutupi jawaban sebenarnya, hanya agar si penanya tidak tersinggung. Yang lebih besar lagi skala tidak jujurnya adalah menggunakan berbagai dalih untuk menutupi tindakan asli yang sebenarnya bisa saja dikategorikan tercela atau setidaknya, tidak etis. Dalam spektrum yang berbeda, tindakannya termasuk ilegal. Misalnya seorang pemimpin organisasi berlabel agama yang tak bisa membayar cicilan kredit kendaraan bermotor, yang ketika debt collector datang untuk menyita kendaraan, malah dihadapi dengan ancaman bahwa mod...

Live With Your Own Hands

You have hands, two of them. Why not create something that you can appreciate? You are able-bodied young man, why not build something tangible and would last? Why spend so many times in front of computer, doing things for big companies, making/processing/analyzing datas that in one or two months from now, no one will use anymore? Why spend minimum twelve hours in an office and most of the time you would come home with nothing to be proud of, nothing to be showed to? Where's dignity in that? Self-respect? Where's the satisfaction? I know this current project is not easy. It's complex and is high stake for a lot of people. And with that came the clases, issues, bickerings and stress. But you got to kjow your capacity, your depth of character, your ingenious way of solving problems, seeing opportunities, and act upon them. You push yourself hard to achieve any and all target that were set upon you on daily, weekly, monthly, basis. You take them all and work real hard bec...

Pelupa Atau Sudah Pikun?

Aku kehilangan blog awalku. Dulu sekali, zaman yang namanya friendster pernah berjaya, aku cukup rajin menulis di blog section -nya. Segala hal kutulis di situ, dari yang umum, sentilan ke orang-orang yang tak kusebutkan namanya, bahkan sampai curahan perasaanku yang kalau dipikir sekarang, bersifat SANGAT pribadi. I don't know what was I thinking at that time to upload such stories that all people can read about! Mungkin namanya awal zaman social network  baru mulai, masih dalam tahap mencoba, tak terpikirkan untuk membuat alternative account  yang cenderung anonim kalau mau menuliskan hal-hal yang kalau dibaca sekarang mungkin akan memalukan. Tetapi aku harus akui bahwa semua itu bagian dari perkembanganku dalam berinteraksi di dunia nyata, dunia maya, dan perkenalan dengan media sosial : apa yang boleh, tak boleh, atau pantas untuk dibagikan ke orang lain. Hell, a lot of people learning at that time how to deal with social media and its dynamics.  Peraturan bersosi...

Should I Be Worry?

I have thought that being in-between jobs would be interesting enough because I would then have time to do what I wanted, personal projects and pursuing hobby. But then I read about dire condition in the Europe and United States, about young people being jobless or must take underpaying work just to get barely independent. Some are even moving back to their parents' house or living rent free with their friends. People with higher education degree compete for jobs that were previously offered to immigrants who would accept lower salary. Here I thought that it would be always sunshine and happy yet I know in some corner of my mind that that wouldn't be so. Should I be worry? Of course I should. The more time I spent being unemployed, the more chance that I wouldn't get a follow up for job interview after sending out my resume. Even more risk because I lived in Indonesia, where competition is actually fierce and employers can be very picky because there's more peop...

Bantuan Untuk Menjadi Dewasa?

Ada yang pernah bilang kepadaku bahwa bila tak bisa mengontrol emosi, misalnya saat menghadapi orang yang menyinggung perasaan kita, tanda bahwa aku belum dewasa. Seorang yang telah dewasa, sewajarnya bisa bertindak tepat sesuai situasi, dapat mengontrol emosi, terlebih lagi bila ekspresi yang akan dikeluarkan ke orang yang dihadapi, berpotensi merugikan diri sendiri. Sulit, memang, jadi dewasa. Sampai sekarangpun aku masih banyak belajar mengelola emosi dan seringnya, amarah. Apakah ada tempat berlatih yang sesuai untuk kebutuhan ini? Soalnya aku sadar bahwa seringkali ungkapan perasaan yang spontan kukeluarkan, berujung pada penyesalan diri sendiri. I shouldn't do that. Seperti itulah yang kupikirkan setelah ditinggal sendiri dengan pikiranku. Biasanya aku analisis peristiwa yang terjadi, apa reaksi lawan bicaraku, apa reaksiku, dan apa yang sebenarnya bisa kulakukan agar hasil akhirnya menguntungkan diriku dan syukur-syukur, juga menguntungkan lawan bicara itu. Memang ...